oleh :
Yerikho Manurung
Putera Parapat,
Kandidat Magister Mukum
Sorot Merah Putih – Parapat masuk dalam Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, salah satu kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Simalungun. Pada masa penjajahan Belanda, Girsang dan Sipangan Bolon merupakan wilayah dari Kerajaan Tanah Jawa yang dinamai Landschap Tanah Jawa, sedangkan Parapat merupakan kawasan Tuan Dolok Panribuan yang dinamai distrik Dolok Panribuan.
Setelah Indonesia merdeka, Girsang, Sipangan Bolon, Parapat, Tigaraja dan Sibaganding sekitarnya dibentuk menjadi satu kecamatan yang dinamai Kecamatan Parapat yang terdiri dari tiga puluh satu kepala kampung, karena pada waktu itu ada peraturan khusus yang mengatakan bahwa setiap dua puluh lima rumah tangga dapat dibentuk menjadi satu kepala kampung.
Pada tahun 1960 nama Kecamatan Parapat diubah namanya menjadi Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, berdasarkan sejarah yaitu wilayah Girsang Sipangan Bolon adalah Landschap Tanah Jawa, sedangkan Parapat adalah distrik Dolok Panribuan, dimana Landschap lebih besar dari Distrlk.
Pada tahun 1980 untuk meningkatkan kinerja pemerintahan, tiga nagori (desa) di wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon diangkat statusnya menjadi kelurahan, adapun ketiga kelurahan tersebut adalah: Tigaraja, Parapat, dan Girsang.
SWISS Kecil
Berjarak 175 Km dari Medan, Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Parapat persis berada di bibir Pantai Danau Toba.
Jaman Kolonial Belanda, khususnya era Tanam Paksa dibawah Gubernur Jenderal Van Mook, Parapat adalah pusat plesiran bangsawan Eropah. Udara sejuk, nyaman menjadi pilihan bagi kaum pemodal Eropa.
Hotel Parapat dibangun pada tahun 1921 oleh Belanda yang bukan saja menjadi tempat penginapan para pebisnis juga misionaris yang melakukan misi penyebaran agama di kawasan seputar Danau Toba.
Dua bangunan dibawah ini menjadi sejarah bahwa Kota Parapat juga kota pahlawan. Tak heran oleh kolonial dinamai “ Swiss Kecil”.
Sampai pada tahun 1997, Parapat adalah salah satu daerah tujuan wisata (DTW) Danau Toba selain Brastagi yang masuk Kabupaten Karo.
Kota yang memiliki luas 126.00 Km2 dengan jumlah penduduk 18.915 jiwa ini sepanjang sejarahnya pernah memiliki event nasional yakni Pesta Danau Toba yang saat itu mampu mendatangkan kunjungan wisatawan yang sangat signifikan.
Faktor ini juga yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berkolerasi dengan kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Simalungun.
Jika kita telisik lebih dalam, masa kejayaan Parapat menjadi salah satu ikon parawisata Sumatera Utara terjadi dimasa era 1980-an sampai dengan era 1990-an atau sebelum krisis moneter 1997 yang memukul dunia parawisata.
Artinya, hanya dalam satu dekade namun mampu menghasilkan peningkatan pertumbuhan ekonomi termasuk produk turunan parawisata berupa cindera mata dari kerajinan lokal penduduk sekitar Parapat baik Tomok, Tuktuk, Muara atau daerah pinggir Danau Toba lainnya.
Sarana dan prasarana yang telah ada di Parapat memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan adanya kalender event yang permanen. Saat ini hal tersebut tidak ada lagi.
Hal yang sama juga merupakan saran yang disampaikan Biro Pusat Statistik Kabupaten Simalungun yang mencatat minimnya event-event kebudayaan di Parapat.
Akibatnya, meski terjadi peningkatan jumlah kunjungan namun bersifat sementara dalam pengertian tidak lebih dari sehari.
Bahkan, kalimat sinisme muncul yang menyebutkan bahwa Parapat “hanya perlintasan” sebelum menuju Samosir atau Toba. Bertolak belakang dengan masa Pesta Danau Toba digelar dahulu yang mampu membuat pengunjung long stay.
Dalam Peraturan Presiden Nomor 89 Tahun 2024 Tentang Rencana Induk Destinasi Parawisata Nasional Danau Toba Tahun 2024-2044, Parapat menjadi Key Tourism Area (KTA) meliputi Parapat, Ajibata, Sibaganding & Sibisa, meski Ajibata & Sibisa masuk wilayah Kabupaten Toba namun kultural & geografis berdekatan dengan Parapat.
Arah pengembangan DPN Danau Toba tahun 2024-2044 akan dilaksanakan dalam 5 (lima) tahap, dan TAHAP PERTAMA: KEBANGKITAN (Tahun 2024).
Pada tahap ini pengembangan DPN Danau Toba difokuskan untuk mengembalikan tren kunjungan wisatawan mancanegara yang berfluktuasi ke arah pertumbuhan yang positif.
Pelaksanaannya akan menekankan pada perubahan pola pikir untuk memperbaiki komitmen dan kontribusi Pemangku Kepentingan dalam rangka penyehatan kondisi lingkungan strategis.
Inisiatif besar yang akan menjadi pengungkit mencakup peningkatan infrastruktur dan kualitas layanan pariwisata sesuai dengan standar pelayanan minimal, serta dilengkapi dengan perluasan pasar.
Rencana Pengembangan KTA Parapat Pengembangan akan difokuskan pada tema Meeting Incentiue, Conference, and Exhibition (MICE) serta rekreasi.
Pengembangan dilakukan melalui penataan kawasan wisata seperti Pantai Bebas, Hotel Inna Parapat, Alun-alun Parapat, Rumah Pengasingan Bung Karno, Kampung (Nelayan) Tiga Raja, Pelabuhan Ajibata, Long Beach Ajibata, seberang Hotel Atsari, serta kawasan perdagangan dan jasa lainnya.
Keberadaan Pantai Bebas, wisata, serta koridor yang ramah terhadap pejalan kaki berpotensi menjadi ikon pusat KTA. Rumah Pengasingan Bung Karno dapat diperbaiki untuk kelestariannya.
Pengendalian pembangunan fisik juga dilakukan untuk menjaga kualitas lingkungan. Pemberdayaan ekonomi lokal desa wisata dan kawasan wisata, salah satunya melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan dan jasa serta pemukiman dilakukan sesuai rencana pola ruang, tidak melanggar ketentuan, serta tidak merusak aset alam seperti pemandangan.
Sub KTA Sibaganding direncanakan akan dikembangkan sebagai kawasan wisata serta kawasan perdagangan dan jasa. Layanan komersial lainnya di kawasan ini akan dibangun secara harmonis dengan lingkungan alam dan permukiman tradisional.
Ruang-ruang alam terbuka dijaga dan dipastikan ramah pejalan kaki, serta dapat digunakan sebagai area berkemah.
Tidak kalah pentingnya partisipasi publik dalam proses ini. Meski kritik tajam kerap dialamatkan kepada masyarakat akibat kurangnya pelayanan kepada wisatawan, namun mengabaikan partisipan masyarakat tidak boleh terjadi, penanganan, pendekatan dan penyadaran harus terus menerus dilakukan dan dievaluasi secara periodik.
Kita tunggu.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















