Sorot Merah Putih, Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Presiden ke-2 RI, Soeharto, berasal dari masyarakat dan telah memenuhi syarat administrasi serta substansi untuk diteruskan ke Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
“Usulan gelar pahlawan disampaikan dari kabupaten atau kota, naik ke provinsi, dan kemudian diteruskan ke Kementerian Sosial,” kata Saifullah Yusuf, Kamis (30/10/2025).
Menurut Saifullah Yusuf-yang akrab disapa Gus Ipul-usulan serupa pernah diajukan oleh Kabupaten Sragen pada tahun 2010. Namun, kala itu belum memenuhi syarat formal dan kajian historis yang dibutuhkan.
“Tahun ini, usulan gelar Pahlawan Nasional untuk Pak Harto sudah memenuhi syarat dan telah kami teruskan ke Dewan Gelar,” jelasnya.
Soeharto Masuk Daftar 40 Calon Pahlawan Nasional
Soeharto menjadi satu dari 40 tokoh yang diusulkan oleh Kementerian Sosial untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025 mendatang.
“Ke-40 nama tersebut sudah kami sampaikan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang diketuai oleh Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon,” ujar Gus Ipul.
Ia menambahkan, adanya perbedaan pandangan mengenai sosok yang diusulkan menjadi pahlawan merupakan hal wajar dalam masyarakat.
“Perbedaan pendapat tentu dapat dimaklumi, didengarkan, dan dijadikan pertimbangan. Semua tokoh pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” tuturnya.
Berikut Daftar Calon Pahlawan Nasional 2025
Kementerian Sosial melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) menerima usulan nama-nama calon pahlawan dari masyarakat di berbagai provinsi.
Dari hasil verifikasi dan kajian, terpilih 40 nama tokoh nasional yang diajukan tahun ini, diantaranya: aktivis buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, Marsinah; Presiden RI ke-2 Soeharto (Jawa Tengah); Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Jawa Timur), Syaikhona Muhammad Kholil; Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri; KH Muhammad Yusuf Hasyim dari Tebuireng, Jombang; Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf (Sulawesi Selatan); dan Jenderal TNI Purn. Ali Sadikin (Jakarta).
Selanjutnya ada Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur); H.M. Sanusi (Jawa Timur); K.H Bisri Syansuri (Jawa Timur), budayawan H.B Jassin (Gorontalo); Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat); mantan Menlu Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat); tokoh KAA 1955 Bandung H. Ali Sastroamidjojo (Jawa Timur); dr. Kariadi (Jawa Tengah); dan R.M. Bambang Soeprapto Dipokoesomo (Jawa Tengah).
Kemudian, Basoeki Probowinoto (Jawa Tengah), Raden Soeprapto (Jawa Tengah); Mochamad Moeffreni Moe’min (Jakarta); KH Sholeh Iskandar (Jawa Barat); Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Sumatra Barat); Zainal Abidin Syah (Maluku Utara); Gerrit Agustinus Siwabessy (Maluku); Chatib Sulaiman (Sumatra Barat); dan Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Sulawesi Tengah).
Proses Panjang Penetapan Gelar Pahlawan Nasional
Setiap tahun, Kementerian Sosial menyeleksi usulan dari berbagai daerah sebelum diserahkan ke Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, yang kemudian memberikan rekomendasi akhir kepada Presiden RI.
“Semua nama akan dikaji secara mendalam dari sisi kesejarahan, jasa, dan kontribusinya terhadap bangsa,” jelas Gus Ipul.
Penetapan resmi nama-nama Pahlawan Nasional tahun 2025 rencananya akan diumumkan menjelang Hari Pahlawan, 10 November, dalam upacara kenegaraan di Istana Negara.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














