• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index
Senin, Juni 8, 2026
Sorot Merah Putih
Advertisement
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
Sorot Merah Putih
Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
Home Budaya

Kawah Kereta Api Kamojang 3: Situs Panas Bumi Tertua Dunia yang Terlupakan

Boelan Tresyana oleh Boelan Tresyana
20 Desember 2025
di Budaya
Waktu membaca: 4 menit lebih
A A
0
Kawah Kereta Api ikon unik di kawasan Wisata Alam dan Cagar Alam Kawah Kamojang di Dusun Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung (dok Berita Geothermal)

Kawah Kereta Api ikon unik di kawasan Wisata Alam dan Cagar Alam Kawah Kamojang di Dusun Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung (dok Berita Geothermal)

Sorot Merah Putih, Bandung – Di balik kabut tipis dan bau belerang kawasan Kamojang, tersimpan sebuah situs bersejarah yang nyaris luput dari perhatian negara. Kawah Kereta Api Kamojang 3, lokasi pengeboran panas bumi sejak tahun 1926, diduga merupakan salah satu situs eksplorasi panas bumi tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.

Namun ironisnya, situs ini kini kehilangan penjaga tradisional, perlindungan hukum, dan perhatian institusional.

BacaLainnya

Ada Geliat Budaya di Ampera

7 Mei 2025
Suluk Senen Pahingan edisi ke-35 yang digelar di Joglo Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Semarang

Semarak! Acara Suluk Senen Pahingan Edisi 35 Hadirkan Sujiwo Tejo dan Supari Priambodo

24 Februari 2025

Forum Muda Lampung Gandeng Disdikbud untuk Promosi dan Lestarikan Budaya Melalui Festival

7 Februari 2025
Tim Redaksi Berita Geothermal dan Tim ADPPI foto bersama Ibu Dedeh (tengah) Generasi ke 3 dari Aki Edong masyarakat lokal yang menjaga kawasan KMJ 3 (foto Ist Berita Geothermal)

Berdasarkan keterangan bersama Tim Redaksi Berita Geothermal Sudi Sudiarto, Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI), pengeboran Kawah Kereta Api 3 dilakukan pada 1926, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kedalaman awal pengeboran mencapai 20 meter, lalu dikembangkan hingga sekitar 60 meter pada tahun yang sama.

“Secara teknologi panas bumi, ini masuk generasi pertama. Sejajar dengan Larderello di Italia awal 1900-an. Jadi ini bukan hanya tertua di Indonesia, tapi termasuk angkatan paling tua di dunia,” ujar Sudi dalam keterangannya saat ditemui di kawasan Kamojang 3, Kamis (18/12/2025).

Teknologi ini menjadi fondasi awal eksplorasi panas bumi global, jauh sebelum berkembangnya pembangkit listrik panas bumi modern yang kini memasuki generasi kelima.

Keunikan Kawah Kereta Api 3 terletak pada kontinuitasnya. Berbeda dengan situs teknologi kolonial lain yang sudah mati fungsi, kawah ini masih aktif mengeluarkan uap panas hingga hari ini.

“Ini bukan sekadar tinggalan mati. Sistem panas buminya masih hidup, masih berkelanjutan. Itu nilai pentingnya,” jelas Sudi.

Fakta ini menunjukkan bahwa Kawah Kereta Api Kamojang 3 memiliki nilai penting seperti sejarah, karena teknologi eksplorasi panas bumi pertama di Indonesia. Kemudian, nilai ilmiah sebagai bukti awal penguasaan panas bumi dunia. Lalu ada nilai edukasi sebagai laboratorium alam lintas generasi, dan nilai budaya yang terhubung dengan peran juru kunci turun-temurun.

Baca Juga  Menkebud Fadli Zon Usulkan Hari Komedi Nasional

Meski eksplorasi kolonial berhasil mengeluarkan uap panas, lokasi ini tidak pernah dikembangkan menjadi pembangkit listrik. Diduga, aktivitas terhenti akibat masuknya penjajahan Jepang dan situasi politik kala itu.

Pada 1970-1980-an, PT Pertamina mulai kembali masuk ke kawasan Kamojang untuk pengembangan panas bumi. Namun Kawah Kereta Api 3 tidak lagi dioperasikan, hanya dipertahankan sebagai lokasi eksplorasi lama.

Cagar Budaya yang Terlambat?

Sudi mengatakan, secara regulasi, sebuah situs dapat diusulkan sebagai Cagar Budaya jika berusia minimal 50 tahun dan memiliki nilai penting.

Sementara, Kawah Kereta Api Kamojang 3 telah berusia hampir 100 tahun. Namun statusnya hingga kini belum ditetapkan secara resmi.

Masalahnya, kata Sudi, jika suatu saat ditetapkan sebagai cagar budaya tidak boleh ada perubahan fisik, tidak boleh ada pengeboran ulang, dan zona inti harus steril dari intervensi.

“Kalau sudah jadi cagar budaya, tidak boleh diubah sama sekali,” tegas Sudi.

Pertanyaannya, mengapa situs sepenting ini baru akan diusulkan sekarang?

Di tengah gencarnya narasi transisi energi dan energi hijau, Kawah Kereta Api Kamojang 3 justru menjadi ironi. Situs yang menjadi fondasi energi panas bumi Indonesia kini tidak memiliki perlindungan hukum kuat, dan tidak tercatat dalam narasi besar energi nasional.

Jika tidak segera ditetapkan dan dilindungi, Kawah Kereta Api Kamojang 3 berpotensi: akan rusak secara alami, hilang nilai budayanya, dan terputus narasi sejarahnya. Sehingga Kawah Kereta Api Kamojang 3 hanya sekedar menjadi lubang uap tanpa cerita.

Padahal, dunia kini sedang mencari jejak awal energi terbarukan. Kamojang telah memilikinya sejak 1926. Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah ini penting?” melainkan “berapa lama lagi kita membiarkannya dilupakan?”.*Ghurri

Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

Tags: ADPPIBerita GeothermalKawah Kereta Api Kamojang 3PGE area KamojangSitus Panas Bumi Tertua Dunia
ShareTweetSendPinScanShare
Posting Sebelumnya

Presiden Prabowo Pastikan Pemulihan Aceh Tamiang Dipercepat, Ingatkan Pentingnya Jaga Lingkungan

Posting Selanjutnya

Reuni Akpol 91 Bhara Daksa, Komjen Moh. Iqbal Tekankan Nilai Loyalitas dan Kebersamaan

Related Posts

Ada Geliat Budaya di Ampera

7 Mei 2025
Suluk Senen Pahingan edisi ke-35 yang digelar di Joglo Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Semarang

Semarak! Acara Suluk Senen Pahingan Edisi 35 Hadirkan Sujiwo Tejo dan Supari Priambodo

24 Februari 2025

Forum Muda Lampung Gandeng Disdikbud untuk Promosi dan Lestarikan Budaya Melalui Festival

7 Februari 2025
Nabeuh Karinding Alam, “NAKAL”

Kilas Balik “NAKAL” Musik Etnik: Corong Ekpresi Kampanyekan Bentang Alam Indonesia

30 Desember 2024
Puncak Hari Puisi Indonesia

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2024 di TIM: Dari Pidato Menkebud Fadli Zon, Hingga Pengumuman Penyair Adilihung

11 Desember 2024
Fadli Zon usulkan Hari Komedi Nasional

Menkebud Fadli Zon Usulkan Hari Komedi Nasional

9 Desember 2024
Posting Selanjutnya

Reuni Akpol 91 Bhara Daksa, Komjen Moh. Iqbal Tekankan Nilai Loyalitas dan Kebersamaan

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan penyerahan laporan capaian hasil Satgas PKH dan penyelamatan keuangan negara tahun 2025 di Gedung Utama Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (24/12/2025)

Presiden Prabowo: Jangan Mau Dilobi, Penyelamatan Rp6,6 Triliun Baru Permulaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

8 Juni 2026

Malaikat Pelindung Silmy Karim

7 Juni 2026

SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

6 Juni 2026

Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

5 Juni 2026

Letkol Teddy Indra Wijaya Raih Penghargaan Taskap Terbaik pada Dikreg LXVII Seskoad 2026

4 Juni 2026

Tantangan Nanik S. Deyang: Menata Ulang Arah dan Integritas Program MBG

4 Juni 2026

KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

2 Juni 2026

Artikel Terpopuler

  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran. Sebanyak 48 kolonel TNI resmi naik pangkat menjadi brigadir jenderal (Foto: Doc TNI/Istimewa)

    Mutasi Besar di Tubuh TNI, 48 Kolonel Resmi Naik Pangkat Menjadi Brigjen, Berikut Daftar Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap jadi Alumni Paling Cemerlang di Akpol 1997

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengapa Dasco Tetap di DPR Saat Kursi Kabinet Terbuka Lebar?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Maknai Pancasila sebagai Fondasi Moral untuk Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SIAGA 98 Dukung Kejagung Usut Tuntas Korupsi BGN, Minta Permohonan JC Soni Sonjaya Ditolak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Hadiri Konsolidasi Nasional MBG, Tekankan Dedikasi Pelaksana untuk Generasi Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malaikat Pelindung Silmy Karim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Sorot Merah Putih

Sorot Merah Putih adalah Media online yang menyoroti tentang kinerja Kabinet Merah Putih | Office: Jl. Proklamasi, RT.11/RW.5, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320 | email: redaksi@sorotmerahputih.com

Follow Us

Sorot Merah Putih

kabariku.com | beritageothermal.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
  • index

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio

Tidak ada hasil
Lihat Semua hasil
  • News
    • Nasional
    • Hukum
    • Teknologi
    • Viral
    • Politik
    • Budaya
  • Sorot Prabowo
  • Sorot Parlementaria
  • Sorot Pertahanan
  • Sorot Jakarta
  • Sorot Daerah
  • Sorot Dwi Warna
  • Opini
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kirim Tulisan

© 2024 Sorot Merah Putih - Soroti Berita Terkini | Crafted with power by WebIndoStudio