• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, Juni 8, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Malaikat Pelindung Silmy Karim

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
7 Juni 2026
di Opini
Waktu membaca: 4 menit lebih
A A
0

oleh :
Arvindo Noviar

Sorot Merah Putih – Sejak manusia pertama kali menatap langit, ia selalu mendambakan hadirnya sosok malaikat. Di padang pasir tempat agama-agama besar pertama kali disebarkan, malaikat digambarkan sebagai makhluk yang tak pernah membangkang.

BacaLainnya

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Dalam kisah-kisah kuno, mereka adalah penjaga wahyu, penjaga takdir, penjaga batas antara yang suci dan yang fana.

Mungkin karena manusia tahu hakim dapat dibeli, raja dapat tergoda, panglima dapat berkhianat, dan pedagang dapat menipu. Maka lahirlah malaikat, simbol dari kesetiaan terhadap amanah yang sulit ditemukan dalam diri manusia sendiri.

Sejarah memiliki kebiasaan memindahkan banyak kata dari tempat asalnya. Kata-kata yang dahulu hidup dalam kitab suci perlahan turun ke dunia kekuasaan.

Ia meninggalkan langit dan masuk ke dalam arsitektur kepentingan yang mengelilingi kekuasaan.

Karena itu kemunculan sandi “Malaikat” dalam perkara yang menyeret nama Silmy Karim dan sejumlah pejabat imigrasi tidaklah terlalu mengejutkan.

Kasus Silmy Karim mengarahkan perhatian pada cara patronase bekerja di dalam negara. Setiap negara membutuhkan kader, penerus, dan pewaris tanggung jawab.

Patronase lahir dari kebutuhan tersebut dan memperoleh tempatnya dalam berbagai lintasan sejarah.

Dalam keadaan yang sehat, ia melahirkan regenerasi. Dalam keadaan yang rapuh, patronase berubah menjadi pagar perlindungan bagi lingkaran tertentu dan tak jarang menjadi ladang persemaian impunitas.

Silmy Karim sesungguhnya lebih menarik dibaca sebagai gejala daripada sebagai individu. Ia lahir di dalam arsitektur kekuasaan tempat kepercayaan, patronase, dan kedekatan dengan pusat kekuasaan berkelindan.

Baca Juga  Jangan Biarkan Serakahnomic Hancurkan Kemanusiaan

Dalam keadaan yang sehat, konfigurasi kekuasaan semacam itu melahirkan kader-kader yang memperkuat negara. Dalam keadaan yang buruk, ia melahirkan lapisan elit yang memiliki imun terhadap koreksi publik.

Karena itu pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa negara terus menghasilkan figur-figur yang lahir dari pola yang serupa. Negara tidak pernah kekurangan Silmy Karim. Yang langka adalah keseriusan untuk membongkar mata rantai patronase yang melahirkannya.

Kasus yang terjadi di institusi yang menjaga pintu gerbang kedaulatan negara menjadi tamparan keras. Imigrasi merupakan titik tempat negara pertama kali memperlihatkan wajahnya kepada dunia.

Di sana kedaulatan bertemu investasi, hukum bertemu mobilitas manusia, dan kewenangan bertemu kepentingan ekonomi yang besar. Gerbang negara selalu menjadi persimpangan tempat amanah bertemu godaan dan kedaulatan diuji oleh kepentingan.

Dari rumah cukai kerajaan-kerajaan kuno hingga birokrasi modern, sejarah berulang kali memperlihatkan hubungan yang sama antara kewenangan, kepentingan, dan godaan.

Saat hak untuk memberi izin, menolak, mempercepat, atau menghambat suatu urusan terkonsentrasi pada segelintir tangan, lahirlah ruang gelap tempat kewenangan diperdagangkan.

Rente kekuasaan yang dihasilkannya kemudian menghidupi patronase, memperluas lingkaran kepentingan, dan membuat praktik semacam itu terus menemukan pelindungnya.

Institusi yang diberi mandat menjaga kedaulatan justru terseret ke dalam kasus yang menggugat amanah penjagaan tersebut. Gerbang yang seharusnya memperlihatkan kewibawaan negara kepada dunia berubah menjadi sumber tuduhan yang mencederai martabat Indonesia di hadapan masyarakat internasional.

Korbannya adalah warga negara asing yang datang melalui pintu resmi negara. Saat seorang warga negara asing merasa diperas oleh aparat yang mewakili negara, reputasi Indonesia ikut tercoreng.

Kepercayaan yang sedang dibangun untuk menarik investasi, memperkuat kerja sama internasional, dan memperluas pengaruh Indonesia turut menanggung akibatnya. Pintu gerbang sebuah negara kerap dianggap sebagai wajah peradaban dari keseluruhan negara tersebut.

Baca Juga  Tragedi yang Tak Pernah Ingkar Janji dan Kami Selalu Mengingatnya

Perkara ini membuka wajah dari sebuah persoalan yang telah lama hidup di dalam tubuh negara. Ia membuka jejak sebuah arsitektur kekuasaan yang bekerja di balik jabatan, kewenangan, dan pengaruh.

Patronase melahirkan perlindungan. Perlindungan melahirkan impunitas. Impunitas mendidik generasi baru melalui teladan yang keliru dan menanamkan keyakinan bahwa hubungan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada pertanggungjawaban. Impunitas mengubah penyimpangan menjadi warisan kekuasaan.

Ia terus hidup melalui jaringan kepentingan yang menghidupi, mengonsolidasikan, dan merawatnya dari satu lingkaran kekuasaan ke lingkaran berikutnya.

Barangkali karena itulah sandi “Malaikat” menjadi bagian paling penting dari perkara ini. Ia mengarahkan perhatian kepada para pelindung yang bekerja di belakang layar kekuasaan.

Sejarah menunjukkan bahwa kerusakan jarang bertahan karena kekuatan satu orang. Kerusakan memperoleh daya tahannya dari arsitektur perlindungan yang membuat koreksi kehilangan jangkauannya, pengawasan kehilangan kewibawaannya, dan amanah publik perlahan tersingkir dari pusat kehidupan bernegara.

Pertanyaan pamungkasnya adalah apakah negara memiliki keberanian untuk menelusuri, membongkar, dan memutus mata rantai para malaikat pelindung yang melahirkan “Silmy Karim”.*

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Arvindo Noviarkorupsi imigrasimalaikat pelindungSilmy Karim
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

Posting Selanjutnya

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

Related Posts

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Badai Politik

8 Mei 2026

MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

22 April 2026
Posting Selanjutnya

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

2 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio