Sorot Merah Putih, Jakarta – Isu rencana menjadikan Bali sebagai pusat Family Office kembali mencuat. Proyek ini disebut-sebut diinisiasi oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melalui pembentukan tim khusus yang sudah bekerja sejak enam bulan terakhir.
Konsep Family Office sendiri merujuk pada perusahaan swasta yang mengelola kekayaan keluarga-keluarga super kaya, mulai dari investasi, perencanaan pajak, hingga distribusi aset lintas generasi.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam proyek tersebut. Ia menyebut, rencana itu masih berada pada tahap perencanaan internal DEN dan belum melibatkan Kementerian Keuangan.
“Saya sudah dengar lama isu itu, tapi biar saja. Kalau DEN bisa bangun sendiri, ya bangun saja sendiri,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Purbaya juga memastikan tidak ada dana APBN yang akan digunakan untuk membiayai pendirian Family Office di Bali.
Menurutnya, prioritas Kemenkeu saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat, dan efektivitas alokasi anggaran.
“Anggarannya enggak akan saya alihkan ke sana. Saya fokus pada alokasi yang tepat-tepat waktu, tepat sasaran, dan nggak ada yang bocor. Itu aja,” tegasnya.
Menkeu Sebut Belum Pahami Konsep
Lebih lanjut, Purbaya mengaku belum memahami sepenuhnya konsep Family Office yang sedang digagas DEN. Ia menegaskan tidak pernah terlibat dalam pembahasan bersama Luhut maupun Dewan Ekonomi Nasional.
“Jadi saya enggak terlibat. Kalau mau ya saya doakan lah. Saya belum terlalu mengerti konsepnya, walaupun Pak Ketua DEN sering bicara, tapi saya belum pernah lihat seperti apa konsepnya,” ujarnya.

Luhut: Sudah Disiapkan, Ditarget Rampung Tahun Ini
Sementara itu, Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan bahwa timnya sudah menyiapkan rencana pembentukan Family Office sejak enam bulan lalu.
Ia menargetkan konsep tersebut rampung tahun ini dengan melibatkan masukan dari sejumlah pengelola Family Office dunia, termasuk Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates asal Amerika Serikat yang kini menjadi penasihat Presiden Prabowo Subianto.
“Kita segera jalan. Tim bekerja mulai besok dengan timnya Pak Airlangga dan tim kami, karena sebenarnya kita sudah mengerjakan enam bulan,” kata Luhut usai bertemu Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Maret 2025 lalu.
Menurut Luhut, ide pembentukan Wealth Management Center atau Family Office Indonesia sudah mendapatkan restu sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Setelah kabinet berganti, proyek tersebut kini berada dibawah koordinasi DEN dan diakuinya telah mendapat dukungan dari Presiden Prabowo serta sejumlah menteri terkait.
Bali Dipilih karena Potensi Global
Bali menjadi lokasi yang dipertimbangkan kuat untuk proyek Family Office karena telah dikenal sebagai “work heaven” bagi investor global. Pulau Dewata dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang keuangan dan Family Office.
Selain Bali, Luhut juga menyebut Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai salah satu alternatif lokasi pendirian pusat keuangan baru Indonesia.
Meski ditargetkan berjalan sejak Februari 2025, hingga kini proyek tersebut belum terealisasi. Pemerintah masih melakukan kajian terhadap bentuk kelembagaan dan regulasi pendukungnya.
Tentang Family Office
Sebagai informasi, Family Office merupakan perusahaan swasta yang mengelola seluruh aspek keuangan keluarga beraset tinggi, termasuk investasi, warisan, filantropi, hingga tata kelola lintas negara.
Tidak seperti lembaga keuangan umum, Family Office bekerja eksklusif untuk satu keluarga besar atau kelompok individu tertentu, dengan tujuan menjaga dan mengembangkan kekayaan lintas generasi secara profesional.
Dengan kehadiran Family Office di Indonesia, pemerintah berharap dapat menarik arus investasi jangka panjang dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan regional di Asia Tenggara.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














