Oleh: Lukni Maulana (Pengkaji Sosial-Ekonomi dan Transformasi Digital di Suluh Ar-Rosyid)
Sorot Merah Putih – Di setiap fase sejarah manusia, selalu ada perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pangan dan mengakses pekerjaan. Dari masa ke masa, perubahan ini tidak hanya mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi juga menunjukkan arah peradaban dan nilai-nilai yang mendasarinya.
Kita bisa melihat jejak-jejak perubahan tersebut melalui tiga generasi: generasi buyut dan simbah, generasi orang tua, dan generasi kita serta anak-anak kita hari ini.
Setiap generasi memiliki lanskap sosial, pendidikan maupun ekonomi yang berbeda, tergantung pada bagaimana alam, teknologi, dan kebijakan publik berinteraksi dan membentuk keseharian mereka.
Pada era buyut dan simbah kita, kehidupan masih sangat bergantung pada alam. Tanah adalah sumber utama kehidupan. Pangan diproduksi sendiri dari pekarangan, sawah, ladang, hutan, dan sungai.
Pekerjaan tidak harus dicari, karena hidup itu sendiri adalah kerja yang menyatu dengan alam. Menyabit rumput, menanam padi, memelihara ternak, memanen buah, menangkap ikan semuanya adalah kegiatan produktif yang menghasilkan pangan dan nilai guna langsung bagi keluarga.
Mereka tidak banyak mengenal istilah pengangguran, karena setiap hari mereka bekerja, meski tak bergaji. Tak ada surat lamaran pekerjaan, tak perlu ijazah formal.
Yang mereka miliki adalah pengalaman hidup, keterampilan yang diwariskan, dan etika gotong royong. Pangan adalah hasil dari kedekatan dengan alam dan pekerjaan adalah bagian dari cara hidup, bukan institusi terpisah.
Kemudian, kita masuk pada generasi orang tua kita yang menyaksikan bagaimana revolusi industri dan modernisasi mengubah arah.
Alam masih menyumbang pangan, tetapi sistem kehidupan mulai bergeser ke arah pekerjaan formal. Pabrik-pabrik bermunculan, sekolah menjadi bagian penentu masa depan, dan perkantoran jadi simbol keberhasilan.
Banyak dari mereka tetap punya sawah atau kebun, tetapi mulai berkurang intensitasnya. Mereka mulai mengandalkan gaji bulanan dari kantor, atau hasil usaha di pasar kota.
Pada masa ini, pekerjaan menjadi entitas baru: ada struktur, sistem, aturan, dan birokrasi. Tak semua bisa bekerja semaunya, ada tahapan seleksi, kualifikasi, dan persyaratan administratif.
Anak-anak harus sekolah tinggi untuk bisa “bekerja baik”, yang artinya duduk di belakang meja, memakai seragam, dan mendapatkan penghasilan tetap.
Namun, yang tak disadari, pada saat yang sama, tanah yang dulu jadi sumber pangan mulai dibagi-bagi kepada anak-anaknya. Alih fungsi lahan berlangsung besar-besaran: sawah menjadi perumahan, ladang menjadi pabrik, hutan menjadi objek wisata atau tambang. Sekilas tampak modern, tapi sesungguhnya ada kontradiksi dalam fondasi kehidupan.
Kini, kita hidup di masa transisi besar menuju era digital. Generasi saat ini, juga generasi anak-anak kita nanti tidak lagi memiliki kedekatan dengan alam sebagaimana buyut dan simbah mereka.
Bahkan orang tuanya pun sudah tidak lagi menggarap tanah. Mereka hidup di kota, belajar melalui layar, makan dari makanan olahan, dan bermain di dunia virtual. Pekerjaan tak lagi terbatas pada gedung dan kantor, tetapi ada di dunia maya yang tak kasat mata.
Era ini menawarkan banyak kemudahan, namun juga menyimpan tantangan besar. Anak-anak kita menghadapi dunia yang serba cepat, serba digital, dan sangat kompetitif.
Mereka bisa bekerja sebagai content creator, programmer, analis data, atau digital marketer pekerjaan yang tidak pernah dikenal oleh simbah mereka.
Namun di sisi lain, pekerjaan semacam ini sering tidak punya kepastian jangka panjang, dan lebih banyak bersifat kontraktual atau berbasis proyek.
Teknologi memang menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga menggusur banyak jenis pekerjaan lama. Otomatisasi, kecerdasan buatan, dan platform digital menggantikan banyak fungsi manusia.
Di sisi lain, pertanian konvensional kehilangan regenerasi karena dianggap tidak menjanjikan. Anak muda lebih memilih menjadi selebgram daripada petani, meski keduanya memiliki nilai strategis masing-masing.
Alam yang dulu menyediakan pangan kini tidak lagi cukup luas atau subur karena alih fungsi dan eksploitasi. Pekerjaan yang dulu bisa diandalkan di industri kini semakin kompetitif dan terdampak oleh otomatisasi.
Dalam konteks ini, kita dihadapkan pada paradoks: kemajuan teknologi mempercepat inovasi, tetapi juga memperlebar kesenjangan.
Di sinilah peran penting kebijakan sosial dan transformasi digital yang adil harus digagas. Kita tidak bisa kembali sepenuhnya ke masa lalu yang agraris, tetapi kita bisa membangun masa depan yang lebih seimbang.
Pertanian harus direvitalisasi dengan teknologi, bukan ditinggalkan. Generasi muda harus dilatih bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta. Model pekerjaan masa depan harus lebih inklusif, adaptif, dan manusiawi.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan nilai-nilai lokal yang diperkuat teknologi, kita bisa menciptakan ekosistem yang baru di mana pangan tidak hanya datang dari supermarket, tetapi juga dari urban farming yang terintegrasi dengan kota pintar.
Pekerjaan tidak hanya berarti menjadi pegawai, tetapi juga wirausahawan digital yang menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.
Generasi mendatang tidak harus memilih antara tanah dan teknologi, antara tradisi dan inovasi. Mereka bisa merajut keduanya.
Di tangan mereka, kita berharap akan muncul kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam bukan sebagai pemilik atau penakluk, tetapi sebagai penjaga.
Mereka akan menjadi petani digital, guru virtual, pembuat konten yang mengedukasi, dan pelopor perubahan yang tetap menjejakkan kaki di bumi meski menjelajahi dunia lewat jaringan.
Akhirnya, kita semua sedang hidup di titik belok sejarah. Dari era alam, pabrik, menuju dunia digital yang tanpa batas. Namun nilai-nilai dasar seperti kerja keras, kejujuran, dan keberlanjutan tetaplah relevan.
Seperti buyut dan simbah yang bijak memelihara alam, seperti orang tua kita yang tangguh meniti jalur industrial, maka generasi hari ini pun harus punya keberanian untuk memaknai ulang pangan dan pekerjaan dalam dunia yang serba cepat dan tak menentu.
Yang berubah hanyalah caranya. Kita harus berani melangkah maju, tanpa melupakan akar. Kita harus mampu mendidik anak-anak kita agar tidak hanya menjadi penumpang dalam arus zaman, tetapi menjadi nahkoda yang siap mengarahkan kapal peradaban. []
Selamat Hari Anak Nasional 2025
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














