oleh :
Dr. J. Anhar Rabi Hamsah Tis’ah, M.Pd
Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Jakarta,
Ahli Linguistik Forensik
Sorot Merah Putih – Baiklah, berbicara bahasa di dunia politik itu seperti membahas senjata pamungkas. Tidak hanya sekadar memberikan informasi, di balik tiap kata ada kekuatan, kepentingan, bahkan permainan ideologi yang terkadang tidak terasa di permukaan.
Politisi sekelas Prabowo Subianto sudah jelas, tiap kata keluar dari mulutnya pasti sudah dihitung dengan benar. Tidak ada yang namanya “asal ceplos”.
Semua gaya bicara, intonasi, sampai pilihan diksi sudah diracik untuk membangun citra, menyulut emosi massa, sama memperkuat posisi dia sendiri di atas panggung politik.
Jadi, wajar saja, ketika bicara gaya bahasa politik, apalagi dari kacamata linguistik, pasti sangat seru untuk dibahas. Kita bisa melihat bagimana bahasa itu bermain peran dalam mengatur power dan ideologi di politik.
Prabowo yang berasal dari background militer dengan jam terbang di politik nasional yang sudah tidak diragukan lagi, pasti memiliki komunikasi yang sangat unik.
Ada sentuhan tegasnya sebagai seorang tantara, tepat, lugas, keras tapi juga bisa bermain dengan kata-kata yang membumi, seperti saat berbicara dengan kalangan menengah ke bawah.
Kombonya pasti terasa dan tidak heran jika menjadi bahan diskusi atau tugas makalah tidak pernah basi, update terus.
Gaya Prabowo ketika berbicara, bener-bener menunjukkan dua sisi; satu sisi, dia tampil seperti pemimpin kuat, percaya diri, dan berwibawa, dan di sisi lain, dia juga memberikan vibe deket dengan rakyat biasa.
Pilihan diksi, gaya bertutur, hingga cara Prabowo menyesuaikan obrolan ke lawan bicara/mitra tutur, semuanya menunjukkan bahwa Prabowo bermain strategi.
Kata-katanya penuh nuansa nasionalis, populis, plus sentuhan gimmick emosional. Sehingga secara tidak langsung rang-orang merasa, “wah, dia ngerti masalah saya nih. Ya, nggak?”.
Intinya, mengulik gaya bahasa politik Prabowo itu seperti membuka kotak rahasia bagaimana bahasa sebenarnya menjadi alat membangun kekuasaan dan mengatur persepsi publik di politik Indonesia.
Ujaran sekali tampil ke publik itu bukan sekadar suara saja, tapi sudah melewati proses pemilihan kata yang matang. Mainnya ke pengaruh, siapa yang paling bisa mengontrol narasi, dialah yang menjadi pemenangnya, simple.
FUNGSI & CIRI KHAS BAHASA POLITIK PRABOWO
Di politik, bahasa sudah pasti bukan cuma komunikasi sehari-hari, fungsinya luas dan terkadang rumit. Prabowo sangat rajin untuk tampil beda, gaya bahasa Prabowo sangat mudah dikenal dibanding pesaingnya, apalagi dalam hal mendekati massa.
1. Diksi (Militansi Dibungkus Populisme)
Jika kita perhatikan, kata-kata yang Prabowo pilih sering sekali mengandung nuansa campuran, nuansa militer dan populis. seperti, “perjuangan,” “bertempur,” “garis depan” ini jelas sekali jika dulu pernah menjadi tentara.
Tapi, muncul juga kata “wong cilik,” “petani”, atau “buruh”. Ya seperti itulah gaya bahasanya, sudah keras di depan, namun kemudian dibelokkan ke arah “kita bareng rakyat kecil kok”.
Kombinasinya sangat cerdas. Rasanya seperti, “saya pemimpin tegas, tapi juga mengerti dan sayang sama kalian”.
2. Retorika (Repetisi, Hiperbola, Metafora)
Urusan retorika, Prabowo sangat hobi mengulang-ngulang kata agar mengenai di otak audiens. Banyak kata-kata yang sering diulang, terutama soal kebutuhan rakyat, emosinya sangat dapat.
Prabowo juga suka menggunakan hiperbola narasi ‘negara mau hancur kalau nggak ada perubahan’.
Efek dramatisnya sangat terasa, terkadang dapat membuat ciut lawan dan kadang juga malah menjadi bahan meme.
Prabowo paling juara dalam hal metafora pertempuran, dalam ranah politik Prabowo dapat membuat nuansa seperti perang, “kita tempur di garis depan lawan korupsi”.
Semua orang langsung membayangkan suasananya, sehinggah dapat dengan mudah terikat dengan narasi yang disampaikannya. Lalu, retorikanya juga dipoles biar pesannya terasa dalam tidak hanya di permukaan.
3. Pragmatik (Cepat Adaptasi)
Jika situasi politik panas, gaya bicaranya juga ikut memanas tajam dan konfrontatif ke lawan.
Tapi sebaliknya jika waktunya adem (rekonsiliasi) bahasa Prabowo juga berubah menjadi lebih damai, misalnya seperti kata “persatuan,” dan “gotong royong”.
Dia mengerti konteks, mudah mengatur capaian komunikasi sesuai audiens. Jelas, yang seperti ini tidak semua politisi bisa.
4. Bahasa (Medium Ideologi)
Jadi, ideologi Prabowo sangat kuat memancar melalui bahasa. Banyak kata “tanah air,” “bangsa Indonesia”, “Ibu Pertiwi” yang sering dia selipkan langsung patriotik.
Prabowo juga sering membedakan antara rakyat biasa dengan elite. Ibaratnya, “kita” vs “mereka”.
Storytelling seperti ini sangat mudah untuk membangun solidaritas massa. Sehingga secara tidak langsung kita merasa Prabowo bener-bener ada di pihak “kita semua” bukan elite.
Jadi, gaya bahasa politik Prabowo itu kompleks dan tidak dangkal. Semua racikan diksi, retorika, sampai cara dia mengatur intonasi diatur secanggih mungkin agar mengenai ke hati massa.
Mau keras bisa, mau halus bisa, pokoknya fleksibel semuanya. Ini yang membuat analisis bahasanya seru, kita bisa melihat strategi komunikasi politik benar-benar in action, bukan sekadar teori!.***
Jakarta, 19 Oktober 2025
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















