• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, April 20, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Amerika: Serikat Dagang Perang

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
23 Juni 2025
di Opini
Waktu membaca: 5 menit lebih
A A
0

‎oleh :
Arvindo Noviar

‎Sorot Merah Putih – Amerika Serikat tidak mencintai perdamaian. Mereka hanya alergi terhadap kemerdekaan yang tidak bisa mereka kendalikan. Dan seperti dewa murka dengan tombol rudal di genggaman, mereka kembali membom Iran.

BacaLainnya

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026
ilustrasi

Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

28 Maret 2026

Alasannya? “Ancaman global.” Sebuah mantra klise yang mereka kumandangkan setiap kali ada negara yang mencoba berpikir dan berdiri sendiri.

‎Iran bukan ancaman. Iran hanya tidak mau disuruh duduk, diam, dan patuh. Dan itu, dalam kitab suci geopolitik versi Amerika, sudah cukup untuk divonis layak dibinasakan.

‎Amerika bukan negara superpower. Ia adalah kongsi perdagangan darah, perusahaan multinasional yang memperdagangkan bom, propaganda, dan pemakaman massal dalam satu paket ekspor.

Yang mereka jual bukan hanya senjata, tapi legitimasi untuk membunuh siapa pun yang tak mau ikut baris.

‎Lihat rekam jejaknya: Irak, dihancurkan demi senjata pemusnah massal yang bahkan Tuhan pun tak pernah melihatnya.

Afghanistan, dua dekade diduduki atas nama demokrasi, lalu ditinggal begitu saja dengan Taliban sebagai salam perpisahan.

Libya, dari negara paling makmur di Afrika, disulap jadi negara gagal-karena presidennya terlalu percaya diri membangun kedaulatan.

Suriah, dilumat pelan-pelan lewat perang proksi, diselingi embargo, dan dibumbui dalih moral.

Vietnam, diserang dengan napalm dan agen oranye, karena satu dosa besar: ingin merdeka tanpa lisensi kapitalisme Amerika.

Nicaragua, disulut konflik lewat pendanaan kelompok kontra-revolusi, agar rakyatnya tetap miskin dan patuh.

Baca Juga  Presiden Prabowo Disambut Hangat di Parade Hari Nasional 60 Tahun Kemerdekaan Singapura

Chile, Presidennya digulingkan karena terlalu sosialis bagi selera Wall Street-dan tentu saja CIA hadir seperti juru selamat.

Panama, diserbu bukan karena bahaya, tapi karena perlu diperingatkan siapa bos di halaman belakang.

Granada, negara mungil yang dibantai hanya karena berani dekat dengan Kuba.

Honduras, El Salvador, Guatemala-dipakai sebagai ladang eksperimen neoliberalisme bersenjata, lengkap dengan bonus kekacauan dan migrasi massal.

Dan seperti biasa, di balik setiap kehancuran itu, selalu ada kontrak senjata yang diteken, saham industri militer yang melonjak, dan pidato manis dari Gedung Putih soal demokrasi dan nilai universal.

Demokrasi yang dimaksud bukanlah sistem, melainkan ritual pemujaan pada satu tuhan tunggal: Amerika, pasal satu, ayat satu. Siapa menyembah, selamat. Siapa tidak, siap-siap dihajar atas nama kebebasan.

‎Itu bukan kebijakan luar negeri. Itu adalah bisnis kehancuran dengan branding humanistik.

Demokrasi bagi Amerika adalah produk ekspor. Kalau bisa dibeli, bagus. Kalau tidak, ya dibom saja.

Mereka tidak membawa perdamaian. Mereka membawa lisensi untuk menghancurkan dengan gaya elegan.

‎Dan jangan lupa: di Timur Tengah, ada satu negara yang menjadi franchise kekerasan paling sukses-Israel.

Negara yang berdiri di atas tanah curian, dibela mati-matian oleh penjajah lama, dan diberi kekebalan penuh untuk melakukan apa pun atas nama “hak untuk bertahan”.

Mereka bisa membunuh anak-anak Palestina, mengebom sekolah, rumah sakit, bahkan pengungsi, dan dunia akan tetap bersalaman.

Karena pembunuhan yang dilakukan oleh sekutu dianggap “respon proporsional”.

‎Israel adalah negara impunitas. Negara yang berhasil membajak narasi kemanusiaan global. Mereka menjajah dengan kitab di satu tangan, dan senapan M16 di tangan yang lain.

Mereka tidak hanya membunuh fisik rakyat Palestina, mereka membunuh makna keadilan itu sendiri.

Baca Juga  Waktunya Prabowo Meletakkan Dasar Ekonomi Baru, Mulai dari BUMN

‎Sementara itu, dunia hanya bisa menggumam: “kami prihatin”.

‎Ah, prihatin-bahasa paling steril dan busuk yang diciptakan dalam diplomasi internasional.

Diucapkan sambil duduk nyaman di ruang ber-AC, ditutup dengan jamuan makan malam, dan tidak menggoyang satu pun kontrak dagang.

Dunia pura-pura buta karena pembunuhnya adalah pelanggan utama. Dunia pura-pura netral, padahal diamnya adalah bentuk pembenaran.

‎Dan kita, Indonesia? Terlalu lama diposisikan sebagai bangsa sopan yang disuruh tepuk tangan sambil menonton pertunjukan pembantaian.

Tapi kali ini, setidaknya, kita punya pemimpin yang berani keluar barisan: Prabowo.

Pertemuannya dengan Putin bukan soal memilih kubu, tapi soal menunjukkan bahwa kita tidak sudi terus-menerus diperlakukan seperti anak bawang dalam jamuan para algojo.

Menolak tunduk bukan sikap anti-Barat. Itu adalah tanda bahwa kita masih punya harga diri.

Amerika menyerang Iran bukan karena Iran berbahaya, tapi karena Iran menolak dibeli. Dan itu, bagi imperium yang hidup dari penguasaan total, adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Maka mereka kirim bom, lalu menunggu dunia menyetujui dengan diam.

‎Hari ini, seluruh umat manusia yang waras wajib melawan. Serangan ini bukan sekadar agresi militer, ini adalah deklarasi bahwa hukum internasional bisa diinjak-injak asal pelakunya punya veto dan kapal induk.

Ini adalah pembantaian yang disulap jadi kebijakan luar negeri. Sistem internasional telah menjelma pasar gelap moral, di mana nyawa diperjualbelikan dan kemanusiaan dipreteli untuk dijadikan jargon kampanye.

Amerika dan Israel adalah pelaku utama, dan setiap lidah yang menolak menyebut mereka dengan jelas adalah bagian dari konspirasi bisu yang membuat kejahatan terus berlangsung.

‎Mereka yang bersuara hanya ketika musuh mereka membunuh, tapi bungkam saat sekutu mereka membantai, bukanlah pejuang kemanusiaan. Mereka hanyalah pemelihara ilusi. Dan hari ini, dunia penuh dengan penjilat yang berkedok netralitas.

Baca Juga  Gelar Pahlawan Bukan untuk Gembong Koruptor dan Pelanggar HAM

‎Jangan sebut ini kebencian. Ini adalah bentuk paling sehat dari akal sehat yang muak melihat darah ditumpahkan atas nama moral.

Karena dalam dunia yang sudah digadaikan ke tangan tukang bom, menolak tunduk adalah satu-satunya bentuk ibadah yang tersisa.

‎Dan jika tulisan ini membuat pembela penjajah merasa tersinggung-maka ‎pelurunya tepat sasaran.*

Jakarta, 23 Juni 2025

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Amerika Serikatnegara superpowerPresiden Federasi Rusia Vladimir PutinPresiden Prabowo SubiantoSerikat Dagang Perang
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Pemerintah Apresiasi PLN Sukses Suplai Listrik Andal Full di Formula E 2025 Jakarta

Posting Selanjutnya

Diskominfo Garut Gandeng BSSN Perkuat Keamanan Siber dan Berantas Judi Online

Related Posts

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026
ilustrasi

Tak Ada Sosialisme Indonesia Tanpa Hilirisasi dan Industrialisasi

28 Maret 2026
ilustrasi

MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

26 Maret 2026

Dari Dekonstruksi ke Rekonstruksi: Jika Rocky Gerung Masuk Pemerintahan Prabowo Subianto

4 Maret 2026
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan bersejarah di Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/02/2026)

Agreement on Reciprocal Trade 19/02/2026: Preseden Buruk Diplomasi Indonesia

26 Februari 2026
Posting Selanjutnya
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut menerima kunjungan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Gedung Public Information Center (PIC) Diskominfo Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (23/6/2025).

Diskominfo Garut Gandeng BSSN Perkuat Keamanan Siber dan Berantas Judi Online

Ziarah ke Makam RM Margono, Menkop Tegaskan Komitmen Bangun Ekonomi Kerakyatan Lewat Kopdes Merah Putih

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Pandangan ADPPI atas Gagasan Menteri Keuangan Purbaya terkait Penataan Geo Dipa dan PNM dalam Ekosistem BUMN Panas Bumi dan Transisi Energi Nasional

18 April 2026

Ikhtiar Mengungkap Kasus Besar

16 April 2026

SIAGA 98 Desak Kejelasan dan Aksi Nyata Percepatan Reformasi Polri

11 April 2026

KPK Tekankan Penguatan Integritas Pimpinan BRIN di Tengah Risiko Korupsi Sektor Riset

10 April 2026

Presiden Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum dan Konsensus Kebangsaan Jadi Fondasi Utama Negara

9 April 2026
dok MKRI

MK Gelar Uji Materi UU APBN 2026, Soroti Skema dan Legalitas Program Makan Bergizi Gratis

3 April 2026

Inovasi Korlantas Polri: ETLE Handheld Tingkatkan Efektivitas Penindakan di Jalan

2 April 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menhan Sjafrie Bertemu Menhan USA Peter Hegseth, Bahas Stabilitas dan Keamanan Kawasan Asia Tenggara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Profil Mayjen (Purn) Glenny Kairupan, Direktur Utama Baru Garuda dengan Latar Militer dan Pengalaman Panjang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Logo Baru, Semangat Baru: Pindad Tegaskan Komitmen Kemandirian Teknologi Pertahanan Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima TNI Agus Subiyanto Mutasi 5 Perwira Isi Jabatan Strategis di BIN, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio