• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Selasa, Juli 14, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Dunia Telah Berganti Rupa Entah Untuk Kemenangan Siapa

Oleh: Marlin Dinamikanto

Redaksi oleh Redaksi
9 Juli 2025
di Opini
Waktu membaca: 7 menit lebih
A A
0
{"data":{"pictureId":"616ec7e3279e496293ed46e4c91f426c","appversion":"6.6.0","stickerId":"","filterId":"","infoStickerId":"","imageEffectId":"","playId":"","activityName":"","os":"android","product":"retouch","originAppId":"7356","exportType":"","editType":"","alias":"","enterFrom":"enter_launch","capability_key":[],"effect_type":"tool","effect_id":"tool"},"source_type":"hypic","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"awgvo7gzpeas2ho6","template_id":"","filter_id":[],"capability_key":[]}"}

{"data":{"pictureId":"616ec7e3279e496293ed46e4c91f426c","appversion":"6.6.0","stickerId":"","filterId":"","infoStickerId":"","imageEffectId":"","playId":"","activityName":"","os":"android","product":"retouch","originAppId":"7356","exportType":"","editType":"","alias":"","enterFrom":"enter_launch","capability_key":[],"effect_type":"tool","effect_id":"tool"},"source_type":"hypic","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"client_key":"awgvo7gzpeas2ho6","template_id":"","filter_id":[],"capability_key":[]}"}

Sorot Merah Putih – Sejak James Watt menemukan mesin uap pada pertengahan Abad 19 energi fosil digunakan secara besar-besaran oleh umat manusia, baik sebagai penggerak mesin-mesin pabrik, alat transportasi, penerangan, tenaga listrik, dan lainnya.

Kuda yang berabad-abad melayani kebutuhan transportasi manusia segera pensiun setelah Ford dengan sistem produksi ban berjalan memproduksi kendaraan bermesin dalam jumlah yang masif, diikuti oleh produser-produser mobil lainnya, termasuk Daimler produksi Jerman yang sejak awal menjadi pesaing dalam pengembangannya.

BacaLainnya

MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Bukan hanya moda transportasi yang berubah total. Pabrik-pabrik yang semula menggunakan tenaga manusia atau hewan diganti dengan munculnya penemuan mesin-mesin baru yang jauh lebih cepat dalam memproduksi barang dibandingkan waktu sebelumnya. Skala produksi menjadi lebih massif dan mengubah kebiasaan manusia dalam banyak hal.

Tenaga manusia yang serba manual dengan teknologi ala kadarnya lambat laun terkikis. Alat tenun tradisional lambat laun tersingkir masuk senthong sejarah. Begitu juga dengan alat cetak manual, seperti mesin stensilan yang masih bertahan hingga dekade 1980-an.

Sedangkan mesin modern terus berinovasi secara digital yang membuat hancurnya pusat-pusat produksi lama, dan terakhir kali dengan perkembangan teknologi informasi yang canggih membuat sejumlah percetakan modern pun gulung tikar.

Setelah majalah legendaris News Week tidak lagi terbit pada awal 2000-an kini sebagian besar media cetak pun tamat riwayatnya.

Namun ketika mesin berbasis energi fosil berkembang secara massif di muka bumi dunia dikejutkan oleh perubahan iklim yang ekstrim. Isu lingkungan yang kadang ditunggangi oleh kepentingan dagang negara-negara kapitalis lama lambat laun menjadi perbincangan dunia.

Dengan kata lain , langit yang semula cerah di Abad Kuda Gigit Besi mendadak muram tersiram limbah pabrik dan transportasi. Energi fosil yang dalam pembakarannya memang menghasilkan polutan yang sepanjang Abad XX menginfeksi lapisan ozon.

Sejak itu isu lingkungan hidup yang diteriakkan para aktivis lingkungan hidup menjadi pembahasan penting para pemimpin dunia.

Pemanasan Global

Di penghujung Abad XX perangai cuaca berubah ekstrim. Puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan di Bulan Juni” yang semula terkesan mengada-ada menjadi kenyataan. Batas musim kemarau dan penghujan tidak jelas. Tidak harus menunggu Oktober hingga Maret. Kapan pun hujan bisa datang. Disertai banjir bandang yang membuat dunia acap kali berduka akibat keserakahan segelintir manusia yang ingin meraih laba sebanyak-banyaknya dengan tempo yang secepat-cepatnya.

Baca Juga  Kebebasan Pers, Governance dan Transparansi Program MBG

Suhu bumi meningkat drastis. Hutan yang mestinya memproduksi oksigen ditebang habis. Paru-paru bumi terluka parah. Hampir tidak bisa disembuhkan oleh sekedar himbauan lewat protokol-protokol lingkungan yang diinisiasi oleh PBB – hanya menjadi catatan yang ditulis di atas air.
Global Climate Change hanya dianggap pernyataan menjengkelkan aktivis kurang pekerjaan yang mengganggu pertumbuhan.

Semangat jaman yang mendewakan developmentalism bermutasi menjadi beragam jenis kapitalisme yang semakin brutal memangsa apa saja kebutuhan manusia yang disediakan oleh alam.

Setelah hutan habis, minyak terkuras, dan produktivitas tanah menurun akibat revolusi hijau yang meniscayakan penggunaan peptisida dan pupuk kimia besar-besaran, pertumbuhan sektor riil stagnan, gejala deindustrialisasi tampak dimana-mana, pemburu riba mulai mengakali sektor finansial sehingga pertumbuhan tanpa kaki itu terus menggelembung dan meletus lewat hancurnya secondary market sektor properti di Amerika Serikat pada 2008.

Padahal sejarah telah mengingatkan, early capitalism era Revolusi Industri telah memicu krisis ekonomi dan politik berkepanjangan pada awal Abad 20 – bahkan melahirkan Perang Dunia I dan II sekaligus lenyapnya Kolonialisme. Namun semua itu tidak pernah dijadikan pelajaran yang berharga bagi sejarah manusia.

Sejarah kelam itu selain melahirkan penderitaan di lingkungan kelas pekerja, kapitalis gurem dan pekerja informal era yang disebut Bung Karno Malaise itu juga melahirkan berkah tersembunyi bagi negeri-negeri seberang lautan (jajahan). Isu pembebasan (freedom), kedaulatan (Sovereignity) dan Social Justice berkembang di kalangan borjuis terdidik boemi poetera.

Pandemi Virus Mematikan

Pada era krisis kapitalisme generasi pertama, sebenarnya Bumi sudah mengingatkan manusia. Partikel-partikel asing dari limbah revolusi industri niscaya bermutasi menjadi virus berbahaya (common sense saya saja misal karena tidak tertibnya pembuangan limbah). Mungkin saja ditemukannya virus berbahaya di Spanyol pada tahun 1918) terkait erat dengan perubahan alam yang begitu cepat.

Bumi pun mulai melakukan pembersihan lewat virus mematikan yang ditemukan di Spanyol pada tahun 1918. Cara penanganannya juga mirip dengan serangan Covid yang pertama kali muncul di Wuhan pada Desember 2019. Yaitu jaga jarak dan penggunaan masker.

Perubahan besar-besaran partikel yang membungkus lapisan bumi pasti sudah terjadi pada saat serangan virus 1918 (saya tidak tahu statusnya Pandemi atau bukan) meskipun tidak separah kerusakan pada akhir Abad XX ketika negara-negara yang baru merdeka berusaha mengejar ketertinggalan dengan melakukan industrialisasi besar-besaran.

Padahal di negara-negara yang kata Soekarno “Oldefos” dampak revolusi industri telah merusak daya dukung lingkungan. Menciptakan beragam krisis yang berujung meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Marshal Plan memang bisa memulihkan wajah Eropa dan Jepang menjadi sedigdaya sekarang. Tapi apakah daya dukung lingkungan mulai diperhitungkan oleh para pemburu laba?

Baca Juga  Kenang Mendiang Effendi Saman: Sosok Pengacara-Aktivis yang Mengabadikan Diri untuk Kaum Tertindas

Mereka adalah thesis. Anti-thesisnya adalah generasi baru yang lahir setelah Perang Dunia II yang sebagian mulai sadar tentang alam di sekiranya. Generasi baru ini mulai mengorganisir diri dengan tagline back to nature dengan segenap isu turunannya. Kesadaran lingkungan – meskipun mungkin hanya gula-gula – mulai masuk ke pemerintahan. Menteri Lingkungan Hidup meskipun tidak dianggap penting-penting amat namun di Indonesia sudah ada sejak 1980-an.

Yang jelas, Kapitalisme dengan jargon Stabilitas dan pertumbuhan, makin menjauh dari filosofi dasar tangan tak terlihat Adam Smith. Berbagi kemakmuran mungkin terjadi di negara-negara kapitalis generasi pertama yang maju melalui mekanisme pajak. Namun tidak terjadi di negara-negara berkembang yang pada umumnya korup.

Bahkan muncul pula istilah Ersatz Capitalism yang dikenalkan Kunio Yoshihara untuk memotret gejala tumbuhnya kapitalisme seolah-olah yang diorkestrasi para pemburu riba. Mereka patgulipat dengan kepala pemerintahan dan angkatan bersenjata untuk menjarah sumber daya alam suatu negara yang baru beberapa tahun merdeka.

Lingkungan hidup semakin hancur di samping terjadinya kekerasan di lingkungan masyarakat adat, petani, buruh dan lainnya dalam konflik penguasaan SDA maupun hubungan industri yang membuat wajah kapitalisme tampak serakah, brutal dan berdarah-darah. Dari sana muncul isu demokratisasi, hak azasi manusia dan lingkungan hidup (era 1990-an). Terlebih setelah tumbangnya Uni Soviet, Amerika Serikat yang dianggap sebagai Leviathan Demokrasi tidak bisa lagi berlindung di balik jargon kebebasan untuk menopang rezim korup, despotik dan bobrok yang selama ini menjadi sekutunya
Global Climate Change dan protokol-protokol lingkungan hidup yang diprakarsai PBB tidak menghentikan tabiat brutal kapitalis yang di awal Abad ke-21 membuai dunia dengan jargon share prosperity (berbagi kemakmuran) lewat pemberlakuan free trade area secara berkala dari tingkat regional, kawasan hingga global.

Bangkitnya Populisme

Pada dekade awal abad milenial yang mengalami revolusi teknologi digital ini pula globalisasi dianggap kitab suci oleh para pemimpin dunia sekaligus merisaukan sebagian besar masyarakat yang cemas tergilas persaingan global. Populism pun mendapat tempat yang memukau di lingkungan orang kebanyakan dan bergerak dari kelompok pinggiran ke arus utama. Tahun 2017 pun ditahbiskan sebagai Year of Populisme.

Di tengah tajamnya pertentangan yang seolah difasilitasi oleh media sosial – atau kebenaran yang berangkat dari ilmu pengetahuan dikalahkan oleh prasangka dan ada pula yang menyebut Post Truth – tiba-tiba dunia dikejutkan serangan Covid-19 yang cepat mewabah ke penjuru dunia. Capitalism seolah terdiam sejenak – saya tidak tahu apakah sedang mengheningkan cipta, merancang strategi recovery atau sedang “mati gaya”. Tapi yang jelas langit yang setiap hari disiksa gas beracun untuk sementara dapat bernapas lega.

Baca Juga  Dari Soekarno ke Prabowo: Indonesia Kembali Bicara di Panggung Dunia

Perubahan besar, ujar Hariman Siregar, akan terjadi paska Covid-19. “Harus sehat, Lin. Biar kita bisa melihat perubahan besar apa yang akan terjadi. “ Nah, pesan itu yang membuat saya selama Pandemi lebih banyak mengisolasi diri, meskipun kadang-kadang nekad ke Yogya, Magelang, Semarang atau Palembang.

Namun saya taat Protokol Kesehatan. Setiap keluar rumah mengenakan masker, rajin cuci tangan dengan sabun dan dibilas air mengalir selama 20 detik, hand sanitizer tidak pernah absen dari tas selempang kecil yang saya bawa kemana-mana. Dalam kurun 2 tahun sejak Pandemi ditetapkan pada 12 Maret 2020 tidak sedikit teman yang saya kenal dekat meninggal dunia. Di antaranya aktivis lingkungan seperti Chairil Syah dan Emmy Hafidz.
Protokol kesehatan itu mungkin seperti ketika naik motor memakai helm atau mengikatkan sabuk pengaman di pesawat-pesawat terbang atau mobil. Kalau tidak mengenakannya mungkin tidak apa-apa. Namun zero tolerance ini penting diterapkan meskipun mungkin risiko ketularan di bawah 29 %.

Kini, tepatnya sejak 5 Mei 2023, World Health Organization (WHO) mengumumkan Pandemi Covid-19 telah berakhir. Pengguna angkutan umum pun sebagian sudah melepas masker tidak terkecuali penumpang kereta api jarak jauh, lokal maupun commuter. Pasar elektronik di Glodok mulai dijejali pengunjung, termasuk gerai kuliner di sejumlah mal di sejumlah kota Indonesia.

Presiden Joko Widodo pun telah mengumumkan berakhirnya Pandemi pada 21 Juni 2023 setelah tiga tahun lebih berjuang melawan Covid-19 yang menguras banyak sumber daya. Perusahaan farmasi mungkin diuntungkan. Yang mati suri reborn. Tapi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor jasa dan pariwisata berguguran. Imbasnya angka pertumbuhan hanya bergerak sekitar 4 persen. Itu terhitung bagus ketimbang negara-negara lain yang angka pertumbuhannya minus.

Dengan berakhirnya Pandemi semoga terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau Kapitalisme itu dianggap sebagai keniscayaan, maka bukan kapitalisme yang rakus dan brutal. Melainkan kapitalisme yang lembut mempesona. Ada yang seperti itu? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas kita menunggu perubahan besar apa yang akan terjadi tanpa harus bergabung koalisi perubahan tentunya.

Lamat-lamat saya dengar dari YouTube dua baris lirik lagu Internasionale yang diterjemahkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang di baris ke-2 saya plesetkan:

Dunia telah berganti rupa
Untuk kemenangan siapa

2021 -2023

*Penulis adalah pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan – antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 – 1999)

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Marlin DinamikantoOpini Marlin DinamikantoPemanasan GlobalPopulisme
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

DPR Dukung Kementerian HAM Targetkan 2.000 “Kampung Redam” dan Revisi UU HAM di 2026

Posting Selanjutnya

Firli Bahuri Pimpin Batalyon Dhira Brata: Gelar Bedah Rumah dan Serahkan Alkes di lingkungan Akpol

Related Posts

MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026
Posting Selanjutnya
Komjen (Purn) Firli Bahuri kegiatan bakti sosiai bedah rumah dan serahkan alkes di Akademi Kepolisian, Peringati Hari Bhayangkara Ke-79

Firli Bahuri Pimpin Batalyon Dhira Brata: Gelar Bedah Rumah dan Serahkan Alkes di lingkungan Akpol

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto disambut Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Planalto, Brasília

Presiden Brasil Sambut Presiden Prabowo: Indonesia Sahabat Lama dan Pilar Perdamaian Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Selamat Hari Bhayangkara ke-80, 1 Juli 2026

1 Juli 2026
Koordinator SIAGA 98, Hasanuddin

SIAGA 98 Dorong DPR hingga Setneg Kawal Ketat Implementasi Ketentuan Peralihan UU Polri Nomor 5 Tahun 2026

29 Juni 2026
MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Tunjuk Brigjen Pol Cahyono Wibowo sebagai Kepala Kortas Tipikor Polri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Alasan DPR Tak Dukung Alimin Ribut Sujono, Hakim Vonis Mati Ferdy Sambo yang Gagal Jadi Hakim Agung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lulusan Terbaik SEPA 93, Komjen Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho “Kuda Hitam” Calon Kapolri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima TNI Agus Subiyanto Mutasi 5 Perwira Isi Jabatan Strategis di BIN, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com | djituberita.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio