Sorot Merah Putih, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya menghadirkan Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu langkah strategis memutus rantai kemiskinan absolut di Indonesia.
Program ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan bermutu bagi anak-anak dari keluarga miskin, dengan harapan mampu mengubah kondisi ekonomi mereka di masa depan.
“Sekolah Rakyat akan menjadi salah satu solusi mengatasi kemiskinan dengan memberikan pendidikan gratis dan berkualitas,” tegas Prabowo dalam keterangannya.
Langkah ini mendapat apresiasi dari Pengamat Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan. Menurutnya, pendidikan adalah instrumen kunci dalam memutus lingkaran kemiskinan.
“Kita perlu apresiasi Presiden yang terlihat sangat serius mengeksekusi program Sekolah Rakyat. Hal ini tidak mudah,” ujar Cecep, Selasa (26/8).
Pendidikan Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Meski mendukung, Cecep mengingatkan ada pekerjaan besar yang menanti. Pendidikan, kata dia, hanya akan efektif mengangkat masyarakat miskin bila lulusannya dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja yang jelas.
“Saat ini banyak lulusan SMA, SMK, bahkan sarjana yang menganggur karena tidak ada lapangan kerja. Kementerian Ketenagakerjaan harus menyiapkan strategi agar lulusan Sekolah Rakyat bisa terserap,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan lintas kementerian, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga pendampingan keluarga siswa.
Tidak Cukup Sekadar Sekolah
Cecep juga mengingatkan bahwa memutus rantai kemiskinan absolut tidak cukup hanya dengan mengirim anak-anak miskin ke sekolah. Orang tua mereka pun harus mendapatkan pendampingan agar kesejahteraan keluarga meningkat.
“Kalau hanya anaknya yang disekolahkan, itu tidak akan berdampak signifikan,” ujarnya.
Selain itu, kurikulum harus inklusif dan tidak menuntut keseragaman. “Sayang sekali jika kurikulumnya memaksa semua siswa memiliki kemampuan yang sama,” kata Cecep.
Kurikulum Berbasis Minat, Bakat, dan Potensi Lokal
Menurut Cecep, kurikulum Sekolah Rakyat harus diarahkan pada pengembangan minat dan bakat siswa. Ada yang unggul di akademik, ada pula yang lebih cocok di bidang vokasi.
“Pemetaan kemampuan siswa sangat penting, apakah di bidang sains, matematika, sosial, atau vokasi. Dari situ bisa diarahkan ke jenjang pendidikan yang sesuai,” jelasnya.
Selain itu, karakteristik lokal juga perlu dipertimbangkan. Jika sekolah berada di wilayah pesisir, misalnya, kurikulum dapat dikaitkan dengan potensi perikanan dan kelautan.
“Supaya siswa bisa mengelola lingkungannya, tidak tercerabut dari akar kehidupannya,” tambah Cecep.
Target 200 Sekolah Rakyat pada 2026
Pemerintah saat ini telah membuka 100 Sekolah Rakyat dengan dukungan 2.400 guru dan 4.400 tenaga pengajar.
Pada September 2025, 65 sekolah baru akan menyusul. Prabowo menargetkan 200 Sekolah Rakyat beroperasi tahun depan.
“Belum setahun menjabat Presiden, beliau sudah memulai model pendidikan untuk kalangan miskin. Ini gebrakan yang perlu didukung,” tutup Cecep.*Van
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















