• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Sabtu, Agustus 29, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Dari Alam ke Algoritma: Transformasi Kebutuhan dalam Tiga Generasi

Redaksi oleh Redaksi
24 Juli 2025
di Opini
Waktu membaca: 5 menit lebih
A A
0
Lukni Maulana, ketua Lesbumi jawa tengah dan bagian dari Komunitas Sastra Merah Putih

Lukni Maulana, ketua Lesbumi jawa tengah dan bagian dari Komunitas Sastra Merah Putih

Oleh: Lukni Maulana (Pengkaji Sosial-Ekonomi dan Transformasi Digital di Suluh Ar-Rosyid)

Sorot Merah Putih – Di setiap fase sejarah manusia, selalu ada perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pangan dan mengakses pekerjaan. Dari masa ke masa, perubahan ini tidak hanya mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi juga menunjukkan arah peradaban dan nilai-nilai yang mendasarinya.

BacaLainnya

Sufmi Dasco Pertaruhkan Jabatannya di RUU Perampasan Aset

28 Agustus 2026

Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Buruh: Kedekatan yang Dibangun Lewat Dialog, Perlindungan dan Aksi Nyata

1 Agustus 2026

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

22 Juli 2026

Kita bisa melihat jejak-jejak perubahan tersebut melalui tiga generasi: generasi buyut dan simbah, generasi orang tua, dan generasi kita serta anak-anak kita hari ini.

Setiap generasi memiliki lanskap sosial, pendidikan maupun ekonomi yang berbeda, tergantung pada bagaimana alam, teknologi, dan kebijakan publik berinteraksi dan membentuk keseharian mereka.

Pada era buyut dan simbah kita, kehidupan masih sangat bergantung pada alam. Tanah adalah sumber utama kehidupan. Pangan diproduksi sendiri dari pekarangan, sawah, ladang, hutan, dan sungai.

Pekerjaan tidak harus dicari, karena hidup itu sendiri adalah kerja yang menyatu dengan alam. Menyabit rumput, menanam padi, memelihara ternak, memanen buah, menangkap ikan semuanya adalah kegiatan produktif yang menghasilkan pangan dan nilai guna langsung bagi keluarga.

Mereka tidak banyak mengenal istilah pengangguran, karena setiap hari mereka bekerja, meski tak bergaji. Tak ada surat lamaran pekerjaan, tak perlu ijazah formal.

Yang mereka miliki adalah pengalaman hidup, keterampilan yang diwariskan, dan etika gotong royong. Pangan adalah hasil dari kedekatan dengan alam dan pekerjaan adalah bagian dari cara hidup, bukan institusi terpisah.

Baca Juga  Usai Pilkada 2024, Benarkah PKS Tersingkir dari Episentrum Jabodetabek?

Kemudian, kita masuk pada generasi orang tua kita yang menyaksikan bagaimana revolusi industri dan modernisasi mengubah arah.

Alam masih menyumbang pangan, tetapi sistem kehidupan mulai bergeser ke arah pekerjaan formal. Pabrik-pabrik bermunculan, sekolah menjadi bagian penentu masa depan, dan perkantoran jadi simbol keberhasilan.

Banyak dari mereka tetap punya sawah atau kebun, tetapi mulai berkurang intensitasnya. Mereka mulai mengandalkan gaji bulanan dari kantor, atau hasil usaha di pasar kota.

Pada masa ini, pekerjaan menjadi entitas baru: ada struktur, sistem, aturan, dan birokrasi. Tak semua bisa bekerja semaunya, ada tahapan seleksi, kualifikasi, dan persyaratan administratif.

Anak-anak harus sekolah tinggi untuk bisa “bekerja baik”, yang artinya duduk di belakang meja, memakai seragam, dan mendapatkan penghasilan tetap.

Namun, yang tak disadari, pada saat yang sama, tanah yang dulu jadi sumber pangan mulai dibagi-bagi kepada anak-anaknya. Alih fungsi lahan berlangsung besar-besaran: sawah menjadi perumahan, ladang menjadi pabrik, hutan menjadi objek wisata atau tambang. Sekilas tampak modern, tapi sesungguhnya ada kontradiksi dalam fondasi kehidupan.

Kini, kita hidup di masa transisi besar menuju era digital. Generasi saat ini, juga generasi anak-anak kita nanti tidak lagi memiliki kedekatan dengan alam sebagaimana buyut dan simbah mereka.

Bahkan orang tuanya pun sudah tidak lagi menggarap tanah. Mereka hidup di kota, belajar melalui layar, makan dari makanan olahan, dan bermain di dunia virtual. Pekerjaan tak lagi terbatas pada gedung dan kantor, tetapi ada di dunia maya yang tak kasat mata.

Era ini menawarkan banyak kemudahan, namun juga menyimpan tantangan besar. Anak-anak kita menghadapi dunia yang serba cepat, serba digital, dan sangat kompetitif.

Baca Juga  Agreement on Reciprocal Trade 19/02/2026: Preseden Buruk Diplomasi Indonesia

Mereka bisa bekerja sebagai content creator, programmer, analis data, atau digital marketer pekerjaan yang tidak pernah dikenal oleh simbah mereka.

Namun di sisi lain, pekerjaan semacam ini sering tidak punya kepastian jangka panjang, dan lebih banyak bersifat kontraktual atau berbasis proyek.

Teknologi memang menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga menggusur banyak jenis pekerjaan lama. Otomatisasi, kecerdasan buatan, dan platform digital menggantikan banyak fungsi manusia.

Di sisi lain, pertanian konvensional kehilangan regenerasi karena dianggap tidak menjanjikan. Anak muda lebih memilih menjadi selebgram daripada petani, meski keduanya memiliki nilai strategis masing-masing.

Alam yang dulu menyediakan pangan kini tidak lagi cukup luas atau subur karena alih fungsi dan eksploitasi. Pekerjaan yang dulu bisa diandalkan di industri kini semakin kompetitif dan terdampak oleh otomatisasi.

Dalam konteks ini, kita dihadapkan pada paradoks: kemajuan teknologi mempercepat inovasi, tetapi juga memperlebar kesenjangan.

Di sinilah peran penting kebijakan sosial dan transformasi digital yang adil harus digagas. Kita tidak bisa kembali sepenuhnya ke masa lalu yang agraris, tetapi kita bisa membangun masa depan yang lebih seimbang.

Pertanian harus direvitalisasi dengan teknologi, bukan ditinggalkan. Generasi muda harus dilatih bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta. Model pekerjaan masa depan harus lebih inklusif, adaptif, dan manusiawi.

Dengan pendekatan berbasis komunitas dan nilai-nilai lokal yang diperkuat teknologi, kita bisa menciptakan ekosistem yang baru di mana pangan tidak hanya datang dari supermarket, tetapi juga dari urban farming yang terintegrasi dengan kota pintar.

Pekerjaan tidak hanya berarti menjadi pegawai, tetapi juga wirausahawan digital yang menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Generasi mendatang tidak harus memilih antara tanah dan teknologi, antara tradisi dan inovasi. Mereka bisa merajut keduanya.

Baca Juga  Setelah Jenderal Sudirman, Prabowo Menjadi Tokoh Panutan di TNI: Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia

Di tangan mereka, kita berharap akan muncul kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam bukan sebagai pemilik atau penakluk, tetapi sebagai penjaga.

Mereka akan menjadi petani digital, guru virtual, pembuat konten yang mengedukasi, dan pelopor perubahan yang tetap menjejakkan kaki di bumi meski menjelajahi dunia lewat jaringan.

Akhirnya, kita semua sedang hidup di titik belok sejarah. Dari era alam, pabrik, menuju dunia digital yang tanpa batas. Namun nilai-nilai dasar seperti kerja keras, kejujuran, dan keberlanjutan tetaplah relevan.

Seperti buyut dan simbah yang bijak memelihara alam, seperti orang tua kita yang tangguh meniti jalur industrial, maka generasi hari ini pun harus punya keberanian untuk memaknai ulang pangan dan pekerjaan dalam dunia yang serba cepat dan tak menentu.

Yang berubah hanyalah caranya. Kita harus berani melangkah maju, tanpa melupakan akar. Kita harus mampu mendidik anak-anak kita agar tidak hanya menjadi penumpang dalam arus zaman, tetapi menjadi nahkoda yang siap mengarahkan kapal peradaban. []

Selamat Hari Anak Nasional 2025

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: algoritmagenerasiLukni Maulana
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Presiden Prabowo Terima Pimpinan MPR, Bahas Sidang Tahunan hingga Pokok Haluan Negara

Posting Selanjutnya

Ini Alasan IPW Minta Kapolri Larang Anggota Polri Tangkap Pengguna Narkoba

Related Posts

Sufmi Dasco Pertaruhkan Jabatannya di RUU Perampasan Aset

28 Agustus 2026

Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Buruh: Kedekatan yang Dibangun Lewat Dialog, Perlindungan dan Aksi Nyata

1 Agustus 2026

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

22 Juli 2026
MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026
Posting Selanjutnya
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso

Ini Alasan IPW Minta Kapolri Larang Anggota Polri Tangkap Pengguna Narkoba

foto istimewa Taufik Rohman, Drs., SH., MH.

DAMAGE IS DONE: ANALISIS KELINDAN PSIKOSOSIOLOGIS HUKUM PERNYATAAN PROF SOFIAN EFFENDI TENTANG IJAZAH JOKOWI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Presiden Prabowo Disambut Antusias Warga Jombang Saat Hadiri Muktamar ke-35 NU

28 Agustus 2026

Sufmi Dasco Pertaruhkan Jabatannya di RUU Perampasan Aset

28 Agustus 2026

Bimo Putranto: Jokowi-Prabowo Harus Tetap Solid, Jaga Kebersamaan hingga 2029

26 Agustus 2026

Budi Arie Jangan Gunakan Wacana Pemilu untuk Mengejar Kursi Kekuasaan

25 Agustus 2026

Menhut Raja Juli Antoni Perkuat Penanganan Karhutla, 5.000 ASN Disiapkan ke Enam Provinsi

24 Agustus 2026

Presiden Prabowo Evaluasi Karhutla Kalimantan dan Pemulihan Gempa NTT, Seskab: TNI-Polri Bergerak Cepat

24 Agustus 2026

Tangani Karhutla Kalbar: Presiden Prabowo Kerahkan 3 Batalyon TNI, 6 Helikopter Water Bombing hingga OMC

22 Agustus 2026

Artikel Terpopuler

  • Presiden Prabowo: Penambahan Alutsista Perkuat Kedaulatan dan Pertahanan Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Budi Arie Jangan Gunakan Wacana Pemilu untuk Mengejar Kursi Kekuasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Evaluasi Karhutla Kalimantan dan Pemulihan Gempa NTT, Seskab: TNI-Polri Bergerak Cepat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bimo Putranto: Jokowi-Prabowo Harus Tetap Solid, Jaga Kebersamaan hingga 2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Disambut Antusias Warga Jombang Saat Hadiri Muktamar ke-35 NU

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com | djituberita.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio