Sorot Merah Putih, Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh bukan menjadi tanggungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dalam acara Media Gathering APBN 2026 di Jakarta, Jumat (10/10/2025), menyatakan hingga kini pihaknya belum menerima komunikasi resmi dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terkait penyelesaian utang proyek tersebut.
“Utang proyek Whoosh bukan tanggungan APBN. Hingga saat ini belum ada komunikasi resmi dari Danantara soal penyelesaiannya,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC)-yang berada di bawah naungan Danantara-seharusnya telah memiliki sistem manajemen keuangan mandiri, termasuk dalam pengelolaan pembiayaan proyek strategis tersebut.
Danantara Siapkan Opsi Penyelamatan KAI
Terpisah, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyebut pihaknya tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI keluar dari tekanan utang proyek kereta cepat.
Dony menjelaskan dua opsi utama sedang dikaji, yakni penambahan ekuitas (equity injection) dan alih status sebagian infrastruktur KCIC menjadi aset milik negara, serupa dengan model Badan Layanan Umum (BLU).
“Salah satu opsi adalah menambah ekuitas agar perusahaan bisa self-sustain. Karena secara operasional KCIC sudah cukup sehat, EBITDA-nya positif,” kata Dony, dikutip Selasa (14/10/2025).
“Opsi lain, kita pikirkan juga apakah sebagian infrastrukturnya akan dijadikan BLU, sehingga bisa menjadi aset milik negara,” imbuhnya.
Menurut Dony, langkah ini diambil agar keberlanjutan layanan transportasi publik tetap terjaga tanpa mengorbankan potensi ekonomi besar dari proyek kereta cepat tersebut.
Layanan Whoosh Meningkat, Tekanan Utang jadi Tantangan
Dony menilai, secara operasional, KCIC telah menunjukkan kinerja positif. Saat ini, jumlah penumpang Whoosh terus meningkat hingga 20.000-30.000 per hari, menunjukkan minat masyarakat yang tinggi terhadap moda transportasi modern ini.
Namun demikian, KAI masih menanggung beban utang dari proyek KCIC karena perusahaan tersebut menjadi bagian dari induk usaha KAI.
“Kami sudah rapat dengan Menko Infrastruktur dan Kementerian Perhubungan, menawarkan beberapa opsi agar solusi terbaik bisa diambil pemerintah,” ungkap Dony.
Dony menambahkan, pemerintah akan memilih opsi terbaik tidak hanya untuk menyelamatkan proyek Whoosh, tetapi juga menjaga keberlanjutan bisnis KAI yang melayani lebih dari 1,4 juta penumpang per hari di seluruh Indonesia.
“Kita harus memikirkan keberlanjutan KAI secara keseluruhan. Karena bukan hanya 20.000 penumpang Whoosh saja, tapi jutaan masyarakat yang dilayani setiap hari,” jelasnya.
Danantara berharap keputusan akhir dari pemerintah dapat segera diambil agar stabilitas keuangan dan operasional KAI tidak terganggu.
“Kami sudah mengusulkan opsi-opsi penyelamatan, tinggal menunggu keputusan pemerintah untuk menentukan mana yang terbaik,” pungkas Dony.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini















