Sorot Merah Putih, Jakarta – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, media sosial diramaikan dengan seruan untuk mengibarkan bendera bajak laut dari manga dan anime One Piece.
Seruan ini disebut sebagai bentuk ekspresi kekecewaan atas kondisi bangsa, namun memicu kontroversi luas hingga menuai respons dari pemerintah dan parlemen hingga aparat Kepolisian.
Untuk diketahui, Pemerintah Dunia dalam One Piece seringkali menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkan perbedaan pendapat, bahkan yang kecil sekalipun.
Bendera fiktif yang dikenal sebagai “Jolly Roger” -berlatar hitam, bergambar tengkorak putih bertopi jerami-menjadi simbol yang viral digunakan sebagai foto profil warganet, bahkan beberapa sudah dikibarkan di ruang publik di berbagai daerah per Minggu (3/8/2025).

Gerakan ini, menurut lembaga pemantau media sosial, merupakan aksi organik dan tak dimobilisasi secara terpusat.
Berikut Sorot Merah Putih merangkum ragam tanggapan terkait fenomena pengibaran bendera bajak laut dari manga dan anime One Piece yang disandingkapn dengan bendera Merah Putih;
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Budi Gunawan menilai pengibaran bendera tersebut sebagai bentuk provokasi yang melecehkan simbol negara.
“Sebagai bangsa besar yang menghargai sejarah, sepatutnya kita menahan diri dari penggunaan simbol yang tidak relevan dengan perjuangan bangsa,” tegas Budi, seraya mengingatkan konsekuensi hukum sesuai UU Nomor 24 Tahun 2009 jika kehormatan bendera Merah Putih direndahkan.
Pemerintah, kata Budi, tidak mempersoalkan kreativitas masyarakat selama tidak melanggar hukum.
“Namun jika ditemukan unsur kesengajaan dalam menyebarkan narasi tersebut, pemerintah siap menindak tegas,” ucapnya tegas.
Respons berbeda datang dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta agar polemik tidak dibenturkan dengan simbol negara.
“Ada upaya pecah belah karena banyak generasi tua tidak memahami konteks One Piece,” ujar Dasco.
Dasco menekankan bahwa bendera Merah Putih tetap satu-satunya simbol nasional yang dikibarkan saat 17 Agustus nanti.
“Mari rayakan kemerdekaan dengan semangat persatuan,” serunya.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra itu juga meminta agar tidak ada upaya mendiskreditkan penggemar One Piece dengan narasi bahwa bendera tersebut merupakan simbol makar atau bentuk upaya menjatuhkan pemerintah. Sebab, hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Dianggap bendera tengkorak itu bendera separatis, padahal itu manga yang sudah puluhan tahun tumbuh sama generasi muda kita. Ini salah satu staf saya anaknya sudah tiga, dia juga bilang dirinya Nakama,” ucap Dasco.
Dasco menegaskan bendera Merah Putih tetap menjadi satu-satunya simbol nasional yang dikibarkan dalam peringatan 17 Agustus nanti.
Dia berharap peringatan kemerdekaan RI dirayakan dengan kegiatan-kegiatan yang menyatukan bangsa.
“Hal ini sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Mari kita rayakan kemerdekaan dengan penuh semangat persatuan dan kebangsaan,” tegas Dasco.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto juga menilai fenomena ini sebagai bagian dari ruang ekspresi demokratis.
“Selama tidak anarkis dan tidak melanggar hukum, ini adalah bentuk refleksi terhadap perjalanan bangsa,” kata Bima.
Namun, Wamen Bima mengingatkan agar Merah Putih tetap berkibar paling atas sebagai lambang negara.
Fenomena ini bahkan menjadi sorotan media internasional. Screen Rant, media hiburan asal Kanada, menyebutnya sebagai salah satu kontroversi paling unik terkait fenomena yang terjadi di Indonesia itu merupakan kontroversi yang paling aneh yang melibatkan bendera Jolly Roger dari Topi Jerami (Straw Hat).
Mereka menilai simbol ini punya makna mendalam dalam narasi perlawanan terhadap ketidakadilan dan sistem yang represif-tema yang menjadi inti cerita sang tokoh utama, Monkey D. Luffy, dalam melawan Pemerintah Dunia fiktif.
Menurut para analis budaya pop, penggunaan simbol fiksi seperti bendera One Piece mencerminkan strategi komunikasi baru: menyisipkan kritik sosial-politik melalui elemen populer yang mudah diterima generasi muda.
“Simbol ini mungkin fiksi, tapi resonansinya nyata. Ia mencerminkan perasaan terpinggirkan dan harapan atas perubahan,” ujar seorang pengamat budaya digital.
Sementara itu, Polda Banten akan mengambil tindakan tegas kepada warga yang sengaja mengibarkan bendera One Piece pada peringatan HUT Ke-80 RI.
Meski kontroversial, fenomena ini menandai kuatnya pengaruh budaya pop dalam ruang ekspresi publik-bahkan dalam momen nasional seperti HUT Kemerdekaan.
Dalam negara demokratis, kritik sosial bisa disampaikan dengan berbagai cara, namun tetap harus menghormati simbol negara yang menjadi identitas bersama. Mengedepankan dialog, bukan provokasi, adalah jalan terbaik untuk menjaga persatuan sembari menyuarakan aspirasi.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














