oleh :
Andry Wibowo
Sorot Merah Putih – Diantara tahun 2003-2004 saya mendapatkan kesempatan melaksanakan tugas di Beijing (Peking), Republik Rakyat China.
Saat itu Beijing sedang berbenah menyambut Olimpiade tahun 2006. Untuk mempersiapkan kelancaran pelaksanaannya, kepolisian China mengundang berbagai kepolisian dari beberapa kota besar di dunia.
Hadir Kepolisian dari Tokyo, Seoul, Sydney, termasuk Jakarta untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman pengamanan event berskala dunia.
Delegasi Polri yang dipimpin oleh Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Ghani menyampaikan saran yang berkaitan dengan sistem pengamanan olimpiade.
Pengalaman bertugas menjadi bagian dari delegasi Polri di Beijing sangat menyenangkan. Selain mendampingi pimpinan, saya berkesempatan berkeliling menyusuri kota Beijing. Mendatangi tempat bersejarah dan beberapa destinasi wisata yang terkenal seperti tembok China (great wall) maupun kota terlarang (forbidden city).
Sebagai kota besar, Beijing kala itu sudah mengalami berbagai kemajuan. Apalagi kota ini sedang mempercantik diri menyambut ribuan atlet dari seluruh dunia.
Namun pada sisi lainnya, kemajuan Beijing pada masa itu masih menyisakan persoalan seperti kebersihan yang kurang maksimal. Toilet umum yang terkesan jorok, kendaraan modern masih berbaur dengan sepeda, sistem pedestrian dan kualitas jalan belum memberikan kenyamanan bagi pengendara dan para pejalan kaki.
Hampir 22 tahun berlalu, hari ini saya berkesempatan lagi berkunjung ke RRC. Kali ini saya berkunjung ke Shanghai dan Hang Cao. Dua kota yang berjarak 170 KM, setara dengan jarak Jakarta-Bandung.
Sebagai kota pelabuhan Shanghai tumbuh pesat menjadi kota niaga yang maju dan modern. Kotanya tertata sangat rapih, bersih, dan tertib, begitu pula dengan jalan rayanya, aspalnya halus nyaris tanpa gelombang.
Hal serupa bisa kita temukan di Hang Cao, kota legenda ular putih (white snake), semuanya serba teratur dan indah dipandang.
Dari perjalanan saya kali ini ke dua kota tersebut nampak jelas perubahan wajah RRC. Kota-kota di RRC secara merata menjadi kota modern berkelas dunia. Kemajuan kota di RRC begitu nyata dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi Beijing dua puluh tahun yang lalu.
Shanghai yang mewakili salah satu ikon kemajuan China tampak setara dengan berbagai ikon kemajuan kota di negara lain seperti Sydney, Kobe, Tokyo, Singapura maupun Hongkong.
Semua kemajuan yang sudah dicapai RRC mendorong saya mengidentifikasi faktor determinan bagaimana kemajuan itu terbentuk.
Dalam pemikiran saya kemajuan RRC terjadi karena beberapa faktor sebagai berikut :
1. Kedaulatan negara dan pemerintahan terjaga sebagai bangsa yang merdeka.
2. Kepemimpinan nasional yang bertanggung jawab terhadap sejarah dan rakyatnya.
3. Sistem hukum yang bekerja optimal dalam menjaga hak pribadi, sosial dan negara.
4. Persatuan dan kesatuan nasional disatukan oleh ketaatan pada konstitusi, nilai, tradisi dan cita-cita bersama.
5. Sikap anti imperialisme yang mendorong kemajuan ekonomi sebagai dasar kekuatan pembangunan di segala bidang.
6. Birokrasi sipil dan militer yang profesional, modern, serta melayani sebagai wajah keberadaban pemerintah. Sekaligus menjadi lokomotif peradaban bangsa.
7. Partai politik yang selaras dengan konstitusi, senafas dengan kepentingan dan kemajuan bangsa yang berbasis pada meritokrasi, integritas dan dedikasi.
8. Kolaborasi manusia dan teknologi yang efektif dalam mendorong sistem kehidupan yang up to date, berorientasi pada masa depan dan berdaya saing.
9. Memelihara Lingkungan hidup sebagai komponen utama dalam mendukung ekosistem kehidupan yang berkelanjutan menuju negara yang makmur, damai dan sentosa.
Berbasis nilai-nilai diatas, implikasi kemajuan RRC tidak saja dirasakan oleh Rakyat China, melainkan juga oleh para negara sahabat di kawasan Asia Pasifik, serta dunia.
Wajar saja jika kemajuan RRC hari ini menggetarkan negara adidaya lain.
Menuju Indonesia emas 2045, apa yang telah dicapai China semestinya menjadi inspirasi bagi bangsa dan pemerintah Indonesia.
Kita tidak bisa sejajar dengan negara maju jika tidak memiliki pondasi nilai yang bukan saja ditulis dan diajarkan, tetapi juga dilaksanakan secara kolektif dan berkelanjutan.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini











