Sorot Merah Putih, Purwokerto – 27 tahun pasca Reformasi, sejumlah mantan aktivis 1998 asal Purwokerto kembali bertemu dalam sebuah forum reflektif.
Mereka tak lagi mengangkat poster di jalanan, tapi membentuk simpul gerakan moral lintas generasi, sebagai upaya merawat ingatan kolektif dan menjaga api perjuangan tetap menyala di tengah arus zaman.
Dalam satu acara bertajuk “Merawat Ingatan, Menjaga Perjuangan” ini digelar selama dua hari, 30-31 Mei 2025, di Kampus FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan kawasan Baturraden.
Para mantan anggota Forum Aksi Mahasiswa Purwokerto untuk Reformasi (FA-MPR) hadir, membawa semangat refleksi atas 27 tahun perjalanan Reformasi 1998.
“Ini bukan forum untuk membakar ban atau merancang aksi massa, tetapi ruang untuk menyegarkan kembali nilai-nilai perjuangan yang hari ini mulai meredup, terutama di kampus-kampus,” ujar Ecep S Yasa seorang jurnalis senior, pemimpin redaksi tvonenews.com dan koordinator simpul Jakarta Raya.
Dalam forum tersebut, disepakati pembentukan dua simpul utama: Simpul Purwokerto Raya dipimpin oleh legislator Jawa Tengah, Juli Krisdianto, dan Simpul Jakarta Raya dikoordinasi oleh Ecep Suwardiyasa.
Keduanya akan dibantu oleh Agus Wahyudi dan Ori Wulandari (advokat) sebagai koordinator lapangan harian untuk memastikan kesinambungan komunikasi dan aktivitas.
Jarot C. Setiyoko, seniman Banyumas sekaligus aktivis FA-MPR, menegaskan bahwa simpul ini bukanlah organisasi politik, melainkan jembatan silaturahmi untuk menjaga memori perjuangan.
“Kami tidak membawa agenda kekuasaan. Ini adalah ruang kolektif untuk memastikan nilai-nilai anti-KKN, demokrasi, dan keadilan sosial tetap hidup,” kata Jarot.
Momentum peringatan ini juga menjadi ruang evaluasi atas dinamika gerakan mahasiswa saat ini.
Menurut Ecep, hadirnya simpul ini penting sebagai penyeimbang moral di tengah generasi muda yang menghadapi gempuran budaya instan dan pragmatisme digital.
“Saat kampus kehilangan gema idealismenya, simpul ini hadir bukan untuk turun ke jalan, tetapi untuk menjaga keberpihakan pada kemanusiaan dan nilai kebangsaan,” tegasnya.

Acara diisi dengan sesi testimoni lintas generasi, pemutaran film dokumenter perjuangan mahasiswa Purwokerto, serta pameran atribut aksi dari era Orde Baru hingga awal Reformasi.
Alumni hadir dari beragam profesi, mulai dari jurnalis, akademisi, aktivis NGO, hingga profesional di sektor swasta.
Salah satu momen mengharukan adalah kehadiran Agus Judarto, mantan Kapolres Banyumas tahun 1998, yang dahulu menjadi ‘lawan’ di lapangan. Kini ia duduk berdampingan dengan para mantan demonstran, mengenang masa penuh gejolak.
“Saya ingat betul orasi mahasiswa dari atas pikap. Semangat memberantas KKN itu nyata. Dan saya kira, semangat itu tak boleh padam,” ujar Agus.
Kang Dede Nurdin Sadat, salah satu inisiator kegiatan sekaligus mantan aktivis mahasiswa Purwokerto, mengenang masa-masa krusial 1998 sebagai periode pengorbanan dan solidaritas yang luar biasa.
Ia bercerita tentang bagaimana para mahasiswa saat berdiskusi hingga larut malam demi sebuah perubahan.

“Waktu itu, kami hanya berbekal idealisme dan semangat melawan ketidakadilan. Tidak ada imbalan, tidak ada panggung. Tapi kami percaya, kalau negara ingin berubah, mahasiswa harus berdiri paling depan,” kenang Kang Dede.
Kini, setelah 27 tahun berlalu, ia melihat tantangan baru yang tak kalah besar: bagaimana para mantan aktivis bisa tetap relevan dan memberi kontribusi nyata dalam pembangunan.
“Saatnya aktivis 98 tidak sekadar bernostalgia. Kita harus merebut kembali hati rakyat, dengan terlibat dalam pembangunan yang pro terhadap keadilan sosial dan kepentingan masyarakat luas, khususnya mengawal agenda-agenda kerakyatan Presiden Prabowo,” ujarnya.
Kang Dede juga berharap simpul ini bisa menjadi ruang regenerasi bagi aktivis muda, agar nilai-nilai perjuangan tetap hidup dan diwariskan dengan cara yang kontekstual di era digital dan disrupsi sosial saat ini.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk rekan-rekan seperjuangan yang telah wafat, serta malam keakraban di lereng Baturraden, sebagai simbol bahwa perjuangan, meski tak lagi di jalanan, tetap hidup dalam ikatan nilai, memori, dan harapan.*
Baca juga :
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini















