Sorot Merah Putih – Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto mengungkapkan tanggapan Presiden RI Prabowo Subianto atas bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara pada Selasa (25/11/2025).
Lima kabupaten terdampak Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Mandailing Natal, dan Nias Utara mengalami kerusakan berat akibat intensitas hujan tinggi. Data awal pada Rabu (26/11/2025) mencatat 13 korban meninggal dunia, sebagian besar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga. Enam korban tewas dan dua orang hilang tercatat di Tapanuli Selatan.
Suharyanto menyampaikan, jumlah korban berpotensi bertambah karena akses komunikasi dan transportasi menuju daerah terdampak masih terputus. Hujan deras yang terus mengguyur juga menyulitkan proses evakuasi, termasuk melalui jalur udara.
“Akses darat tidak bisa dilalui karena longsor dan banjir. Helikopter pun sulit masuk,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan melalui kanal YouTube BNPB, Rabu (26/11/2025).
Presiden Minta Laporan Setiap Malam
Suharyanto mengatakan Presiden Prabowo, melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, memerintahkan BNPB dan seluruh kementerian/lembaga terkait untuk turun langsung membantu warga.
“Saya diperintah Presiden melalui Seskab. Dari tadi malam beliau sudah bertanya kondisi di lapangan, dan pagi ini menanyakan perkembangan lagi. Presiden selalu memonitor keselamatan warga yang harus dibantu pemerintah pusat,” jelasnya.
BNPB saat ini berupaya membuka jalur logistik dan komunikasi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah modifikasi cuaca agar pesawat pengangkut bantuan dapat mendarat dengan aman.
“Kami buka dulu jalur transportasi dan komunikasi,” katanya.
Bantuan BNPB telah tiba di Bandara Silangit. Koordinasi dengan BPBD, TNI–Polri, dan pemerintah daerah terus dilakukan untuk mempercepat penanganan.
Data Terbaru: 43 Meninggal, 88 Hilang
Polda Sumatra Utara merilis data terbaru pada Kamis (27/11/2025) yang menyebutkan total korban mencapai 212 orang, terdiri atas 43 meninggal dunia, 81 luka-luka, dan 88 orang masih dalam pencarian.
“Jumlah warga yang mengungsi mencapai 1.168 orang,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan.
WALHI: Kerusakan Ekosistem Batang Toru Perparah Risiko
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Utara menilai bencana yang berulang hampir setiap tahun dipicu oleh kerusakan ekosistem Batang Toru. Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Jaka Kelana Damanik, mengatakan wilayah terdampak masuk kategori risiko tinggi banjir bandang dan longsor sesuai Kajian Risiko Bencana Provinsi Sumatra Utara 2022–2026.
“Hanya Kabupaten Samosir yang masuk kategori risiko rendah, sedangkan sebagian besar wilayah berada pada kelas risiko tinggi,” ujar Jaka.
Ia menilai temuan ini seharusnya menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan yang mampu meminimalisasi dampak bencana dan lebih berpihak pada kelestarian lingkungan.
Jaka juga mengingatkan agar narasi penyebab bencana tidak hanya menyalahkan curah hujan tinggi.
“Padahal saat banjir tiba, terlihat banyak kayu terbawa arus. Jika dilihat dari citra satelit, tampak kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi,” jelasnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















