Supari juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan. Ia menemukan bahwa hanya sekitar 30 persen mahasiswa yang benar-benar menjalani proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh.
“Dari empat mahasiswa, hanya satu yang benar-benar kuliah dan memahami konsep benar secara ilmiah,” katanya.
Ia juga menyoroti rendahnya kemandirian bangsa dalam bidang ekonomi, di mana masyarakat lebih bangga menggunakan produk asing dibandingkan produk dalam negeri.
“Kita bangga bisa berkomunikasi dengan orang lain, tapi alat komunikasinya produk luar negeri. Kita lebih suka mengimpor daripada menciptakan produk sendiri. Kita justru menjadi pasar bagi negara-negara maju,” tambahnya.
KH Ubaidullah Shodaqoh, sebagai sohibul bait, menegaskan bahwa keberadaan manusia di dunia ini merupakan nikmat yang harus disyukuri.
“Setiap manusia memiliki potensi untuk naik ke alam spiritual yang lebih tinggi. Dan seluruh eksistensi manusia itu semata-mata karena cintanya Allah kepada makhluk-Nya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa taufik dan hidayah akan diperoleh setiap insan sesuai dengan amal dan perbuatannya.
Dalam konteks budaya, Teguh Haryono, Sekjen Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat, menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur Nusantara di tengah derasnya arus globalisasi.
Sebagai pendiri Daulat Budaya Nusantara (DBN), ia menjelaskan bahwa DBN menginisiasi program Kenduri Budaya di 99 titik lokasi berbeda di seluruh Indonesia guna merawat tata nilai budaya bangsa.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

















Terima kasih, sukses selalu buat sorot merah putih