• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, Juni 8, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Tragedi yang Tak Pernah Ingkar Janji dan Kami Selalu Mengingatnya

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
13 Mei 2025
di Opini
Waktu membaca: 4 menit lebih
A A
0

Robi Maulana
Koordinator Program Gerak Jakarta

Sorot Merah Putih – 27 tahun lalu, 12 Mei 1998 adalah hari hari paling mencekam di simpang grogol, Jakarta Barat. Itu adalah pertama kali saya melihat “tawuran” yang serius antara militer dengan mahasiswa (Trisakti).

BacaLainnya

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Saya menyebutnya tawuran, karena selama menjadi warga Jakarta Barat, beberapa kali saya menyaksikan tawuran antar warga, tawuran antar pelajar, dan Mei 98 saya melihat tawuran antar militer dan mahasiswa, yang mana militer saat itu didukung dengan peralatan serbu yang lengkap dan dapat memukul mundur mahasiswa untuk masuk ke dalam kampus.

Bagi kami yang tinggal di deket Grogol, kami dapat menceritakan detil kejadian tersebut, karena bisa dibilang kamilah saksi sejarah itu, dan mahasiwa Trisakti itu adalah pelaku sejarah tragedi Trisakti.

Di hari hari kelam itu, kami menyaksikan kepulan asap membubung tinggi dilangit grogol, suara desingan senapan bapak bapak militer pun terdengar ditelinga warga sekitar. Namanya juga warga Indonesia, ada tragedi bukannya sembunyi malah maju mencari tahu, dan akhirnya kami tahu.

Kami tahu itu adalah petaka pergantian rezim, kami tau jika rezim yang ada saat itu adalah rezim corrupt yang harus ditumbangkan, kami pelanggaran HAM terjadi sebelum dan sesudah persitiwa di Kampus Trisakti tersebut.

Dan kami tahu akhirnya jika Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie tewas di tangan militer yang bringas menyerbu kampus Trisakti, serta kami tahu ada di tempat lain yg tewas dan hilang belum kembali hingga saat ini. Dan akhirnya kami tahu jika rezim Orde Baru tumbang di bulan 21 Mei 1998.

Dari Trisakti Menuju Semanggi

Menjadi satu rangkaian setelah berhari-hari Jakarta menjadi begitu mencekam, berbulan-bulan mahasiswa dan rakyat melakukan perlawanan. Dari Trisakti menuju Semanggi adalah moment krusial dalam sejarah gerakan rakyat di Jakarta.

Baca Juga  Pemisahan Pemilu dan Disonansi Demokrasi

Tragedi Semanggi I terjadi di depan kampus Universitas Atmajaya dan area-area simpang susun Semanggi Jakarta pada 13 November 1998. Tragedi itu terjadi di tengah kuatnya gelombang demonstrasi mahasiswa dan rakyat biasa.

Mereka menolak pejabat dan politisi era Orde Baru yang masih berkuasa, menuntut pengadilan atas mereka, menuntut pembatasan masa jabatan Presiden, dan juga menentang dwifungsi ABRI (kini TNI)

Dalam aksi unjuk rasa di Semanggi ini, negara melakukan tindakan yang powerfull dalam menghadapi massa aksi. Represif terhadap demonstran dilakukan dengan pengerahan kekuatan yang eksesif, kekerasan, dan pembunuhan di luar hukum oleh aparat keamanan.

Dalam siaran pers Tim Relawan untuk Kemanusiaan terkait Tragedi Sidang Istimewa MPR Tanggal 10-13 November 1998 menyebutkan bahwa sebanyak 17 warga sipil tewas dan 456 lainnya terluka dalam Tragedi Semanggi I.

Setahun kemudian, kekerasan berdarah juga terjadi pada Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 dengan menewaskan 11 warga sipil dan 217 lainnya menjadi korban luka.

Sejumlah polisi dan tentara diadili akibat insiden penembakan Tragedi Semanggi I dan II, namun pengadilan terhadap mereka gagal memenuhi keadilan bagi para korban dan gagal mengungkap dalang di balik penembakan.

Tragedi ini Tak Pernah Ingkar Janji, Rezim-lah yang Selalu Menghianati

Kita melihat tragedi Trisakti hingga Semanggi I adalah salah satu simbol dari perjuangan rakyat demi terwujudnya reformasi di Indonesia.

Salah satu pencapaian besar dari reformasi ini adalah lahirnya instrumen hukum untuk mengadili pelanggaran HAM, yaitu Pengadilan HAM, yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000.

Pengadilan HAM yang kita harapkan sejatinya menjadi tumpuan keadilan bagi korban pelanggaran HAM berat, termasuk dalam kasus Tragedi Semanggi I, yang menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.

Baca Juga  Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

Namun, dua dekade setelah Undang-Undang tersebut disahkan, harapan akan adanya keadilan bagi para korban Tragedi Semanggi I dan korban pelanggaran HAM lainnya justru tidak terwujud.

Hingga hari ini, rezim telah berganti, namun penyelesaian kasus atas tragedi ini selalu di ingkari.

Entah sampaikan kepulan asap gelap tragedi ini akan menjadi terang benderang, kita setia menunggu yang gelap jadi terang.*Beng

Jakarta, 13 Mei 2025

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: korban Tragedi Semanggi IProgram Gerak JakartaTragedi 12 Mei 1998Tragedi TrisaktiTragedi yang Tak Pernah Ingkar Janji
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Maknai Waisak, KPK Ajak Masyarakat Rawat Integritas Lewat Nilai Luhur Agama dan Budaya

Posting Selanjutnya

Implementasi MoU TNI-Kejaksaan: Penugasan Personel dan Dukungan Institusional

Related Posts

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Badai Politik

8 Mei 2026
Posting Selanjutnya
Kapuspen TNI Mayjen TNI Kristomei Sianturi

Implementasi MoU TNI-Kejaksaan: Penugasan Personel dan Dukungan Institusional

Koordinator SIAGA 98, Hasanuddin

SIAGA 98 Soroti Kesaksian Rossa: Sarat Framing Mengarahkan ke Aktor Lain Tanpa Alat Bukti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

2 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio