Sorot Merah Putih – Setelah berjuang mengatasi kesulitan hidup, Marlin duduk di bawah pohon jati yang berumur sekitar duapuluh tahunan.
Anak yang baru berusia sembilan tahun tersebut, sehari-seharinya bekerja sebagai pemulung. Ia membawa karung plastik butut untuk mewadahi botol plastik dan barang-barang bekas yang ditemuinya di jalan dan bak sampah warga.
Cuaca siang ini cukup panas dan situasinya terasa sumpek. Marlin sudah terbiasa beristirahat di bawah pohon jati. Karena kelelahan, Marlin pun tertidur.
Tak lama di antaranya, seunit mobil hitam fortuner berhenti tepat di depan anak tersebut. Dari dalam mobil, keluar seorang lelaki parlente.
Ia mengenakan stelan jas, kulitnya putih, tampan dan berusia sekitar 35 tahun. Kumisnya tipis dan turun dari mobil. Dari depan mobil yang satunya, turun dua laki-laki berpakaian rapi dan mendampingi laki-laki muda tersebut.
“Adik, bangun. Dik, bangun. Kok kau tidur di sini?” tukas lelaki muda seraya menepuk pundak Marlin.
Marlin membuka matanya. Ia kaget melihat lelaki muda berbusana jas yang membangun.
“Oo, iya. Ada apa bang? Kok anda membangunkan saya,” tanya Marlin sembari mengecek-ucek matanya.
Lelaki itu duduk di samping Marlin. Ia tersenyum. “Adik, kemarin dulu kau menolong nenekku saat ia pingsan?” tanya kelaki itu.
Marlin diam sesaat. Dipandangnya wajah lelaki itu. “Iya bang. Kebetulan saat itu saya melihat nenek itu membersihkan sampah berupa botol plastik bekas, serta unsur sampah lainnya. Tapi karena beliau kelelahan, tak disangka beliau pingsan. Saya juga panik saat itu, Bang,” ujar Marlin.
“Iya, nenek saya sangat suka membersihkan lingkungan. Hatinya tidak tenang apabila lingkungan tempat tinggal warga penuh sampah dan suasananya tidak sehat,” kata lelaki itu.
“Benar sekali, Bang. Nenek abang sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Beliau mengatakan, kita harus menjaga lingkungan tempat pemukiman kita, sehingga kehidupan masyarakat dapat terjaga,” kata Marlin.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini











