Laki-laki itu tersenyum. Ia menanyakan kegiatan Marlin sehari-hari. Anak tersebut menyatakan bahwa ia hanya mencari barang-barang rongsokan untuk dijual dan hasilnya digunakan buat makan.
Lelaki itu tersentak mendengar penuturan Marlin. Ternyata Marlin hidup sendirian. Ia ditinggal ayahnya sepekan lalu, karena ayahnya meninggal disebabkan stroke.
Selama dua tahun Marlin membantu mengurus kondisi ayahnya. “Sedangkan ibuku pergi ke Jakarta dengan lelaki lain, Bang,” ujar Marlin. Airnatanya menggenang di kelopak matanya.
Akibat hidup sendirian, Marlin berhenti sekolah. Sebab, tak ada orang yang membantu membiayai pendidikannya, sehingga Marlin harus diberhentikan dari sekolahnya.
Mendengar penuturan Marlin, perasaan lelaki itu tersentuh. Perasaan laki-laki itu terguncang dan airmatanya mengucur ke pipi. “Kalau begitu, sebaiknya kau ikut abang saja. Nanti sekolahmu abang yang mengurusnya,” ucap lelaki itu.
“Apakah keadaanku ini tidak merepotkan abang?” tanya Marlin.
“Tidak, dik. Justru abang sangat senang jika bisa menolong kesengsaraan hidupmu, Marlin,” katanya.
***
Marlin setuju apabila lelaki itu mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Sebab, meski Marlin berhenti sekolah, tapi tekatnya begitu kuat untuk melanjutkan kembali pendidikannya.
Dalam perjalanan ke lorong sempit tempat ia tinggal, Marlin ditemani lelaki dan dua pengawalnya. “Di mana rumahmu, dik?” tanya lelaki berbusana jas tersebut.
Marlin mengatakan bahwa tempat tinggalnya berada di ujung lorong ini. Sebab rumah kecil milik orangtuanya itu tepat di pengujung lorong tersebut.
Sesampainya di rumah itu, Marlin membuka pintu yang engselnya sudah lepas. Secara perlahan ia masuk dan mengambil beberapa pakaiannya dari dalam.
Setelah beberapa saat Marlin keluar dari rumahnya dan langsung bergegas ke mobil laki-laki tersebut.
Lelaki itu tersentuh melihat rumah Marlin yang terbuat dari kayu rongsokan. Bahkan di beberapa tempat sudah ada papan yang terlepas sehingga Marlin harus menutupinya dengan karung plastik bekas.
Masya Allah, alangkah menderitanya anak ini. “Kalau begitu Marlin ikut abang saja, ya? Nanti abang sekolahkan. Soal makan dan pakaian, tak usah kau pikirkan. Marlin hanya membantu abang mengurus taman bunga di samping rumah,” kata lelaki itu.
Marlin tak bisa berkata-kata. Ia hanya diam dan menyatakan syukurnya kepada Allah SWT yang telah membantu memberikan jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini











