oleh :
Hasanuddin
SIAGA 98
Sorot Merah Putih – “Kalau hanya untuk mengurus diri sendiri, Bang Hariman dan Bang Bursah Zarnubi pasti sudah sangat kaya raya,” demikian pendapat Aktivis Pijar Marlin Dinamikanto.
Makna solidaritas bagi kedua aktivis senior tersebut bukan semata-mata jargon, melainkan sudah menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Keduanya tidak menumpuk harta secara berlebihan dan tetap merawat persahabatan dengan sejumlah aktivis lainnya baik yang satu generasi maupun generasi sesudahnya.
Hariman Siregar adalah sosok aktivis mahasiswa yang terkenal pada era Orde Baru, khususnya melalui perannya sebagai pemimpin gerakan dalam peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974.
Ia adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) yang menduduki jabatan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.
Dia mewarisi darah pejuang dari para pendahulunya, seperti Dr. Soetomo, Wahidin Sudirohusodo, saat UI masih bernama STOVIA.
Kalau tujuan berorganisasi hanya untuk kekuasaan, portofolio yang dimilikinya lebih dari cukup untuk sekedar menjadi menteri.
Di kampus Salemba Hariman Siregar pernah menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), selanjutnya terpilih menjadi Ketua Senat Fakultas Kedokteran, sebelum terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UI periode 1973-1974.
Ia memenangi kursi Ketua Dema UI setelah mengalahkan calon dari HMI, Ismet Abdullah.
Hariman dikenal sebagai aktivis yang menggalang gerakan mahasiswa kritis terhadap pemerintah Orde Baru yang dianggap terlalu condong kepada modal asing. Bersama rekan-rekannya, ia menerbitkan Petisi 24 Oktober 1973 yang memicu gelombang protes mahasiswa, hingga akhirnya memuncak pada peristiwa Malari 15 Januari 1974.
Demonstrasi tersebut berakhir dengan kerusuhan, dan Hariman dituduh terlibat subversi, sehingga dijatuhi hukuman penjara tiga tahun—meski awalnya terancam hukuman mati. Akibatnya, kelulusannya tertunda hingga tahun 1977, tiga tahun lebih lama dari jadwal semestinya.

Hariman dan Bursah Dekade 80-an
Setelah bebas, Hariman Siregar sempat memimpin klub sepakbola Persatuan Sepakbola Jakarta Selatan (PSJS).
Sebelum akhirnya diseret-seret lagi oleh mendiang Amir Husin Daulay dan Agus Lenon untuk menjadi pembicara di lingkungan aktivis mahasiswa.
Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, tepatnya pada pertengahan 1980-an, Bursah Zarnubi yang juga aktivis HMI menjadi korban kriminalisasi saat memimpin demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan SPP di kampusnya, Universitas Jayabaya.
Selain dipecat dari status kemahasiswaan Bursah juga merasakan dinginnya lantai penjara. Kesamaan nasib ini yang membuat keduanya dekat sejak akhir 1980-an hingga sekarang.
Hariman Siregar yang semula memiliki klinik di Jalan Lautze, pada awal 1990-an pindah ke Cikini Building, mendirikan Baruna Medical Center. Di tempat praktiknya ini Hariman melayani kedatangan para aktivis dari berbagai daerah.
Bahkan di era represif kadang diundang menjadi narasumber di sejumlah kota Indonesia. Bagi aktivis yang tidak memiliki biaya untuk keluar kota atau kehabisan ongkos tidak bisa pulang kampung, Hariman Siregar dianggap sebagai solusi yang tepat untuk didatangi.
Di saat yang bersamaan, Bursah Zarnubi yang pernah menjadi calon kuat Ketua Umum PB HMI di Kongres Riau namun dipaksa mengundurkan diri oleh penguasa Orde Baru, bersama sejumlah pimpinan kelompok Cipayung mendirikan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA).
Kala itu Sekretariat HUMANIKA di Jl. Poncol Jaya No.17 kawasan Kapten Tendean sering menyelenggarakan diskusi-diskusi kritis yang dihadiri oleh aktivis lintas ideologi. Keberagaman sudah tercermin di Humanika yang juga menjadi satu di antara shelter para aktivis di Jakarta.

Selalu Mengenang Malari
Sejak keluar dari Penjara setiap tanggal 15 Januari Hariman Siregar selalu memperingatinya, bukan saja mengumpulkan teman seangkatan melainkan juga para aktivis yang lahir sesudahnya. Peringatan itu terus berjalan hingga Soeharto tumbang pada 21 Mei 1998.
Sebelum mendirikan Indonesia Democracy Monitor bersama sejumlah aktivis, antara lain Muslim Abdurahman, Mulyana W Kusumah, Amir Husin Daulay, Agus Edy Santoso, Kastorius Sinaga dan lainnya mendirikan In-Live – semacam lembaga pemantau pemilu – yang acaranya dilaunching di Hotel Horison (sekarang Hotel Sultan) sekitar tahun 1999.
Baru pada Januari tahun 2000, di Taman Ismail Marzuki, Hariman Siregar bersama Prof. Sarbini Somawinata, Ali Sadikin, Adnan Buyung Nasution, Muslim Abdurahman, Rendra, Mulyana W Kusumah dan lainnya bersamaan peringatan Malari ke-26, Hariman Siregar mendirikan perkumpulan Indonesia Democracy Monitor (Indemo.
Perkumpulan ini hingga sebelum Covid-19 rajin menyelenggarakan diskusi reboan.
Penggerak awal diskusi Indemo adalah Amir Husin Daulay dan Agus Edy Satoso, setelah Amir wafat posisinya digantikan oleh Bambang Isti Nugroho.
Setelah Covid diskusi bergeser ke hari Jumat dan masih berjalan hingga sekarang, meskipun dua minggu sekali. Namun peringatan Malari sekaligus hari lahir Indemo tetap masih diperingati hingga sekarang ini.
Tujuan Indonesian Democracy Monitor (Indemo), adalah secara pro-aktif mengawal demokrasi berbasis rule of law dan masyarakat sipil (civil society) tanpa masuk dalam perangkap politik praktis.
Bersama Indemo, Hariman secara konsisten memperingati peristiwa Malari lewat berbagai diskusi nasional. Pada peringatan 50 tahun Malari di 2024, Hariman menegaskan pentingnya demokrasi sejati, pers yang kuat, dan masyarakat sipil yang mandiri.
Ia juga mengkritik kondisi demokrasi dan utang negara, serta menekankan pentingnya ekonomi yang sehat dan presiden yang akuntabel.
Pada 1 Mei 2025, Hariman mendapat sambutan hangat dalam acara ulang tahun dirinya, bahkan menerima ucapan langsung dari Presiden Prabowo Subianto via telepon.
Di usia 75 tahun, Hariman dikenal sebagai simbol idealisme yang tak pudar dan jembatan penghubung antar generasi aktivis. Pada tahun yang sama, ia menyatakan bahwa jika PDIP dan Gerindra bersatu, politik Indonesia bisa menjadi lebih baik. Ia juga menyerukan pemimpin yang akuntabel, jujur, dan menghindari perpecahan sosial.
Di sisi lain yuniornya, Bursah Zarnubi yang memiliki kepedulian yang sama terhadap kehidupan sehari-hari aktivis berhasil memenangkan konstetasi Pilkada Lahat. Saat dilantik secara serentak Presiden Prabowo yang pernah mengenalnya kaget dan antusias menyambutnya.

Integritas Aktivis yang Tak Tergoyahkan
Berbeda dengan banyak aktivis yang kemudian terjun ke politik praktis, Hariman memilih tetap berada di luar kekuasaan formal. Ia pernah ditawari jabatan politik, tapi menolaknya.
Baginya, kekuasaan sering kali memabukkan dan bisa menggerus idealisme seseorang. Hariman memandang bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa diwujudkan lewat profesi dan solidaritas, bukan harus lewat jabatan politik.
Sedangkan Bursah Zarnubi meskipun pernah tiga kali gagal memenangkan Pileg DPR-RI, sekali gagal dalam Pilkada Kabupaten Lahat, namun dia tetap istiqamah, fokus pada tujuan, atau istilahnya di HMI yakin usaha sampai, pada akhirnya terpilih juga menjadi Bupati.
Keberhasilan Bursah tentu saja tidak terlepas dari banyaknya doa orang-orang yang pernah dibantunya. Di luar kekuasaan maupun di dalam kekuasaan, Bursah Zarnubi memang dikenal ringan tangan dalam hal membantu banyak orang.
Jiwa Hipokrates dalam Aktivisme
Sebagai dokter, Hariman menghayati sumpah Hipokrates yang mengajarkan untuk mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan manusia tanpa menyakiti. Prinsip ini tercermin dalam aktivitasnya sehari-hari.
Ia mendirikan rumah sakit sendiri dan menjadikan pelayanan kesehatan sebagai wujud pengabdian nyata kepada masyarakat. Aktivismenya bukan sekadar retorika, melainkan tindakan nyata yang melayani dan menolong sesama.
Meskipun bukan dokter melainkan sarjana ekonomi, Bursah Zarnubi melakukan hal yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan seniornya, Hariman Siregar.
Menjaga Jarak dari Kekuasaan ala Lord Acton
Hariman memegang teguh prinsip Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”.
Karena itu, ia memilih menjaga jarak dari posisi kekuasaan formal agar idealismenya tetap utuh. Baginya, peran seorang aktivis adalah menjadi pengawas moral yang menjaga agar kekuasaan tidak menyimpang dari tujuan utama-mensejahterakan rakyat.
Ada pun Bursah Zarnubi diyakini oleh banyak kalangan akan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan orang banyak. Sektor perikanan, peternakan dan pertanian akan terus digenjot untuk memakmurkan warga di tanah kelahirannya.
Solidaritas dan Dermawan
Selain fokus pada dirinya sendiri, Hariman dikenal dermawan yang aktif membantu aktivis lain secara moral dan materiil. Ia terus menjaga silaturahmi dengan aktivis lintas generasi, membina solidaritas agar semangat perjuangan tidak pernah padam.
Hariman juga menegaskan pentingnya solidaritas lintas generasi dalam pergerakan aktivis. Dalam berbagai kesempatan, termasuk pertemuan aktivis lintas generasi di Garut tahun 2023, ia konsisten menyuarakan penolakan terhadap wacana presiden tiga periode.
Sikap ini bukan semata politik praktis, tapi manifestasi nyata dari prinsip Lord Acton yang menolak absolutisme kekuasaan.
Dengan menjaga silaturahmi dan mendukung aktivis muda, Hariman membuktikan bahwa perjuangan sosial tidak boleh berhenti pada satu generasi saja.
Solidaritas yang ia pelihara memastikan idealisme dan semangat reformasi tetap hidup, tanpa tergerus oleh godaan politik atau pragmatisme sesaat.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivisme yang berlandaskan etika dan solidaritas adalah benteng utama dalam menjaga demokrasi dari penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi moral.
Hariman mengajarkan bahwa keberanian menolak kekuasaan yang tak sehat dan tetap setia pada nilai kemanusiaan adalah esensi perjuangan sejati.
Sosok yang Menginspirasi
Hariman Siregar bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teladan hidup yang menginspirasi generasi aktivis kini, termasuk tokoh muda seperti Bursah Zarnubi yang mewarisi semangat dan integritasnya.
Kehadiran Hariman dalam pertemuan aktivis lintas generasi di Garut menjadi bukti bahwa perjuangan berkesinambungan, tanpa kehilangan esensi moralnya.
Dari Hariman Siregar kita belajar bahwa aktivis sejati bukan hanya berani bersuara dan beraksi, tapi juga menjaga integritas, mengutamakan pelayanan, dan menolak godaan kekuasaan demi idealisme yang bersih.
Ia adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai sumpah Hipokrates dan prinsip Lord Acton bisa menjadi pedoman hidup yang membawa perubahan nyata bagi masyarakat.***
Jakarta, 21 Agustus 2025
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















