oleh :
Arvindo Noviar
Sorot Merah Putih – Sejak manusia pertama kali menatap langit, ia selalu mendambakan hadirnya sosok malaikat. Di padang pasir tempat agama-agama besar pertama kali disebarkan, malaikat digambarkan sebagai makhluk yang tak pernah membangkang.
Dalam kisah-kisah kuno, mereka adalah penjaga wahyu, penjaga takdir, penjaga batas antara yang suci dan yang fana.
Mungkin karena manusia tahu hakim dapat dibeli, raja dapat tergoda, panglima dapat berkhianat, dan pedagang dapat menipu. Maka lahirlah malaikat, simbol dari kesetiaan terhadap amanah yang sulit ditemukan dalam diri manusia sendiri.
Sejarah memiliki kebiasaan memindahkan banyak kata dari tempat asalnya. Kata-kata yang dahulu hidup dalam kitab suci perlahan turun ke dunia kekuasaan.
Ia meninggalkan langit dan masuk ke dalam arsitektur kepentingan yang mengelilingi kekuasaan.
Karena itu kemunculan sandi “Malaikat” dalam perkara yang menyeret nama Silmy Karim dan sejumlah pejabat imigrasi tidaklah terlalu mengejutkan.
Kasus Silmy Karim mengarahkan perhatian pada cara patronase bekerja di dalam negara. Setiap negara membutuhkan kader, penerus, dan pewaris tanggung jawab.
Patronase lahir dari kebutuhan tersebut dan memperoleh tempatnya dalam berbagai lintasan sejarah.
Dalam keadaan yang sehat, ia melahirkan regenerasi. Dalam keadaan yang rapuh, patronase berubah menjadi pagar perlindungan bagi lingkaran tertentu dan tak jarang menjadi ladang persemaian impunitas.
Silmy Karim sesungguhnya lebih menarik dibaca sebagai gejala daripada sebagai individu. Ia lahir di dalam arsitektur kekuasaan tempat kepercayaan, patronase, dan kedekatan dengan pusat kekuasaan berkelindan.
Dalam keadaan yang sehat, konfigurasi kekuasaan semacam itu melahirkan kader-kader yang memperkuat negara. Dalam keadaan yang buruk, ia melahirkan lapisan elit yang memiliki imun terhadap koreksi publik.
Karena itu pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa negara terus menghasilkan figur-figur yang lahir dari pola yang serupa. Negara tidak pernah kekurangan Silmy Karim. Yang langka adalah keseriusan untuk membongkar mata rantai patronase yang melahirkannya.
Kasus yang terjadi di institusi yang menjaga pintu gerbang kedaulatan negara menjadi tamparan keras. Imigrasi merupakan titik tempat negara pertama kali memperlihatkan wajahnya kepada dunia.
Di sana kedaulatan bertemu investasi, hukum bertemu mobilitas manusia, dan kewenangan bertemu kepentingan ekonomi yang besar. Gerbang negara selalu menjadi persimpangan tempat amanah bertemu godaan dan kedaulatan diuji oleh kepentingan.
Dari rumah cukai kerajaan-kerajaan kuno hingga birokrasi modern, sejarah berulang kali memperlihatkan hubungan yang sama antara kewenangan, kepentingan, dan godaan.
Saat hak untuk memberi izin, menolak, mempercepat, atau menghambat suatu urusan terkonsentrasi pada segelintir tangan, lahirlah ruang gelap tempat kewenangan diperdagangkan.
Rente kekuasaan yang dihasilkannya kemudian menghidupi patronase, memperluas lingkaran kepentingan, dan membuat praktik semacam itu terus menemukan pelindungnya.
Institusi yang diberi mandat menjaga kedaulatan justru terseret ke dalam kasus yang menggugat amanah penjagaan tersebut. Gerbang yang seharusnya memperlihatkan kewibawaan negara kepada dunia berubah menjadi sumber tuduhan yang mencederai martabat Indonesia di hadapan masyarakat internasional.
Korbannya adalah warga negara asing yang datang melalui pintu resmi negara. Saat seorang warga negara asing merasa diperas oleh aparat yang mewakili negara, reputasi Indonesia ikut tercoreng.
Kepercayaan yang sedang dibangun untuk menarik investasi, memperkuat kerja sama internasional, dan memperluas pengaruh Indonesia turut menanggung akibatnya. Pintu gerbang sebuah negara kerap dianggap sebagai wajah peradaban dari keseluruhan negara tersebut.
Perkara ini membuka wajah dari sebuah persoalan yang telah lama hidup di dalam tubuh negara. Ia membuka jejak sebuah arsitektur kekuasaan yang bekerja di balik jabatan, kewenangan, dan pengaruh.
Patronase melahirkan perlindungan. Perlindungan melahirkan impunitas. Impunitas mendidik generasi baru melalui teladan yang keliru dan menanamkan keyakinan bahwa hubungan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada pertanggungjawaban. Impunitas mengubah penyimpangan menjadi warisan kekuasaan.
Ia terus hidup melalui jaringan kepentingan yang menghidupi, mengonsolidasikan, dan merawatnya dari satu lingkaran kekuasaan ke lingkaran berikutnya.
Barangkali karena itulah sandi “Malaikat” menjadi bagian paling penting dari perkara ini. Ia mengarahkan perhatian kepada para pelindung yang bekerja di belakang layar kekuasaan.
Sejarah menunjukkan bahwa kerusakan jarang bertahan karena kekuatan satu orang. Kerusakan memperoleh daya tahannya dari arsitektur perlindungan yang membuat koreksi kehilangan jangkauannya, pengawasan kehilangan kewibawaannya, dan amanah publik perlahan tersingkir dari pusat kehidupan bernegara.
Pertanyaan pamungkasnya adalah apakah negara memiliki keberanian untuk menelusuri, membongkar, dan memutus mata rantai para malaikat pelindung yang melahirkan “Silmy Karim”.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














