Sorot Merah Putih, Garut – Di balik dinding putih rumah sakit, mutu seharusnya mengalir seperti nadi: pelan tapi pasti, konsisten, dan tidak bergantung pada kehadiran tim surveior akreditasi.
Namun realitas di lapangan kerap menunjukkan kecenderungan sebaliknya-mutu kerap dipanggil hadir hanya saat dibutuhkan, lalu menghilang kembali ke balik tumpukan dokumen dan rutinitas administratif.
Dalam perbincangan mendalam bersama dr. Yuli Aryani Hermawan, Sp.PK., M.Kes., M.H., C.M.C., Ketua Komite Mutu RSUD dr. Slamet Garut, terungkap kegelisahan tentang bagaimana konsep mutu dalam layanan kesehatan sering kali disalahpahami dan direduksi menjadi sekadar urusan prosedural.
“Mutu itu bukan proyek. Dia jalan panjang,” ujar dr. Yuli. Jum’at (13/6/2025).
Sebuah kalimat yang sederhana namun kuat, menyiratkan bahwa mutu bukan pencapaian instan, melainkan komitmen jangka panjang yang harus tertanam dalam setiap langkah pelayanan—mulai dari penyambutan pasien, koordinasi antar profesi, hingga kebijakan manajerial rumah sakit.
Mutu Bukan Seremonial Akreditasi
Menurut dr. Yuli, paradigma yang selama ini berlaku masih sering memosisikan mutu sebagai ‘tamu kehormatan’ saat akreditasi. Padahal, mutu harusnya menjadi penghuni tetap dalam seluruh aktivitas rumah sakit.
Ia harus hadir dalam percakapan sehari-hari tenaga kesehatan, dalam cara menyapa pasien, hingga dalam tindakan sekecil apapun yang menyangkut keselamatan jiwa manusia.
“Sering kali kita sibuk menyiapkan SOP, mengejar kelengkapan berkas, tetapi lupa bahwa esensi mutu adalah kesetiaan pada nilai kemanusiaan, bukan sekadar kepatuhan administratif,” ungkapnya.Kritik Bernada Cinta
Apa yang disampaikan dr. Yuli bukanlah gugatan terhadap institusi, melainkan bentuk cinta terhadap RSUD dr. Slamet—tempatnya mengabdi. Ia justru menyuarakan refleksi penting: mutu tidak boleh bergantung pada siapa yang memimpin atau siapa yang datang menilai. Mutu harus menjadi budaya kolektif.
Salah satu kegelisahan utama yang ia soroti adalah kecenderungan melihat sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana teknis belaka. “Kita butuh rumah sakit yang menghargai nalar dan nurani,” ujarnya tegas.
Ia mengingatkan bahwa tenaga medis dan non-medis bekerja dalam tekanan luar biasa: perawat yang kelelahan, dokter yang dikejar waktu, hingga admin yang berjibaku dengan sistem digital yang sering kali tidak stabil.
Dalam kondisi seperti ini, mutu tidak bisa hanya hadir dalam bentuk laporan, tapi dalam sikap dan kepedulian nyata terhadap pasien.
Dari Sistem ke Nurani
Pergeseran paradigma, menurut dr. Yuli, harus dimulai dari keberanian bertanya: apakah sistem yang ada hari ini masih berpihak pada keselamatan pasien, atau hanya menciptakan rasa aman semu bagi pengelola?
“Laporan yang rapi tidak menjamin kenyataan yang sehat. Ketika terjadi ketimpangan antara dokumen dan realita, maka kepercayaan publik yang menjadi taruhannya,” tegasnya.
Ia juga menyinggung peran teknologi—yang kini menjadi tulang punggung layanan rumah sakit.
“Digitalisasi memang penting, tapi harus disertai niat baik dan kompetensi. Sistem, secanggih apapun, tidak bisa menggantikan etika pelayanan,” katanya.
Menuju Rumah Nurani
Meski banyak tantangan, dr. Yuli menyimpan keyakinan besar bahwa RSUD dr. Slamet Garut bisa menjadi model rumah sakit daerah yang unggul—bukan hanya dalam angka, tapi dalam kepercayaan.
Sebab, menurutnya, kepercayaan masyarakat tidak bisa dibeli dengan akreditasi, tetapi dibangun melalui konsistensi, keberanian mengakui kekeliruan, dan ketulusan membenahi diri.
“Kita tidak sedang bicara soal rumah sakit mana. Kita sedang bicara tentang cara rumah sakit melihat dirinya,” pungkasnya.
Menutup, dr. Yuli memberikan gambaran yang menyentuh: Jika rumah sakit adalah bangunan tempat menyembuhkan, maka mutu adalah rumah bagi nurani. Dan di rumah itu, semua pihak—dokter, perawat, cleaning service, hingga manajemen—adalah penjaga nilai-nilainya.
“Mutu bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan panjang yang hanya bisa ditempuh jika kita melangkah bersama—dengan integritas, kejujuran, dan hati nurani,” pungkasnya.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















