• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, Juni 8, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Opini

Dari Dekonstruksi ke Rekonstruksi: Jika Rocky Gerung Masuk Pemerintahan Prabowo Subianto

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
4 Maret 2026
di Opini
Waktu membaca: 3 menit lebih
A A
0

Ditulis oleh :
Hasanuddin, Koordinator SIAGA 98

Sorot Merah Putih – Di antara lanskap intelektual dan politik Indonesia kontemporer, nama Rocky Gerung menempati posisi yang khas.

BacaLainnya

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Ia bukan sekadar pengamat politik atau komentator kebijakan, melainkan pengkritik dengan pendekatan filosofis-membedah asumsi, menyingkap premis tersembunyi, serta menguji konsistensi logika di balik setiap kebijakan dan pernyataan publik.

Pendekatan kritiknya dapat dilihat bergerak dalam empat horizon sekaligus: epistemologi, etika, metafisika, dan estetika kebijakan.

Pada tataran epistemologis, ia mempertanyakan dasar pengetahuan suatu kebijakan-data apa yang dipakai, asumsi apa yang diterima tanpa diuji, dan narasi mana yang sengaja diproduksi.

Pada level etika, ia menggugat orientasi moral dan keberpihakan kekuasaan-apakah kebijakan berpijak pada keadilan sosial atau sekadar kalkulasi elektoral.

Dalam kerangka metafisika kebijakan, ia menelisik hakikat kekuasaan itu sendiri: untuk siapa ia bekerja, dan nilai apa yang sesungguhnya ia lindungi.

Sementara dalam dimensi estetika, ia menyentuh cara kebijakan itu ditampilkan dan dimaknai publik. Sebab kebijakan bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga tentang bagaimana ia menghadirkan rasa kepantasan, keteraturan, dan harmoni dalam kehidupan bersama.

Estetika dalam politik adalah keselarasan antara substansi dan ekspresi.

Menarik pula mencermati gagasan Prabowo Subianto yang kerap menggunakan terminologi “paradoks” untuk menggambarkan kondisi Indonesia.

Istilah ini bukan sekadar retorika, melainkan cara membaca realitas.

Indonesia digambarkan sebagai negeri yang kaya sumber daya namun masih menghadapi kemiskinan; negara besar dengan potensi global tetapi rentan dalam kedaulatan ekonomi; bangsa religius namun kerap terjebak konflik sosial. Itulah realitas paradoksal.

Baca Juga  Inovasi Pendidikan dan Literasi Berbasis Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan di Jawa Barat

Paradoks berbeda dengan kontradiksi. Kontradiksi adalah dua hal yang saling meniadakan secara logis-jika yang satu benar, yang lain pasti salah. Paradoks tidak demikian. Ia menghadirkan dua kenyataan yang tampak bertentangan, tetapi keduanya nyata dan eksis secara bersamaan. Ia juga bukan sekadar oposisi, sebab oposisi hanya menunjukkan perbedaan posisi. Paradoks justru menuntut kedalaman berpikir: bagaimana dua keadaan yang berlawanan bisa hidup dalam satu struktur realitas yang sama.

Dengan demikian, paradoks dapat disandingkan sebagai cara melihat realitas. Ia mengajak untuk tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Realitas paradoksal menuntut pendekatan dialektis-mengakui ketegangan, membaca struktur penyebabnya, lalu merumuskan jalan keluar tanpa menafikan salah satu dimensinya. Dalam konteks kebijakan publik, pendekatan ini membuka ruang bagi solusi yang tidak reaktif, tetapi reflektif.

Di titik inilah kemungkinan pertemuan gagasan antara Prabowo dan Rocky menemukan relevansinya. Rocky, dengan pendekatan dekonstruktifnya, mampu membedah paradoks—mengurai struktur yang membuat kekayaan berdampingan dengan ketimpangan, atau demokrasi berdampingan dengan oligarki.

Sementara Prabowo, dengan visi politiknya, menawarkan orientasi rekonstruktif untuk menjawab paradoks tersebut melalui kebijakan.

Dalam kerangka pembagian peran yang ideal, presiden memiliki gagasan besar dan arah strategis. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, ide-ide makro tentang kedaulatan dan kesejahteraan dirumuskan sebagai visi politik.

Rocky Gerung dapat berperan membangun dasar substansi filosofisnya-merumuskan argumen, memperjelas rasionalitas, serta menjelaskan struktur paradoks yang hendak diatasi. Sementara tata kelola teknis menjadi wilayah para menteri dan birokrasi. Diferensiasi ini menjaga keseimbangan antara visi, substansi, dan implementasi.

Secara personal, saya pernah menjadi anak didiknya di Filsafat Universitas Indonesia pada tahun 1999. Dari pengalaman itu, saya melihat adanya benang merah pemikiran antara Prabowo dan Rocky-terutama dalam perhatian terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan sebagai legitimasi moral kebijakan. Dalam empat horizon-epistemologi, etika, metafisika, dan estetika-serta dalam cara membaca realitas paradoksal Indonesia, pertemuan itu menemukan kemungkinan sintesisnya.

Baca Juga  Presiden Prabowo Teken PP Penanganan Khusus dan Pemberian Penghargaan bagi Saksi Pelaku, Berikut Tanggapan SIAGA 98

Pada akhirnya, ujian terbesar bukan hanya pada individu, melainkan pada kemampuan kekuasaan membaca paradoks tanpa menyederhanakannya. Sebab realitas Indonesia memang bukan kontradiksi yang bisa dipatahkan dengan satu jawaban tunggal. Ia adalah realitas paradoksal yang menuntut kedalaman berpikir, keberanian moral, dan ketepatan tindakan.

Dari dekonstruksi menuju rekonstruksi, pertanyaannya sederhana: mampukah kekuasaan mengolah paradoks menjadi jalan keluar?.*

Jakarta, 4 Maret 2026

*Sumber Kabariku.com

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: Dari Dekonstruksi ke RekonstruksiHasanuddin Koordinator SIAGA 98Presiden Prabowo SubiantoRocky GerungSimpul Aktivis Angkatan 1998
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya: Gizi sebagai Fondasi Pendidikan Nasional

Posting Selanjutnya

Fekon UNIGA Ajak Pelaku UMKM Eduwisata Gunung Guntur: Bangun Branding Lewat Cerita Lokal

Related Posts

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

Presiden di Panggung Dunia, Mendagri Menjaga Kesinambungan Pemerintahan

31 Mei 2026

Rupiah Centrum: Saatnya Keluar dari Bayang-Bayang Dollar

18 Mei 2026

Teddy Indra Wijaya: Diam di Tengah Badai Politik

8 Mei 2026
Posting Selanjutnya

Fekon UNIGA Ajak Pelaku UMKM Eduwisata Gunung Guntur: Bangun Branding Lewat Cerita Lokal

KPK Gelar Pelatihan Integritas bagi APH, Targetkan 160 Personel Sepanjang 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

2 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio