Dalam sambutan mengenang peristiwa bersejarah itu, Viva Yoga mengatakan hari ini kita berkumpul di tempat yang memiliki sejarah besar di mana para Pionir Transmigrasi telah gugur dalam upaya mereka untuk merintis hidup baru dan bermimpi untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Kenang Pelopor Transmigrasi
Acara tabur bunga itu sendiri untuk mengenang gugurnya 67 transmigran asal Kabupaten Boyolali yang berangkat menuju Unit Penempatan Transmigran (UPT) Gunungbalak, Provinsi Lampung, pada 11 Maret 1974. Kala itu bus yang ditumpangi rombongan transmigran terguling di kali Sewo yang lokasinya tidak jauh dari makam tempat acara tabur bunga diselenggarakan.
Para transmigran yang gugur itu, ungkap Viva Yoga yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) selanjutnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai “Pionir Pembangunan Transmigrasi” dan nama yang sama disematkan untuk kompleks pemakaman dengan semboyan Jer Basuki Mawa Bea yang artinya untuk mencapai kebahagiaan perlu pengorbanan.
Dokter Hewan lulusan Universitas Udayana, Bali ini tidak bisa menyembunyikan rasa harunya tatkala membacakan peristiwa yang terjadi lebih dari 50 tahun yang lalu itu.
”Mereka simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat untuk merajut keadilan sosial melalui pemerataan pembangunan”, ujarnya. ”Kita wajib memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah mendahului kita, terutama mereka yang menjadi korban dalam perjuangan ini”, tambahnya.
Magister Ekonomi lulusan Universitas Indonesia tidak ragu menyebut ke-67 transmigran itu sebagai pejuang untuk memperbaiki nasib dalam mengisi pembangunan bangsa dan negara. ”Doa kita mengiringi perjalanan 67 patriot bangsa menuju keabadian”, tuturnya.
Paradigma Baru Transmigrasi
Toh demikian, Viva Yoga juga menegaskan, transmigrasi tidak hanya menjadi program masa lalu namun juga harus tetap relevan di era sekarang melalui pengembangan paradigma baru, bukan hanya pemindahan jumlah KK melainkan juga memastikan juga tingkat kesejahteraannya serta warga sekitar di lokasi permukimannya yang baru.
Pergeseran paradigma pembangunan transmigrasi ini diterjemahkan dalam 4 program prioritas yang meliputi pertama, revitalisasi 45 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional sebagai bagian dari RPJMN 2025-2029; Kedua, mendorong pengembangan kawasan transmigrasi transpolitan yang terintegrasi dan inklusif; Ketiga, menjadikan transmigran sebagai bagian dari Komponen Cadangan; Keempat, Pendataan dan digitalisasi warga transmigran serta kawasan transmigrasi.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini












