Sorot Merah Putih, Jakarta – Setelah 27 tahun Reformasi tahun 1998, agenda pemberantasan korupsi menjadi prioritas dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Hasanuddin, Koordinator Simpul Aktivis Angkatan 98 (SIAGA 98) mengatakan bahwa semangat membersihkan negeri dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), yang menjadi salah satu mandat utama gerakan reformasi, kini kembali ditegaskan melalui langkah nyata pemerintah dan penegak hukum.
Hasanuddin menyatakan bahwa komitmen memberantas korupsi adalah warisan perjuangan Mei 1998 yang tak boleh dikhianati.
“Korupsi telah lama menjadi musuh bangsa. Ini bukan hanya soal kerugian negara, tapi penghancuran sistem pemerintahan dari dalam,” tegasnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, lembaga-lembaga penegak hukum seperti KPK, Kejaksaan Agung, dan Polri mulai menunjukkan gebrakan.
Sejumlah kasus besar yang sebelumnya tersendat, kini dibuka kembali dan diseret ke pengadilan. Namun, upaya ini rupanya tak berjalan mulus. Sejumlah aparat penegak hukum dilaporkan mendapat ancaman serius.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sikap tegas dalam pidatonya saat menutup Kongres IV Tunas Indonesia Raya (TIDAR) pada Sabtu, 17 Mei 2025.
“Hampir tiap hari kita membongkar kasus-kasus korupsi dan tidak akan berhenti. Dan saya tahu ada penegak hukum yang diancam, rumahnya didatangi, mobilnya diikuti, rumahnya difoto. Kita paham itu. Tapi saya hanya ingin sampaikan: kita tidak gentar. Saya tidak gentar,” ujar Presiden Prabowo lantang.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan mundur selangkah pun dalam perang melawan korupsi, sekaligus bentuk perlindungan terhadap aparat hukum yang bekerja di bawah tekanan.
SIAGA 98 menyambut baik keberanian Presiden, dan mendorong agar momentum ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh KPK, Kejaksaan, dan Polri untuk membongkar korupsi sistemik, terutama yang melibatkan kerugian negara di sektor-sektor strategis seperti BUMN, perbankan, pertanian, hingga perdagangan.
“Ini saatnya membersihkan negara dari kejahatan ekonomi yang telah lama bercokol. Jangan biarkan publik melihat bahwa reformasi telah gagal karena korupsi justru merajalela,” tegas Hasanuddin.
SIAGA juga menekankan bahwa pemulihan keuangan negara harus menjadi prioritas utama di era Presiden Prabowo.
Korupsi, menurutnya, bukan hanya kejahatan biasa, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi dan masa depan bangsa.
“Dukungan Presiden harus menjadi energi bagi penegak hukum untuk bertindak berani dan tegas. Reformasi belum selesai, dan kita tak boleh membiarkannya mati di tangan para oportunis,” cetusnya.
Dengan komitmen yang ditunjukkan Presiden Prabowo, keberanian yang bisa mengantarkan Indonesia menuju sistem pemerintahan yang benar-benar bersih dan berintegritas.
“Pemberantasan korupsi ini penting, jangan sampai ada anggapan di era reformasi ini malah korupsi makin merajalela. Ini mencoreng reformasi. #tegakmerahputih,” tandas Hasanuddin.*Hsn
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini















