Dalam perjalanan ke rumah lelaki itu, ia diajarkan untuk memahami hidup di lingkungan yang sejuk dan bersih.
Ternyata lelaki muda ini seorang pengusaha yang mengelola tanaman dan pepohonan klasik. Karena itu dia sangat mengerti tentang ekosistem pemeliharaan lingkungan agar tak terjadi kerusakan alam.
“Jika lingkungan kita bersih dan asri, kita dapat hidup nyaman, sehat, dan sejahtera, Marlin,” urainya.
Lelaki itu juga memuji aktivitas Marlin yang mencari botol plastik dan barang-barang rongsokan, sehingga kebersihan lingkungan dapat terbantu.
“Tapi kalau sudah di rumah abang, Marlin tak perlu lagi mencari barang-barang rongsokan, ya? Biar bantu abang merawat taman bunga di samping rumah. Soal duit jajan, nanti abang berikan”.
Dalam perjalanan ke rumah lelaki itu, hati Marlin diboboti dengan sejumlah pikiran, kok lelaki ini mau mengajak dia tinggal di rumahnya.
“Abang sudah mencarimu sejak seminggu lalu setelah kau menolong nenekku, Marlin. Tapi tak pernah ketemu. Setelah mendapat informasi dari berbagai orang, Alhamdulillah, hari ini abang bisa bertemu denganmu. Wuih, hati Abang gembira sekali, Dik,” ujarnya tersenyum.
Setelah melewati berbagai wilayah kota, akhirnya mereka tiba di lokasi rumah lelaki itu.
Sebuah gedung dua lantai, dengan corak sederhana, namun terkesan unik. Dominasi catnya berwarna krem.
Saat seorang pembantu rumah tangga membuka pintu pagar setinggi dua meter, terlihat rumah yang sangat indah bagai istana.
Di teras depan, seorang wanita tua duduk di kursi santai sembari membaca surat kabar menghentikan aktivitasnya.
Lalu ia berdiri dan tersenyum ke cucunya. Lalu ia memandang Marlin dan berkata,” Oh, selamat datang, Nak. Silakan masuk,” ujar perempuan tua tersebut.
Marlin segera menghampiri wanita tua itu dan langsung menyalaminya. Ia mencium punggung tangan nenek tersebut.
“Nek, inilah Marlin yang membantu ketika nenek pingsan disaat ada kegiatan lansia peduli lingkungan. Jika tidak ada Marlin ketika itu, nenek bisa tak selamat digilas truk sampah,” ujar cucunya.
Perasaan nenek itu tersentuh. Airmatanya mengucur ke pipi. Kemudian ia memeluk Marlin sebagai rasa terima kasih. “Terima kasih, Nak,” ucap Nenek.
Karena ada sentuhan rasa yang sama, Marlin pun ikut hanyut ke dalam perasaan yang tak dapat diungkapkan. (*)
24 Juli 2025
*Merawati May, lahir di Mukomuko, 12 Mei 1978. Karyanya tergabung dalam berbagai antologi al. Dan memiliki lima buku tunggal. Perjalananku (2016); Nasihat Ibu (2021); Kidung Hati Amreta (2022). Aku Milik Siapa (2023). Dari Awal sebelum akhir kenangan (2024). Karyanya tersebar di berbagai media masa baik media masa daerah, nasional dan Asean. Serta digital. Pernah masuk di jurnal puisi cinta, majalah Homagi magazin, Media sastra dan budaya, majalah semesta seni, koran
PosBali, koran NusaBali, Bali politika, majalah Jurdik.id, majalah elipsis, Majalah Redaksi apakjake, majalah Pemuisi malasiya dan blok pekerja seni Riau. Buku tunggalnya dua kali lolos di ajang FSIGB Gunung Bintan tahun 2023 dan 2024.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini











