oleh :
Arvindo Noviar
Sorot Merah Putih – Amerika Serikat tidak mencintai perdamaian. Mereka hanya alergi terhadap kemerdekaan yang tidak bisa mereka kendalikan. Dan seperti dewa murka dengan tombol rudal di genggaman, mereka kembali membom Iran.
Alasannya? “Ancaman global.” Sebuah mantra klise yang mereka kumandangkan setiap kali ada negara yang mencoba berpikir dan berdiri sendiri.
Iran bukan ancaman. Iran hanya tidak mau disuruh duduk, diam, dan patuh. Dan itu, dalam kitab suci geopolitik versi Amerika, sudah cukup untuk divonis layak dibinasakan.
Amerika bukan negara superpower. Ia adalah kongsi perdagangan darah, perusahaan multinasional yang memperdagangkan bom, propaganda, dan pemakaman massal dalam satu paket ekspor.
Yang mereka jual bukan hanya senjata, tapi legitimasi untuk membunuh siapa pun yang tak mau ikut baris.
Lihat rekam jejaknya: Irak, dihancurkan demi senjata pemusnah massal yang bahkan Tuhan pun tak pernah melihatnya.
Afghanistan, dua dekade diduduki atas nama demokrasi, lalu ditinggal begitu saja dengan Taliban sebagai salam perpisahan.
Libya, dari negara paling makmur di Afrika, disulap jadi negara gagal-karena presidennya terlalu percaya diri membangun kedaulatan.
Suriah, dilumat pelan-pelan lewat perang proksi, diselingi embargo, dan dibumbui dalih moral.
Vietnam, diserang dengan napalm dan agen oranye, karena satu dosa besar: ingin merdeka tanpa lisensi kapitalisme Amerika.
Nicaragua, disulut konflik lewat pendanaan kelompok kontra-revolusi, agar rakyatnya tetap miskin dan patuh.
Chile, Presidennya digulingkan karena terlalu sosialis bagi selera Wall Street-dan tentu saja CIA hadir seperti juru selamat.
Panama, diserbu bukan karena bahaya, tapi karena perlu diperingatkan siapa bos di halaman belakang.
Granada, negara mungil yang dibantai hanya karena berani dekat dengan Kuba.
Honduras, El Salvador, Guatemala-dipakai sebagai ladang eksperimen neoliberalisme bersenjata, lengkap dengan bonus kekacauan dan migrasi massal.
Dan seperti biasa, di balik setiap kehancuran itu, selalu ada kontrak senjata yang diteken, saham industri militer yang melonjak, dan pidato manis dari Gedung Putih soal demokrasi dan nilai universal.
Demokrasi yang dimaksud bukanlah sistem, melainkan ritual pemujaan pada satu tuhan tunggal: Amerika, pasal satu, ayat satu. Siapa menyembah, selamat. Siapa tidak, siap-siap dihajar atas nama kebebasan.
Itu bukan kebijakan luar negeri. Itu adalah bisnis kehancuran dengan branding humanistik.
Demokrasi bagi Amerika adalah produk ekspor. Kalau bisa dibeli, bagus. Kalau tidak, ya dibom saja.
Mereka tidak membawa perdamaian. Mereka membawa lisensi untuk menghancurkan dengan gaya elegan.
Dan jangan lupa: di Timur Tengah, ada satu negara yang menjadi franchise kekerasan paling sukses-Israel.
Negara yang berdiri di atas tanah curian, dibela mati-matian oleh penjajah lama, dan diberi kekebalan penuh untuk melakukan apa pun atas nama “hak untuk bertahan”.
Mereka bisa membunuh anak-anak Palestina, mengebom sekolah, rumah sakit, bahkan pengungsi, dan dunia akan tetap bersalaman.
Karena pembunuhan yang dilakukan oleh sekutu dianggap “respon proporsional”.
Israel adalah negara impunitas. Negara yang berhasil membajak narasi kemanusiaan global. Mereka menjajah dengan kitab di satu tangan, dan senapan M16 di tangan yang lain.
Mereka tidak hanya membunuh fisik rakyat Palestina, mereka membunuh makna keadilan itu sendiri.
Sementara itu, dunia hanya bisa menggumam: “kami prihatin”.
Ah, prihatin-bahasa paling steril dan busuk yang diciptakan dalam diplomasi internasional.
Diucapkan sambil duduk nyaman di ruang ber-AC, ditutup dengan jamuan makan malam, dan tidak menggoyang satu pun kontrak dagang.
Dunia pura-pura buta karena pembunuhnya adalah pelanggan utama. Dunia pura-pura netral, padahal diamnya adalah bentuk pembenaran.
Dan kita, Indonesia? Terlalu lama diposisikan sebagai bangsa sopan yang disuruh tepuk tangan sambil menonton pertunjukan pembantaian.
Tapi kali ini, setidaknya, kita punya pemimpin yang berani keluar barisan: Prabowo.
Pertemuannya dengan Putin bukan soal memilih kubu, tapi soal menunjukkan bahwa kita tidak sudi terus-menerus diperlakukan seperti anak bawang dalam jamuan para algojo.
Menolak tunduk bukan sikap anti-Barat. Itu adalah tanda bahwa kita masih punya harga diri.
Amerika menyerang Iran bukan karena Iran berbahaya, tapi karena Iran menolak dibeli. Dan itu, bagi imperium yang hidup dari penguasaan total, adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Maka mereka kirim bom, lalu menunggu dunia menyetujui dengan diam.
Hari ini, seluruh umat manusia yang waras wajib melawan. Serangan ini bukan sekadar agresi militer, ini adalah deklarasi bahwa hukum internasional bisa diinjak-injak asal pelakunya punya veto dan kapal induk.
Ini adalah pembantaian yang disulap jadi kebijakan luar negeri. Sistem internasional telah menjelma pasar gelap moral, di mana nyawa diperjualbelikan dan kemanusiaan dipreteli untuk dijadikan jargon kampanye.
Amerika dan Israel adalah pelaku utama, dan setiap lidah yang menolak menyebut mereka dengan jelas adalah bagian dari konspirasi bisu yang membuat kejahatan terus berlangsung.
Mereka yang bersuara hanya ketika musuh mereka membunuh, tapi bungkam saat sekutu mereka membantai, bukanlah pejuang kemanusiaan. Mereka hanyalah pemelihara ilusi. Dan hari ini, dunia penuh dengan penjilat yang berkedok netralitas.
Jangan sebut ini kebencian. Ini adalah bentuk paling sehat dari akal sehat yang muak melihat darah ditumpahkan atas nama moral.
Karena dalam dunia yang sudah digadaikan ke tangan tukang bom, menolak tunduk adalah satu-satunya bentuk ibadah yang tersisa.
Dan jika tulisan ini membuat pembela penjajah merasa tersinggung-maka pelurunya tepat sasaran.*
Jakarta, 23 Juni 2025
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














