• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Minggu, Juli 26, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Alam: Titik Temu Sejarah dan Masa Depan

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
16 Mei 2025
di Opini
Waktu membaca: 5 menit lebih
A A
0

oleh: Arvindo Noviar

Sorot Merah Putih – Negeri ini bukan hanya kumpulan pulau yang disatukan oleh kesepakatan geopolitik. Ia adalah seutas nyawa panjang yang berdenyut dari akar pohon di pedalaman Papua hingga hempasan ombak di Kepulauan Natuna.

BacaLainnya

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

22 Juli 2026
MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Ia adalah simfoni antara angin, air, cahaya, dan kesabaran manusia yang hidup dari tanahnya. Namun zaman telah lama melahirkan luka.

Hutan yang dahulu tempat bernaung kini menjadi halaman pasar ekspor. Laut yang pernah menjadi kitab hidup para nelayan kini berubah menjadi industri rakus yang tak mengenal batas.

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia kehilangan lebih dari 9,7 juta hektar hutan (FAO, 2020). Angka ini bukan sekadar statistik, ia adalah nama-nama pohon yang punah, desa yang mengering, dan makhluk-makhluk kecil yang kehilangan habitatnya. Ini adalah tangisan bumi yang tidak terdengar karena tertutup suara mesin dan debat para pemilik modal.

Namun, sejarah tidak selalu bergerak ke jurang. Ia bisa dibelokkan oleh kehendak politik dan kebijaksanaan.

Pemerintah yang kini memegang tongkat kendali berbicara bukan hanya dengan suara, tetapi dengan kebijakan: ekonomi hijau dan biru sebagai jalan baru pembangunan. Bukan sekadar untuk meredam krisis iklim global, tapi untuk menjahit kembali kehormatan kita di hadapan tanah dan laut yang telah kita lukai.

Dalam tubuh ekonomi hijau, terdapat jantung berupa reforestasi nasional: penanaman kembali hutan di lahan-lahan kritis yang selama ini menjadi sumber longsor, kekeringan, dan kebakaran.

Pemerintah telah menargetkan rehabilitasi 600 ribu hektar per tahun hingga 2029, sebagai bagian dari komitmen pengurangan emisi 31,89% secara mandiri, dan hingga 43,2% dengan dukungan internasional (Updated NDC, 2022).

Baca Juga  Setelah Jenderal Sudirman, Prabowo Menjadi Tokoh Panutan di TNI: Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia

Tetapi ekonomi hijau bukan hanya soal menanam. Ia adalah tentang bagaimana kita membangun sistem pangan yang tidak merusak.

Agroforestri, sistem pertanian yang memadukan pohon, tanaman pangan, dan ternak dalam satu bentang alam, dikembangkan di lebih dari 50 kabupaten rawan krisis iklim. Sistem ini bukan saja menjaga produktivitas tanah, tapi juga menumbuhkan ketahanan pangan, pendapatan, dan pengetahuan lokal.

Energi menjadi batang tubuh dari ekonomi hijau yang sejati. Pemerintah kini sedang membangun 27 kawasan industri hijau, termasuk Kawasan Industri Hijau Kalimantan Utara (KIH KU) seluas 13.000 hektar.

Kawasan ini akan mengandalkan energi dari PLTA Mentarang dan panel surya masif untuk menggantikan bahan bakar fosil. Di luar kawasan industri, lebih dari 13 juta rumah tangga ditargetkan menggunakan energi terbarukan secara langsung melalui program PLTS atap, mikrohidro, dan biogas keluarga.

Transportasi ramah lingkungan dipacu melalui insentif kendaraan listrik. Bukan hanya untuk masyarakat kota, tetapi dirancang untuk menyentuh angkutan pedesaan dan kendaraan kerja sektor pertanian. Bahkan sepeda motor listrik untuk nelayan dan petani tengah dikembangkan agar roda hijau bisa sampai ke pinggiran.

Sementara itu, laut tidak hanya dipandang sebagai ruang eksploitatif. Ia adalah harta karun kebudayaan, jalur diplomasi, dan nadi ekonomi yang tak pernah putus.

Indonesia dengan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 6,4 juta km², menyimpan potensi ekonomi biru mencapai USD 1,33 triliun per tahun (BRIN, 2023). Tapi potensi ini ibarat harta karun yang tak akan pernah bisa dibuka jika masyarakat pesisir tetap miskin dan ekosistem laut tetap rusak.

Program rehabilitasi mangrove menjadi tulang punggung. Dengan target penanaman 600.000 hektar hingga 2025, mangrove Indonesia yang mewakili 23% dari seluruh dunia, akan dijadikan benteng hidup menghadapi perubahan iklim, sekaligus laboratorium karbon biru dunia.

Baca Juga  Megawati-Prabowo: Negarawan di Tengah Gejolak

Budidaya laut atau marine aquaculture menjadi tumpuan ekonomi pesisir yang baru. Pemerintah membangun 130 kampung perikanan budidaya berbasis komoditas unggulan lokal: dari rumput laut di Nusa Tenggara, kerapu dan kakap di Sulawesi, hingga kepiting bakau di Kalimantan. Sistemnya berbasis ekosistem dan teknologi: keramba jaring apung pintar, pakan alami, dan koneksi digital antara nelayan dan pasar.

Ekonomi biru juga membuka ruang inovasi melalui pelabuhan perikanan modern, cold storage bertenaga surya, dan digitalisasi sistem logistik hasil tangkap.

Program Fish Market Digital memungkinkan nelayan kecil menjual hasil lautnya secara langsung ke pasar besar, tanpa dipangkas tengkulak.

Konservasi laut diperluas. Kawasan konservasi perairan akan ditingkatkan dari 10% menjadi 30% pada 2045. Di sinilah laut dipeluk, bukan dijarah. Di sinilah ikan, terumbu, dan biota laut diberikan ruang untuk pulih, tumbuh, dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Ekonomi hijau dan biru bukan hanya proyek lingkungan. Ia adalah strategi geopolitik. Indonesia, sebagai negara tropis dengan ekosistem terbesar di dunia, menjadi titik krusial dalam negosiasi perubahan iklim global.

Dunia takkan bisa memenuhi target suhu 1,5°C tanpa kontribusi karbon hijau dan biru dari Indonesia.

Dengan menjadikan energi terbarukan dan karbon biru sebagai kekuatan, Indonesia dapat memimpin transisi global.

Diplomasi hijau menjadi poros baru hubungan luar negeri. Melalui inisiatif seperti Archipelagic and Island States Forum, Indonesia memperkuat solidaritas negara kepulauan, membangun kerja sama kelautan dan perubahan iklim yang strategis.

Dalam sektor energi, ketergantungan negara lain pada logam tanah jarang (rare earth), nikel, dan bauksit yang kita miliki, semua dibutuhkan untuk baterai dan turbin angin menjadikan kita pemain utama dalam rantai pasok global.

Tapi kini bukan hanya soal menjual bahan mentah, melainkan membangun pusat produksi baterai nasional yang ramah lingkungan, dari hilir hingga hulu.

Baca Juga  Dari Dekonstruksi ke Rekonstruksi: Jika Rocky Gerung Masuk Pemerintahan Prabowo Subianto

Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya mencetak pertumbuhan, tapi meneguhkan dirinya sebagai kekuatan baru yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan kelestarian.

Dunia akan memandang negeri ini bukan hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai penentu arah zaman.

Hari ini kita berdiri di antara arus sejarah: di satu sisi gelombang kemajuan, di sisi lain jurang kehancuran ekologis.

Pemerintah kini membawa obor baru yang bernama ekonomi hijau dan biru. Bukan jalan mudah. Tapi ia adalah jalan pulang. Pulang ke tanah yang rindang dan laut yang tenang. Pulang ke rumah yang selama ini kita tinggalkan demi mimpi-mimpi semu.

Semua ini bukan utopia. Ia sedang dibangun, ditanam, digali, dan ditulis. Dalam peta-peta baru, dalam kebijakan yang mulai bergulir, dalam tangan-tangan rakyat yang kini diajak menjadi pelaku utama pembangunan. Ekonomi yang tak hanya tumbuh, tapi berakar. Negara yang tak hanya kuat, tapi luhur.

Ekonomi hijau dan biru bukan sekadar rencana, melainkan janji suci menjaga napas hutan, angin, dan laut yang menghidupi kita semua.

Di tengah dunia yang terburu-buru menjarah, kita memilih menjadi pelindung sunyi, merawat alam dengan hati yang tulus dan tangan yang bijak.

Cinta tanah air terpatri bukan pada kata-kata semu, tapi dalam langkah yang menjaga jiwa bangsa agar tumbuh kuat, hidup berdampingan dengan bumi, dan bermartabat di bawah langit yang sama.

Laut yang menanti hijau adalah laut yang menanti kita pulang. Bukan sebagai penjarah, tetapi sebagai penjaga. Sebagai anak-anak tanah yang tahu cara menyembuhkan luka ibunya.

Dan semoga, dalam nafas panjang sejarah, nama Indonesia kembali ditulis bukan karena gunung emasnya, tetapi karena keberaniannya menjaga bumi.*Boelan

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Kepulauan Natunapedalaman PapuaTitik Temu Sejarah dan Masa Depan
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Presiden Prabowo Resmikan Proyek Migas Laut Natuna Kepri

Posting Selanjutnya

Jalin Sinergitas, Kapolda Jabar Siap Wujudkan Lingkungan Tertib, Aman dan Sejahtera

Related Posts

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

22 Juli 2026
MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026
Posting Selanjutnya
Kapolda Jabar Irjen Pol. Rudi Setiawan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Karyoto, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi rakor dan penandatanganan MoU

Jalin Sinergitas, Kapolda Jabar Siap Wujudkan Lingkungan Tertib, Aman dan Sejahtera

Jalan Baru Menuju Kedaulatan Desa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Presiden Prabowo Lantik Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia di Istana Negara

22 Juli 2026

Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

22 Juli 2026

Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya di Malang, Tekankan Pengabdian TNI dan Polri untuk Rakyat

18 Juli 2026

Selamat Hari Bhayangkara ke-80, 1 Juli 2026

1 Juli 2026
Koordinator SIAGA 98, Hasanuddin

SIAGA 98 Dorong DPR hingga Setneg Kawal Ketat Implementasi Ketentuan Peralihan UU Polri Nomor 5 Tahun 2026

29 Juni 2026
MBG Watch memasang garis kuning-hitam atau menyegel secara simbolis area depan kantor BGN

Kenaikan BBM, Skandal Tata Kelola MBG dan Mega Koruptor: Kombinasi Yang Perlu Diwaspadai

12 Juni 2026

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lawatan Diplomatik Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB, Kunjungi Kanada hingga Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Lantik Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia di Istana Negara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinyal Belum Ada Pergantian Kapolri?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Alasan DPR Tak Dukung Alimin Ribut Sujono, Hakim Vonis Mati Ferdy Sambo yang Gagal Jadi Hakim Agung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima TNI Agus Subiyanto Mutasi 5 Perwira Isi Jabatan Strategis di BIN, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com | djituberita.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio