Sorot Merah Putih, Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bersama Bank Dunia dan Asia/Pacific Group on Money Laundering (APG) resmi membuka Standards Training Course (STC) di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Pelatihan yang berlangsung hingga 7 November 2025 ini menjadi langkah strategis Indonesia dalam memperkuat kapasitas global untuk memerangi tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme (Anti Money Laundering/Counter Financing of Terrorism atau AML/CFT).
Direktur Strategi dan Kerja Sama Internasional PPATK Diana Soraya Noor menegaskan, penyelenggaraan STC di Jakarta merupakan tonggak penting dalam memperluas akses pelatihan standar Financial Action Task Force (FATF) di kawasan Asia Pasifik.
“Ini merupakan kesempatan penting untuk memperkuat kapasitas seluruh pemangku kepentingan APU/PPT di kawasan, sekaligus langkah maju bagi Indonesia sebagai tuan rumah pertama pelatihan FATF Standard Training yang difasilitasi APG dan Bank Dunia,” ujar Diana dalam sambutannya.
Diana juga mengapresiasi komitmen peserta dan mendorong partisipasi aktif selama pelatihan.
“Kami berharap para peserta dapat berbagi pengalaman dan pemikiran, sehingga sepulang dari kegiatan ini dapat memperkuat rezim AML/CFT di yurisdiksi masing-masing,” tambahnya.
Diikuti 18 Negara dan Lembaga Penegak Hukum Indonesia
Pelatihan ini diikuti oleh delegasi dari 18 negara, yakni Australia, Bangladesh, Bhutan, China, India, Indonesia, Jepang, Kamboja, Maladewa, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
Selain peserta luar negeri, STC juga melibatkan sejumlah lembaga strategis nasional, termasuk Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Bareskrim Polri, Densus 88 Antiteror, Kejaksaan Agung, serta Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keuangan.
Seluruh peserta telah menyelesaikan prasyarat FATF Introductory Curriculum 2024, guna memastikan pelatihan berjalan efektif dan terarah.
Fokus Materi dan Kolaborasi Global
Pelatihan selama lima hari ini membahas beragam topik strategis seperti FATF Standards, analisis risiko, beneficial ownership, pengawasan berbasis risiko, intelijen keuangan, investigasi tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, hingga sanksi keuangan terarah dan isu proliferasi senjata pemusnah massal.
Materi diberikan melalui kombinasi presentasi, diskusi kelompok, studi kasus, dan sesi interaktif, dipandu langsung oleh para pelatih berpengalaman dari PPATK, APG, dan Bank Dunia.
Kegiatan STC ini dibuka oleh Julian Casal, FCI Country Coordinator untuk Indonesia dan Timor Leste, serta David Shannon, Deputy Executive Secretary APG yang juga bertindak sebagai co-lead trainer.
Julian Casal menyoroti pentingnya memperluas kerja sama lintas negara untuk memperkuat efektivitas rezim APU/PPT.
Sementara David Shannon menekankan bahwa pemahaman standar FATF menjadi fondasi utama bagi keberhasilan penegakan hukum dan pencegahan kejahatan keuangan.
“Program ini memberi ruang bagi para profesional untuk menghubungkan konsep FATF dengan implementasi nyata di lapangan,” ujar Shannon.
Melalui penyelenggaraan STC ini, Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai mitra strategis global dalam penguatan kapasitas AML/CFT, sekaligus menunjukkan komitmen PPATK dalam mendorong harmonisasi pemahaman standar internasional di kawasan Asia Pasifik.
“Pelatihan ini bukan hanya ajang belajar, tapi juga wujud nyata kolaborasi global untuk melindungi sistem keuangan dunia dari ancaman kejahatan lintas negara,” tutup Diana.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















