Sorot Merah Putih, Bandung – Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mendorong percepatan transformasi sektor perkeretaapian nasional saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero di Bandung, Senin.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat sistem transportasi massal yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan bersama Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, Dony menegaskan bahwa transformasi transportasi massal merupakan prioritas pemerintahan Prabowo Subianto.
KAI diharapkan menjadi motor utama dalam mewujudkan sistem transportasi nasional yang efisien dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Transformasi transportasi massal menjadi harapan Presiden. Karena itu, kebutuhan pengembangan KAI perlu disampaikan secara jelas agar dukungan dari Danantara dan BP BUMN dapat optimal, baik dari sisi pendanaan, kebijakan, maupun penguatan ekosistem,” ujar Dony.
Ia menjelaskan, arah pengembangan perkeretaapian difokuskan pada tiga aspek utama, yakni keselamatan, kenyamanan, dan konektivitas. Ketiganya dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun layanan transportasi yang andal di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.

Percepatan Elektrifikasi Jaringan Kereta Api
Salah satu strategi utama yang dibahas adalah percepatan elektrifikasi jaringan kereta api, khususnya di kawasan perkotaan. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas lintas Tanah Abang-Rangkasbitung, elektrifikasi lintas Cikarang-Cikampek, serta pengembangan jalur Bogor-Cigombong.
Langkah ini dinilai krusial mengingat volume penumpang KRL yang telah melampaui satu juta orang per hari.
Selain di Pulau Jawa, pengembangan jaringan juga diarahkan ke wilayah lain. KAI mendorong peningkatan angkutan berbasis komoditas di Sumatra, ekspansi jaringan logistik di Kalimantan, serta penjajakan jalur baru di Sulawesi guna memperluas konektivitas nasional.
Transformasi KAI Terintegrasi
Bobby Rasyidin menegaskan bahwa transformasi KAI dilakukan secara terintegrasi. Menurutnya, perkeretaapian memiliki peran strategis sebagai penghubung utama aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
“Konektivitas yang semakin luas akan mendorong pergerakan masyarakat lebih mudah sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” kata Bobby.
Saat ini, KAI mengelola jaringan sepanjang 7.048 kilometer dengan 599 stasiun aktif dan lebih dari 11.000 sarana operasional. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi dalam meningkatkan aksesibilitas dan memperluas jangkauan layanan transportasi nasional.
Transformasi juga mencakup modernisasi layanan dan peningkatan kapasitas angkutan. Di sektor perkotaan, kapasitas KRL ditargetkan meningkat dari sekitar 1,1 juta menjadi 1,4 juta penumpang per hari pada 2030.
Inovasi Teknologi Berbasis Battery Electric Multiple Unit
Selain itu, KAI mulai mengembangkan inovasi teknologi melalui penggunaan kereta berbasis baterai atau Battery Electric Multiple Unit (BEMU) sebagai solusi transportasi rendah emisi.
Program peremajaan sarana juga terus dilakukan, termasuk penggantian lokomotif dan peningkatan kapasitas angkut untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang dan logistik.
Dony menilai sinergi antara pemerintah, Danantara, dan KAI menjadi kunci percepatan transformasi sektor ini.
Menurutnya, penguatan transportasi massal akan berdampak langsung pada kemudahan akses masyarakat, kelancaran distribusi ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.
“Ketika transportasi massal berkembang dengan baik, akses masyarakat semakin mudah, distribusi ekonomi lebih lancar, dan kualitas lingkungan tetap terjaga. Kami akan terus mendorong percepatan transformasi KAI agar mampu menjadi tulang punggung transportasi nasional yang modern dan berdaya saing,” tutup Dony.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














