SOROT MERAH PUTIH – JAKARTA,– Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri, Komjen Pol Akhmad Wiyagus, belum resmi pensiun. Namun, perwira tinggi kelahiran Tasikmalaya, 23 September 1967 itu akan segera memasuki masa purna tugas dalam waktu dekat, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi di kepolisian.
Menjelang momen transisi tersebut, sorotan publik mulai tertuju pada posisi Kabaintelkam yang dinilai sangat vital. Koordinator SIAGA 98, Hasanudin, mengingatkan agar Polri tidak membiarkan jabatan ini kosong.
“Dalam konteks keamanan nasional, posisi Kabaintelkam tidak boleh ada kekosongan. Kalau sampai terjadi, potensi kerawanan bisa muncul, apalagi di tengah situasi maraknya demonstrasi yang rawan ditunggangi pihak-pihak tertentu,” ujar Hasanudin, Senin (1/9/2025).
Baintelkam Polri memegang peran penting dalam sistem keamanan negara. Tugasnya bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga menganalisis dan memberikan masukan intelijen strategis bagi pemerintah.
Koordinasi yang solid dengan TNI, kementerian, maupun lembaga lain kerap berawal dari fungsi intelijen kepolisian ini. Karena itu, menurut Hasanudin, kursi Kabaintelkam tidak boleh dibiarkan kosong walau hanya sebentar.
“Kekosongan jabatan bisa memperlemah deteksi dini. Padahal, Polri harus bisa merespons cepat potensi ancaman, mulai dari kerusuhan sosial, terorisme, hingga kejahatan siber,” tambahnya.
Jejak Panjang Komjen Akhmad Wiyagus
Akhmad Wiyagus dikenal sebagai figur berintegritas dan profesional. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1989 itu berangkat dari jalur reserse, sebuah bidang yang menuntut kecermatan, keberanian, dan ketegasan.
Selama kariernya, ia menempati berbagai posisi strategis sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kabaintelkam Polri. Kepemimpinannya yang tegas namun humanis menjadi teladan di internal kepolisian.
Transisi Kepemimpinan
Menurut Hasanudin, proses pergantian Kabaintelkam harus dipersiapkan jauh hari sebelum Akhmad Wiyagus resmi pensiun. Langkah itu penting agar transisi berjalan mulus tanpa menimbulkan kevakuman di struktur Mabes Polri.
“Polri tidak boleh terlambat menyiapkan pengganti. Situasi sosial politik kita saat ini dinamis, dan setiap celah kelemahan bisa dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas,” kata Hasanudin.
Stabilitas Jadi Taruhan
Seiring meningkatnya eskalasi aksi massa yang kerap berujung ricuh, serta munculnya ancaman keamanan baru di ranah digital, posisi Kabaintelkam semakin strategis.
“Stabilitas negara adalah taruhan. Karena itu, pengisian jabatan Kabaintelkam harus tepat waktu dan tepat figur,” tutup Hasanudin.(Van)
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















