• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Kamis, Juni 4, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Nasional

Trump, Cacat Demokrasi Amerika

Opini: Rachland Nashidik (Mantan Pengurus DPP Partai Demokrat)

Ihsan Subhan oleh Ihsan Subhan
25 Juni 2025
di Nasional
Waktu membaca: 4 menit lebih
A A
0
Rachland Nashidik

Rachland Nashidik

Sorot Merah Putih – Amerika Serikat selama ini mengklaim dirinya sebagai kampiun demokrasi dan hak asasi manusia. Ia menyebut dirinya mercusuar kebebasan, pelindung kaum minoritas, dan pemimpin moral dunia. Namun, ironi terbesar dalam politik global modern justru lahir dari negeri ini: dalam dua pemilu berdekatan, rakyat Amerika memilih seorang presiden yang secara terang-terangan memerangi nilai-nilai itu sendiri.

Presiden Trump membangun kekuasaan politiknya dengan menyebar kebohongan, mengejek lawan, mendorong diskriminasi rasial dalam kebijakan imigrasi, dan memperlakukan demonstrasi damai sebagai ancaman keamanan. Ia bahkan tak segan mengerahkan tentara federal untuk menghadapi warganya sendiri. Tapi benarkah ia hanya sebuah anomali?

BacaLainnya

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Menko Polkam Apresiasi Komjak, Dorong Insan Adhyaksa Terus Berprestasi dan Menjaga Integritas

30 Mei 2026

Menag Nasaruddin Umar Umumkan Hasil Sidang Isbat: 1 Zulhijah 1447 H pada 18 Mei 2026, Iduladha Jatuh 27 Mei

18 Mei 2026

Jangan-jangan, tidak. Trump bisa jadi adalah simbol dari krisis yang lebih dalam—krisis yang berakar pada kegagalan sistem demokrasi Amerika untuk melindungi diri dari ancaman yang tumbuh dari dalam tubuhnya sendiri. Tapi, sekali lagi, kenapa justru Trump yang dipilih Amerika?

Salah satu jawabannya ada pada sistem pemilu itu sendiri. Presiden di Amerika Serikat tidak dipilih berdasarkan popular vote, melainkan melalui mekanisme Elektoral College, sebuah sistem perwakilan tidak langsung di mana setiap negara bagian memiliki jumlah elektoral yang tidak selalu proporsional dengan jumlah penduduknya. Negara bagian kecil atau kurang berpenduduk memiliki bobot suara yang relatif lebih besar per individu dibanding negara bagian besar seperti California atau New York. Akibatnya, suara warga di negara bagian minoritas politik bisa “mengalahkan” suara mayoritas nasional.

Baca Juga  Sinergi Kuat Menuju Asta Cita: PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Capai Rp1,200 Triliun

Pada pemilu 2016, Hillary Clinton meraih hampir tiga juta suara lebih banyak dari Trump dalam popular vote, tetapi tetap kalah karena Trump unggul di negara-negara bagian kunci dengan jumlah elektoral strategis. Dengan kata lain, sistem ini memungkinkan seorang kandidat menjadi presiden tanpa memenangkan suara terbanyak secara nasional. Ketimpangan inilah yang membuka jalan bagi kekuatan politik konservatif yang semakin terpinggirkan secara demografis, tetapi tetap dominan secara institusional.

Namun, struktur elektoral hanyalah pintu. Yang menggerakkan kemenangan Trump lebih dalam lagi adalah luka sejarah yang belum pulih. Naiknya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat memang menyalakan harapan akan kesetaraan, tetapi sekaligus memicu gelombang reaksi balik dari kelompok kulit putih yang merasa tersingkir dari narasi nasional. Mereka tak lagi merasa memiliki tempat dalam definisi sosial dan politik. Bagi mereka, kemajuan itu bukanlah pembebasan, melainkan ancaman terhadap tatanan sosial yang selama ini melindungi posisi mereka.

Trump membaca keresahan itu dan mengubahnya menjadi bahan bakar politik. Ia tidak datang membawa gagasan baru, melainkan janji pengembalian. Slogannya, Make America Great Again, bukan sekadar retorika kampanye. Ia adalah kode nostalgia—bahkan mungkin perintah sunyi—untuk mengembalikan dominasi kulit putih yang mereka anggap telah dirampas. Dalam empat kata itu, terkandung kerinduan akan masa ketika suara mayoritas tidak perlu berkompromi, ketika keberagaman belum menjadi arus utama, dan ketika keunggulan kulit putih tidak dipertanyakan.

Perhatikanlah: Trump melangkah masuk di tengah ketidakpastian ekonomi dan keguncangan budaya yang dialami banyak warga kelas pekerja kulit putih. Mereka merasa tersingkir dari janji kemakmuran Amerika. Pabrik-pabrik ditutup. Pekerjaan mereka digantikan oleh mesin. Nilai-nilai sosial yang dulu mereka anut mengalami alienasi dalam lanskap baru multikulturalisme. Mereka merasa dilupakan oleh elite politik, dihina oleh media, dan digeser oleh kelompok-kelompok dalam gerakan correctness yang tiba-tiba mendapat ruang lebih besar.

Baca Juga  Lonjakan Penderita Diabetes, Indonesia dalam Keadaan Darurat?

Dalam situasi seperti itu, Trump tampil sebagai sosok yang berbicara dalam bahasa mereka: kasar, gamblang, dan penuh kemarahan. Ia tidak membawa visi kebijakan, tetapi menunjuk siapa musuh. Bukan masa depan yang ia janjikan, melainkan pelampiasan atas luka masa kini. Dan bagi jutaan orang, itu terdengar seperti harapan.

Di era media sosial yang penuh polarisasi, pesan seperti itu menyebar lebih cepat daripada akal sehat. Trump menjadi penguasa narasi alternatif. Ia menanamkan gagasan bahwa media arus utama tak dapat dipercaya. Bahwa tak ada tokoh kecuali dia sendiri yang mewakili “suara rakyat”. Tentu saja dalam kampanye, klaim yang melebih-lebihkan diri sendiri sebenarnya lumrah saja. Tapi algoritma media sosial kemudian memperkuat amarah, menciptakan ruang gema, dan menyingkirkan percakapan yang berbasis nalar.

Trump juga tampil sebagai figur kuat dalam masa krisis. Pandemi, migrasi besar, dan perang budaya memperkuat kebutuhan akan kepemimpinan tegas—meski dengan risiko otoritarianisme. Dalam sejarah, saat masyarakat dilanda ketakutan, mereka sering kali memilih kekuatan daripada kebenaran, ketegasan daripada kebijaksanaan. Trump memahami hal itu, dan membungkusnya dengan semangat “melawan balik” terhadap semua yang dianggap asing, liberal, atau globalis.

Apa yang terjadi di Amerika kelihatannya bukan hanya kesalahan atau keburukan seorang individu, tetapi manifestasi dari demokrasi yang kehilangan kedalaman. Tanpa keadilan dan solidaritas sosial, demokrasi justru menjadi pintu bagi tirani—yang muncul melalui pemilu yang sah.

Amerika hari ini adalah pelajaran penting bagi dunia: bahwa demokrasi saja, an sich, tidak otomatis menghasilkan pemimpin yang baik. Suara mayoritas bisa dibentuk oleh rasa takut, bukan oleh rasionalitas. Demokrasi seharusnya bukan sekadar prosedur memilih, tetapi kebudayaan yang dibangun di atas kejujuran, keadilan, dan harapan bersama. Ketika fondasi itu runtuh, bahkan bangsa paling merdeka pun bisa memilih pemimpin paling berbahaya—dan melakukannya dengan sorak-sorai.**

Baca Juga  Ustadz Adi Hidayat Bakal Jadi Pengganti Gus Miftah Sebagai Utusan Khusus Presiden? Berapa Gajinya?

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

KKP dan Pemprov Jabar Sepakati Revitalisasi Tambak Pantura: Dorong Ketahanan Pangan, Serap 119 Ribu Tenaga Kerja

Posting Selanjutnya

Usulan Pemakzulan Wapres Gibran, Dasco Tegaskan akan Kaji Penuh Kehati-hatian Sesuai Mekanisme

Related Posts

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Menko Polkam Apresiasi Komjak, Dorong Insan Adhyaksa Terus Berprestasi dan Menjaga Integritas

30 Mei 2026

Menag Nasaruddin Umar Umumkan Hasil Sidang Isbat: 1 Zulhijah 1447 H pada 18 Mei 2026, Iduladha Jatuh 27 Mei

18 Mei 2026

Beredar Undangan Catut Nama BGN, Bimtek SPPG Nasional 2026 Dipastikan Palsu

10 Mei 2026

SIAGA 98: Pernyataan Amien Rais Hoaks, ‘Black Campaign’ Cederai Etika Demokrasi

3 Mei 2026

ADPPI Tegaskan Peran Kunci Jumhur Hidayat dalam Sinkronisasi Transisi Energi dan Lingkungan

29 April 2026
Posting Selanjutnya
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad di Komplek Parlemen

Usulan Pemakzulan Wapres Gibran, Dasco Tegaskan akan Kaji Penuh Kehati-hatian Sesuai Mekanisme

Polemik Seleksi Direksi PDAM Garut: Minim Keterbukaan, Publik Dipinggirkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

2 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Menko Polkam Apresiasi Komjak, Dorong Insan Adhyaksa Terus Berprestasi dan Menjaga Integritas

30 Mei 2026

Presiden Prabowo Beri Taklimat kepada 1.095 Perwira Siswa TNI-Polri di Seskoad Bandung

29 Mei 2026

Tinjau PLTP Darajat, Bupati Garut Dorong Swasembada Energi Bersih dan Ekonomi Berkelanjutan

21 Mei 2026

Artikel Terpopuler

  • Profil Sjafrie Sjamsoeddin

    Profil Sjafrie Sjamsoeddin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menko Polkam Apresiasi Komjak, Dorong Insan Adhyaksa Terus Berprestasi dan Menjaga Integritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio