• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, Mei 25, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Board of Peace: Langkah Prabowo yang Dibenci Kaum Penonton Tapi Diperlukan oleh Bangsa Besar

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
31 Januari 2026
di Opini
Waktu membaca: 3 menit lebih
A A
0
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace (BoP) Charter pada Kamis, 22 Januari 2026 di Davos, Swiss

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace (BoP) Charter pada Kamis, 22 Januari 2026 di Davos, Swiss. (dok BPMI Setpres)

oleh :
Bin Bin Firman Tresnadi
Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute

Sorot Merah Putih, Jakarta – Ada yang menjerit-jerit menuding Presiden Prabowo “membebek Trump” karena Indonesia bergabung dengan Board of Peace. Tudingan seperti itu bukan kritik-itu cermin ketidakmampuan membaca geopolitik modern.

BacaLainnya

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Badai Politik

8 Mei 2026

MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

22 April 2026

Hanya mereka yang alergi pada strategi, dan nyaman jadi komentator pinggir lapangan, yang melihat kebijakan ini sebagai ketundukan. Padahal ini justru langkah ofensif: Indonesia masuk gelanggang untuk punya hak bicara, hak memaksa, dan hak menentukan.

Bangsa besar tidak membangun pengaruh dari luar pagar. Bangsa besar masuk ke dalam, duduk di meja perundingan, dan memastikan tidak ada keputusan global yang diambil tanpa hitungan kita.

Fokusnya Gaza. Titik. Bukan Ego Politik Dalam Negeri.

Board of Peace punya mandat jelas: stabilisasi dan rekonstruksi Gaza. Indonesia sejak lama menjadi salah satu suara paling konsisten membela Palestina. Jadi ketika ada ruang untuk mendorong perubahan konkret, negara ini memilih masuk.

Ironisnya, mereka yang menuduh “membebek” justru tak menawarkan apa-apa selain slogan kosong. Prabowo tidak bermain slogan – dia bermain hasil. Dan hasil hanya bisa dicapai dari dalam arena, bukan dari pinggir sebagai pemandu sorak.

Diplomasi Bebas-Aktif Itu Bertarung, Bukan Menjauh

Kaum pengkritik tampaknya masih terjebak pada tafsir sempit: seolah bebas-aktif berarti alergi pada semua forum yang melibatkan figur Barat. Padahal doktrin bebas-aktif sejak awal adalah doktrin kemandirian strategis: mendekat ketika bermanfaat, menjauh ketika merugikan.

Baca Juga  Kebebasan Pers, Governance dan Transparansi Program MBG

Masuknya Indonesia ke Board of Peace adalah gerakan ofensif untuk memperluas pengaruh, mengintervensi agenda dunia, dan memastikan bahwa rekonstruksi Gaza tidak dijadikan proyek politik satu kekuatan saja.

Kalau kita takut masuk, lalu siapa yang akan mengimbangi? Kedaulatan itu dibangun, bukan diteriakkan.

Tanpa Indonesia, Board of Peace akan berputar pada orbit kepentingan segelintir negara. Dengan Indonesia masuk, orbit itu tergeser, narasinya berubah, dan perspektif Global South masuk ke meja.

Ada yang menyebut ini bentuk ketundukan? Justru sebaliknya: ini cara halus merusak dominasi satu pihak dari dalam. Yang tak paham taktik, tentu melihatnya sebagai “ikut-ikutan”. Indonesia bukan penumpang. Indonesia adalah ballast yang mengubah arah seluruh kapal.

Kritik yang Menyerang Prabowo Tidak Punya Bacaan Geopolitik

Mereka yang menolak langkah ini sebenarnya hanya terkungkung dalam sentimen personal: alergi pada Trump, lalu mengira diplomasi Indonesia ikut terseret. Itu cara berpikir amatir.

Negara sebesar Indonesia tidak menyusun langkah strategis berdasar suka-tidak suka pada figur tertentu. Yang dihitung adalah leverage, ruang intervensi, dan peluang memaksakan agenda rekonstruksi Gaza yang sesuai visi Indonesia.

Prabowo tidak tunduk pada siapa pun. Yang tunduk adalah mereka yang pikirannya masih bergantung pada narasi media Barat dan aktivisme pinggir jalan.

Indonesia Bangsa Besar: Kita Masuk untuk Menentukan, Bukan Dipengaruhi

Ketika Prabowo memutuskan bergabung, itu bukan pencitraan. Itu penegasan bahwa Indonesia bukan negara medioker. Kita bangsa besar yang punya ambisi global, visi strategis, dan kapasitas moral untuk memimpin agenda perdamaian dunia.

Kita masuk bukan karena “diminta”, bukan karena “terpengaruh”, tetapi karena tidak boleh ada satu pun forum perdamaian global yang berjalan tanpa Indonesia di dalamnya.

Baca Juga  Usai Dilantik Presiden Prabowo, Ini Fokus Utama Menteri Baru di Awal Jabatan

Mereka menuduh membebek, karena Mereka Takut Indonesia memimpin. Kaum pengkritik panik karena langkah ini menunjukkan satu hal:

Indonesia tidak lagi menjadi penonton. Indonesia sedang mengambil posisi sebagai penentu.

Prabowo tidak membebek. Prabowo sedang memimpin—dan itu menakutkan bagi mereka yang selama ini menggantungkan identitas politiknya pada retorika anti-Barat tanpa kemampuan menciptakan solusi.

Indonesia masuk Board of Peace bukan untuk mengangguk, tetapi untuk mengatur. Dan itu yang tak bisa mereka terima.*

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Bacaan GeopolitikBoard of PeaceDiplomasi Bebas-AktifNalar Bangsa InstitutePresiden Prabowo Subianto
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Catatan SIAGA 98: Ingat Fakta Polri Bisa Abaikan Presiden

Posting Selanjutnya

Presiden Instruksikan Percepatan Reformasi Pasar Modal, Transparansi Beneficial Ownership Diperketat

Related Posts

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Badai Politik

8 Mei 2026

MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

22 April 2026

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026
ilustrasi

Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

28 Maret 2026
Posting Selanjutnya

Presiden Instruksikan Percepatan Reformasi Pasar Modal, Transparansi Beneficial Ownership Diperketat

Penutupan Retret PWI 2026 acara “Api Semangat Bela Negara” (ASBN) di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Retret PWI 2026 di Kemhan Resmi Ditutup, 160 Perwakilan PWI Dikukuhkan sebagai Kader Bela Negara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Tinjau PLTP Darajat, Bupati Garut Dorong Swasembada Energi Bersih dan Ekonomi Berkelanjutan

21 Mei 2026

Presiden Prabowo: Penambahan Alutsista Perkuat Kedaulatan dan Pertahanan Nasional

19 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Menag Nasaruddin Umar Umumkan Hasil Sidang Isbat: 1 Zulhijah 1447 H pada 18 Mei 2026, Iduladha Jatuh 27 Mei

18 Mei 2026

MBG Jadi Mesin Ekonomi Nasional: Puluhan Ribu SPPG Gerakkan Hampir 1 Juta Tenaga Kerja dan Rp1 Triliun Per Hari

16 Mei 2026

Penggerebekan Markas Judol WNA di Jakbar, Puan: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Basis Operasi

15 Mei 2026

Beredar Undangan Catut Nama BGN, Bimtek SPPG Nasional 2026 Dipastikan Palsu

10 Mei 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Sjafrie Sjamsoeddin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Smartboard, Teknologi Pembelajaran Digital yang Menjadi Program Presiden Prabowo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mendagri: Moratorium Pemekaran Daerah Otonomi Baru Tidak Berlaku untuk Usulan Daerah Istimewa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Pilot Tempur Indonesia Sukses Terbang Solo Rafale di Prancis, Perkuat Pertahanan Udara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio