• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Jumat, Mei 1, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Ironi Nobel Perdamaian dan Wajah Baru Kontra-Revolusi

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
16 Oktober 2025
di Opini
Waktu membaca: 5 menit lebih
A A
0

oleh :
Ahmad Faisal Ibrahim
Sekretaris DPK Partai PRIMA Kota Bogor

‎Sorot Merah Putih – Ketika Komite Nobel di Oslo mengumumkan bahwa penghargaan Nobel Perdamaian 2025 diberikan kepada Maria Corina Machado, banyak pihak menyambutnya sebagai kemenangan demokrasi di Venezuela.

BacaLainnya

MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

22 April 2026

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026

Machado disebut sebagai pejuang hak asasi manusia dan simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Namun, bagi rakyat pekerja Venezuela dan kaum kiri di seluruh dunia, keputusan itu justru menjadi lelucon pahit.

Sebab perempuan yang dielu-elukan itu bukanlah pejuang perdamaian, melainkan agen restorasi neoliberalisme-wajah baru dari apa yang disebut kontra-revolusi borjuis.

Demokrasi sebagai Kedok Restorasi Neoliberal

Sejak awal, Maria Corina Machado bukan hadir dari rahim rakyat tertindas, melainkan dari kelas borjuis lama yang kekuasaannya runtuh setelah revolusi Bolivarian di bawah Hugo Chávez.

Ia dikenal sebagai pendukung privatisasi, pembela kepentingan perusahaan minyak multinasional, dan figur yang secara terbuka meminta intervensi Washington untuk menggulingkan pemerintahan sah Venezuela.

Ia bukan berjuang untuk demokrasi substantif-yakni kekuasaan rakyat atas sumber daya dan kehidupan mereka sendiri-melainkan untuk mengembalikan Venezuela ke orbit kapitalisme global.

Machado adalah wajah yang sopan dari sebuah proyek lama: pengambilalihan kembali kekayaan nasional oleh korporasi internasional. Di bawah slogan “kebebasan”, ia berjuang agar minyak Venezuela kembali dikelola oleh swasta.

Di bawah dalih “hak asasi manusia”, ia mendukung sanksi ekonomi yang justru membuat jutaan rakyat kehilangan akses terhadap pangan dan obat-obatan.

Baca Juga  Menutup 2025, Menyongsong 2026 dengan Disiplin dan Keyakinan Politik Rakyat

Itulah ironi paling menyakitkan: penghargaan “perdamaian” diberikan kepada seseorang yang membela sanksi-alat perang paling halus dari imperialisme modern.

Kontra-Revolusi dan Kekerasan yang Berpakaian Moral

Dalam sejarah politik Latin Amerika, pola seperti ini sudah berulang kali muncul. Dari Chili hingga Bolivia, dari Nikaragua hingga Brasil, setiap kali kekuasaan rakyat mulai membangun sistem ekonomi yang menantang logika pasar global, selalu muncul figur-figur “demokrat” yang mengusung reformasi pro-pasar sebagai jalan penyelamatan bangsa. Mereka adalah agen kontra-revolusi—bukan dengan senjata, tapi dengan narasi moral. Demokrasi dijadikan selimut bagi kepentingan modal.

Kekerasan mereka tidak lagi berupa kudeta militer berdarah, melainkan pembunuhan ekonomi yang bertahap: embargo, blokade, dan privatisasi. Inilah bentuk baru imperialisme abad ke-21.

Ia tak lagi datang dengan kapal perang, tapi dengan perjanjian dagang, lembaga keuangan internasional, dan penghargaan bergengsi seperti Nobel Perdamaian.

Dari Caracas ke Jakarta: Kontra-Revolusi Finansial

Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi di Venezuela. Dalam bentuk yang lebih halus, pola kontra-revolusi juga hidup dalam kebijakan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga yang mengaku “pro-rakyat”.

Salah satunya bisa kita lihat dalam kebijakan fiskal Indonesia, yang tampak berpihak pada rakyat namun tetap tunduk pada logika akumulasi kapital.

Contohnya, kebijakan penyuntikan dana pemerintah ke bank-bank milik negara untuk kemudian disalurkan ke masyarakat dalam bentuk kredit berbunga rendah. Di permukaan, kebijakan ini tampak mulia: negara hadir memberi akses modal kepada rakyat kecil.

Namun jika dicermati secara struktur, kebijakan ini tetap beroperasi dalam kerangka kapitalisme finansial.

Negara bukan sedang mentransfer alat produksi atau menghapus ketergantungan rakyat pada pasar, tetapi justru memperluas relasi hutang dan memperdalam cengkeraman lembaga keuangan terhadap rakyat.

Baca Juga  Analisis Gaya Bahasa Politik Prabowo: Dibedah dari Linguistik

Rakyat menjadi pelanggan tetap sistem perbankan, bukan pemilik sarana produksi. Negara berperan sebagai penjamin agar roda kapital tetap berputar-agar bank tetap mendapat keuntungan, dan sektor riil tetap beroperasi di bawah sistem kredit.

Itulah bentuk kontra-revolusi finansial: negara tampil seolah penyelamat, padahal fungsinya menjaga keberlangsungan akumulasi kapital.

Kemanusiaan yang Diprivatisasi

Baik Maria Machado di Venezuela maupun para teknokrat ekonomi di Indonesia, sama-sama berbicara dengan bahasa yang lembut: demokrasi, stabilitas, kemanusiaan, dan kesejahteraan.

Namun di balik diksi-diksi itu, tersembunyi logika yang sama-yakni mempertahankan sistem yang menindas manusia melalui mekanisme pasar. Kemanusiaan diprivatisasi, dan moralitas dijadikan instrumen legitimasi.

Kita sedang hidup dalam zaman ketika kontra-revolusi tidak lagi perlu menembak atau memenjarakan.

Cukup dengan mengendalikan ekonomi dan membingkai wacana. Ketika rakyat lapar, mereka disebut “tidak efisien”; ketika rakyat melawan, mereka disebut “anti-demokrasi”.

Inilah perang kelas dalam bentuk yang paling modern-perang wacana dan struktur ekonomi.

Menolak Kontra-Revolusi yang Berwajah Kemanusiaan

Pemberian Nobel Perdamaian kepada Maria Corina Machado seharusnya dibaca bukan sebagai penghargaan bagi perjuangan rakyat Venezuela, tetapi sebagai puncak dari depolitisasi makna perdamaian.

Perdamaian kini diartikan sebagai tunduknya bangsa-bangsa terhadap tatanan ekonomi global; bukan sebagai keadilan sosial, tapi sebagai kestabilan pasar.

Dengan begitu, penghargaan itu sejatinya bukan hadiah bagi perjuangan, melainkan tanda kemenangan kapital atas revolusi.

Tugas kita hari ini adalah membongkar ironi semacam itu. Bahwa “perdamaian” tanpa keadilan hanyalah bentuk baru dari penindasan.

Bahwa “pemberdayaan” tanpa perubahan struktur ekonomi hanyalah cara halus untuk melestarikan ketimpangan.

Dan bahwa setiap kebijakan yang tidak menantang akar akumulasi kapital, pada akhirnya, hanyalah kontra-revolusi yang dibungkus kemanusiaan.

Sejarah selalu berputar dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan isi yang sama. Dari Caracas hingga Jakarta, dari Washington hingga Oslo, perjuangan antara kapital dan rakyat terus berlangsung dalam rupa yang semakin halus.

Baca Juga  Urgensitas Keberadaan Hakim Komisaris dalam Penegakan Hukum KUHP 2023

Jika Maria Machado disebut pejuang perdamaian, maka yang kita hadapi bukan hanya ironi politik, melainkan dekadensi moral dunia yang telah menjadikan kapitalisme sebagai agama baru.

Sebab sesungguhnya, tidak ada perdamaian tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa pembebasan dari kapital.***

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Kekerasan yang Berpakaian MoralMaria Corina MachadoNobel Perdamaian 2025Partai Prima Kota BogorRestorasi Neoliberal
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Menko Yusril: Pemerintah Tak Intervensi Hukum, Praperadilan Delpedro Jalan Sesuai Prosedur

Posting Selanjutnya

Menhan Sjafrie Sebut Presiden Prabowo Bekerja Tanpa Libur Selama Setahun Pemerintahan

Related Posts

MBG yang Bersih, Dampak yang Berlipat: Dari Gizi Siswa hingga Penggerak Ekonomi Lokal

22 April 2026

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026
ilustrasi

Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

28 Maret 2026
ilustrasi

MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

26 Maret 2026

Dari Dekonstruksi ke Rekonstruksi: Jika Rocky Gerung Masuk Pemerintahan Prabowo Subianto

4 Maret 2026
Posting Selanjutnya
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menilai Presiden Prabowo Subianto bekerja total tanpa kenal waktu selama satu tahun pemerintahannya. (Foto: Kemenhan)

Menhan Sjafrie Sebut Presiden Prabowo Bekerja Tanpa Libur Selama Setahun Pemerintahan

Selamat Ulang Tahun ke-74 Tokoh Perdamaian Dunia Presiden Prabowo Subianto: Satu Tahun Kepemimpinan untuk Indonesia yang Kuat dan Bermartabat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu, 29 April 2026

Presiden Prabowo Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Rp116 Triliun di Cilacap

30 April 2026

ADPPI Tegaskan Peran Kunci Jumhur Hidayat dalam Sinkronisasi Transisi Energi dan Lingkungan

29 April 2026

KPK Dorong Reformasi Tata Kelola Parpol untuk Cegah Korupsi Politik Sejak Hulu

27 April 2026

Rocky Gerung Hadiri Pelantikan Jumhur Hidayat, Soroti Isu Lingkungan Jadi Penentu Politik Gen Z

27 April 2026

KPK-Lemhannas Gembleng 110 Calon Pemimpin Berintegritas di Tengah Ancaman Konflik Kepentingan

24 April 2026
dok KAI

COO Danantara Dony Oskaria Pacu Modernisasi KAI untuk Transportasi Massal Terintegrasi Berkelanjutan

23 April 2026

Minimnya Anggaran KPK dan Dampaknya Terhadap Efektivitas Pemberantasan Korupsi di Indonesia

23 April 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rocky Gerung Hadiri Pelantikan Jumhur Hidayat, Soroti Isu Lingkungan Jadi Penentu Politik Gen Z

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Rp116 Triliun di Cilacap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ADPPI Tegaskan Peran Kunci Jumhur Hidayat dalam Sinkronisasi Transisi Energi dan Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Sjafrie Sjamsoeddin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima TNI Agus Subiyanto Mutasi 5 Perwira Isi Jabatan Strategis di BIN, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio