• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Sabtu, Juni 20, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Ironi Nobel Perdamaian dan Wajah Baru Kontra-Revolusi

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
16 Oktober 2025
di Opini
Waktu membaca: 5 menit lebih
A A
0

oleh :
Ahmad Faisal Ibrahim
Sekretaris DPK Partai PRIMA Kota Bogor

‎Sorot Merah Putih – Ketika Komite Nobel di Oslo mengumumkan bahwa penghargaan Nobel Perdamaian 2025 diberikan kepada Maria Corina Machado, banyak pihak menyambutnya sebagai kemenangan demokrasi di Venezuela.

BacaLainnya

MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Machado disebut sebagai pejuang hak asasi manusia dan simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Namun, bagi rakyat pekerja Venezuela dan kaum kiri di seluruh dunia, keputusan itu justru menjadi lelucon pahit.

Sebab perempuan yang dielu-elukan itu bukanlah pejuang perdamaian, melainkan agen restorasi neoliberalisme-wajah baru dari apa yang disebut kontra-revolusi borjuis.

Demokrasi sebagai Kedok Restorasi Neoliberal

Sejak awal, Maria Corina Machado bukan hadir dari rahim rakyat tertindas, melainkan dari kelas borjuis lama yang kekuasaannya runtuh setelah revolusi Bolivarian di bawah Hugo Chávez.

Ia dikenal sebagai pendukung privatisasi, pembela kepentingan perusahaan minyak multinasional, dan figur yang secara terbuka meminta intervensi Washington untuk menggulingkan pemerintahan sah Venezuela.

Ia bukan berjuang untuk demokrasi substantif-yakni kekuasaan rakyat atas sumber daya dan kehidupan mereka sendiri-melainkan untuk mengembalikan Venezuela ke orbit kapitalisme global.

Machado adalah wajah yang sopan dari sebuah proyek lama: pengambilalihan kembali kekayaan nasional oleh korporasi internasional. Di bawah slogan “kebebasan”, ia berjuang agar minyak Venezuela kembali dikelola oleh swasta.

Di bawah dalih “hak asasi manusia”, ia mendukung sanksi ekonomi yang justru membuat jutaan rakyat kehilangan akses terhadap pangan dan obat-obatan.

Itulah ironi paling menyakitkan: penghargaan “perdamaian” diberikan kepada seseorang yang membela sanksi-alat perang paling halus dari imperialisme modern.

Baca Juga  Alam: Titik Temu Sejarah dan Masa Depan

Kontra-Revolusi dan Kekerasan yang Berpakaian Moral

Dalam sejarah politik Latin Amerika, pola seperti ini sudah berulang kali muncul. Dari Chili hingga Bolivia, dari Nikaragua hingga Brasil, setiap kali kekuasaan rakyat mulai membangun sistem ekonomi yang menantang logika pasar global, selalu muncul figur-figur “demokrat” yang mengusung reformasi pro-pasar sebagai jalan penyelamatan bangsa. Mereka adalah agen kontra-revolusi—bukan dengan senjata, tapi dengan narasi moral. Demokrasi dijadikan selimut bagi kepentingan modal.

Kekerasan mereka tidak lagi berupa kudeta militer berdarah, melainkan pembunuhan ekonomi yang bertahap: embargo, blokade, dan privatisasi. Inilah bentuk baru imperialisme abad ke-21.

Ia tak lagi datang dengan kapal perang, tapi dengan perjanjian dagang, lembaga keuangan internasional, dan penghargaan bergengsi seperti Nobel Perdamaian.

Dari Caracas ke Jakarta: Kontra-Revolusi Finansial

Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi di Venezuela. Dalam bentuk yang lebih halus, pola kontra-revolusi juga hidup dalam kebijakan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga yang mengaku “pro-rakyat”.

Salah satunya bisa kita lihat dalam kebijakan fiskal Indonesia, yang tampak berpihak pada rakyat namun tetap tunduk pada logika akumulasi kapital.

Contohnya, kebijakan penyuntikan dana pemerintah ke bank-bank milik negara untuk kemudian disalurkan ke masyarakat dalam bentuk kredit berbunga rendah. Di permukaan, kebijakan ini tampak mulia: negara hadir memberi akses modal kepada rakyat kecil.

Namun jika dicermati secara struktur, kebijakan ini tetap beroperasi dalam kerangka kapitalisme finansial.

Negara bukan sedang mentransfer alat produksi atau menghapus ketergantungan rakyat pada pasar, tetapi justru memperluas relasi hutang dan memperdalam cengkeraman lembaga keuangan terhadap rakyat.

Rakyat menjadi pelanggan tetap sistem perbankan, bukan pemilik sarana produksi. Negara berperan sebagai penjamin agar roda kapital tetap berputar-agar bank tetap mendapat keuntungan, dan sektor riil tetap beroperasi di bawah sistem kredit.

Baca Juga  Soeharto Ditetapkan sebagai Pahlawan, Merendahkan Standar Kita dalam Bernegara

Itulah bentuk kontra-revolusi finansial: negara tampil seolah penyelamat, padahal fungsinya menjaga keberlangsungan akumulasi kapital.

Kemanusiaan yang Diprivatisasi

Baik Maria Machado di Venezuela maupun para teknokrat ekonomi di Indonesia, sama-sama berbicara dengan bahasa yang lembut: demokrasi, stabilitas, kemanusiaan, dan kesejahteraan.

Namun di balik diksi-diksi itu, tersembunyi logika yang sama-yakni mempertahankan sistem yang menindas manusia melalui mekanisme pasar. Kemanusiaan diprivatisasi, dan moralitas dijadikan instrumen legitimasi.

Kita sedang hidup dalam zaman ketika kontra-revolusi tidak lagi perlu menembak atau memenjarakan.

Cukup dengan mengendalikan ekonomi dan membingkai wacana. Ketika rakyat lapar, mereka disebut “tidak efisien”; ketika rakyat melawan, mereka disebut “anti-demokrasi”.

Inilah perang kelas dalam bentuk yang paling modern-perang wacana dan struktur ekonomi.

Menolak Kontra-Revolusi yang Berwajah Kemanusiaan

Pemberian Nobel Perdamaian kepada Maria Corina Machado seharusnya dibaca bukan sebagai penghargaan bagi perjuangan rakyat Venezuela, tetapi sebagai puncak dari depolitisasi makna perdamaian.

Perdamaian kini diartikan sebagai tunduknya bangsa-bangsa terhadap tatanan ekonomi global; bukan sebagai keadilan sosial, tapi sebagai kestabilan pasar.

Dengan begitu, penghargaan itu sejatinya bukan hadiah bagi perjuangan, melainkan tanda kemenangan kapital atas revolusi.

Tugas kita hari ini adalah membongkar ironi semacam itu. Bahwa “perdamaian” tanpa keadilan hanyalah bentuk baru dari penindasan.

Bahwa “pemberdayaan” tanpa perubahan struktur ekonomi hanyalah cara halus untuk melestarikan ketimpangan.

Dan bahwa setiap kebijakan yang tidak menantang akar akumulasi kapital, pada akhirnya, hanyalah kontra-revolusi yang dibungkus kemanusiaan.

Sejarah selalu berputar dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan isi yang sama. Dari Caracas hingga Jakarta, dari Washington hingga Oslo, perjuangan antara kapital dan rakyat terus berlangsung dalam rupa yang semakin halus.

Jika Maria Machado disebut pejuang perdamaian, maka yang kita hadapi bukan hanya ironi politik, melainkan dekadensi moral dunia yang telah menjadikan kapitalisme sebagai agama baru.

Baca Juga  Urgensitas Keberadaan Hakim Komisaris dalam Penegakan Hukum KUHP 2023

Sebab sesungguhnya, tidak ada perdamaian tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa pembebasan dari kapital.***

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Kekerasan yang Berpakaian MoralMaria Corina MachadoNobel Perdamaian 2025Partai Prima Kota BogorRestorasi Neoliberal
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Menko Yusril: Pemerintah Tak Intervensi Hukum, Praperadilan Delpedro Jalan Sesuai Prosedur

Posting Selanjutnya

Menhan Sjafrie Sebut Presiden Prabowo Bekerja Tanpa Libur Selama Setahun Pemerintahan

Related Posts

MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026
Posting Selanjutnya
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menilai Presiden Prabowo Subianto bekerja total tanpa kenal waktu selama satu tahun pemerintahannya. (Foto: Kemenhan)

Menhan Sjafrie Sebut Presiden Prabowo Bekerja Tanpa Libur Selama Setahun Pemerintahan

Selamat Ulang Tahun ke-74 Tokoh Perdamaian Dunia Presiden Prabowo Subianto: Satu Tahun Kepemimpinan untuk Indonesia yang Kuat dan Bermartabat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Smartboard, Teknologi Pembelajaran Digital yang Menjadi Program Presiden Prabowo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima TNI Agus Subiyanto Mutasi 5 Perwira Isi Jabatan Strategis di BIN, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Sjafrie Sjamsoeddin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dedy, Kamu Sudah Berada di Surga yang Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com | djituberita.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio