Sorot Merah Putih, Jakarta — Udara pagi di kawasan Monumen Nasional, Senin (20/10/2025), terasa berbeda. Di antara barisan ribuan prajurit TNI dan Polri yang duduk melingkar di bawah langit Jakarta, langkah seorang mantan prajurit yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, terasa begitu akrab. Ia datang bukan hanya membawa pengarahan, tetapi juga oleh-oleh sederhana makanan dan minuman untuk para penjaga keamanan ibu kota.
“Saya ke sini membawa buah tangan untuk kalian. Tidak besar, tidak banyak, tapi ini bentuk perhatian kami,” ujar Djamari, disambut tepuk tangan riuh prajurit yang memadati pelataran Monas.
Kenangan Seorang Prajurit
Bagi Djamari, kunjungan ini bukan sekadar agenda protokoler. Ada kenangan panjang yang melekat. Ia pernah duduk di posisi yang sama di barisan para prajurit muda yang menunggu komando, mendengarkan nasihat pimpinan dengan tubuh letih tapi semangat tetap menyala.
“Saya dulu juga pernah duduk di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk barisan prajurit. “Dalam hati saya suka bilang, ‘pimpinan datang ke sini cuma kasih nasihat, habis itu selesai’. Tapi ternyata, perhatian sekecil apapun dari pimpinan, itu berarti besar buat kami waktu itu.”
Nada suaranya tenang, tapi penuh makna. Kalimatnya bukan sekadar motivasi, melainkan cermin empati seorang mantan prajurit yang tak lupa pada akarnya. Bagi Djamari, memberi oleh-oleh bukan soal besar-kecilnya bantuan, tapi simbol persaudaraan antar seragam.
“Semoga kalian bisa menerimanya. Mungkin kalian bosan dengan makanan dapur militer, jadi kami bawakan sesuatu yang lain,” ucapnya.
Perhatian yang Membangun Semangat
Dampak kedatangan Menko Polkam itu terasa nyata. Usai acara, para prajurit tersenyum lebar. Ada semangat baru yang tumbuh. Bukan karena nasi bungkus atau minuman dingin yang dibagikan, tapi karena mereka merasa dihargai dipahami oleh seseorang yang dulu juga pernah berbaris di bawah terik matahari seperti mereka.
Serda (Mar) Muhammad Iqbal dari Batalyon Komunikasi dan Elektronika 1 Marinir, misalnya, mengaku bangga bisa bertatap muka langsung dengan Djamari.
“Saya sangat bangga bisa dengar pengarahan beliau. Buat kami, itu menambah motivasi untuk tetap siaga dan menjunjung sumpah prajurit,” ujarnya.
Iqbal sudah disiagakan di Monas sejak awal Oktober 2025. Selama itu, dirinya dan rekan-rekannya berlatih tanpa henti mulai dari Pelatihan Dasar Militer hingga Penanggulangan Huru Hara (PHH). Kunjungan seorang Menko Polkam yang datang bukan dengan perintah, melainkan dengan perhatian, menjadi hal yang tak biasa.
Hal serupa disampaikan Sertu Nungki Putra Nurhasan dari Batalyon Parako 467 Brigade Parako I Pasgat. Ia sudah bertugas sejak September, bahkan sebelum HUT TNI digelar.
“Kami senang, gembira dapat motivasi dan semangat dari Pak Menko. Ini menambah moril kami, bikin kami makin kompak antara tiga matra dan polisi,” katanya.
Dari Lapangan ke Meja Komando
Djamari tahu betul betapa beratnya tugas menjaga keamanan ibu kota di tengah gejolak demonstrasi besar-besaran yang sempat mengguncang Jakarta beberapa waktu lalu. Karena itu, ia ingin hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai rekan seperjuangan yang paham arti lelah dan bangga seorang prajurit.
“Intinya adalah rasa perhatian kami. Harapan besar kita semua, agar tugas ini bisa dijalankan dengan baik. Selamat bertugas,” katanya menutup arahannya, sebelum menyerahkan bantuan logistik didampingi Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita dan Pangdam Jaya Mayjen Deddy Suryadi.
Di tengah gemuruh tepuk tangan dan wajah-wajah yang bersemangat, terlihat jelas: yang hadir di Monas pagi itu bukan sekadar Menko Polkam, tapi seorang mantan prajurit yang kembali menyapa masa lalunya membawa kenangan, semangat, dan penghargaan bagi mereka yang masih berdiri tegak menjaga negeri.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















