Sorot Merah Putih, Jakarta – Harapan besar yang menyertai pembentukan Holding BUMN Farmasi lima tahun lalu, kini berubah menjadi kekhawatiran mendalam. Bukannya mandiri dan kompetitif, Holding BUMN Farmasi justru terjerumus ke dalam krisis multidimensi yang mengancam eksistensinya.
Krisis ini dinilai sebagai buah dari lemahnya kepemimpinan dan peran holding dalam membina anak-anak perusahaannya.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja BUMN Indonesia Raya (FSP BUMN IRA), Ridwan Kamil, menyampaikan bahwa Holding BUMN Farmasi yang digagas Kementerian BUMN sejak 2020, terdiri dari empat BUMN inti: PT Bio Farma (Persero), PT Kimia Farma Tbk, PT Indofarma Tbk, dan PT INUKI (Persero). Total terdapat delapan entitas usaha bila termasuk anak dan cucu perusahaan.
“Semua berharap holding ini akan membawa BUMN farmasi menjadi raksasa industri, baik di tingkat nasional maupun global. Apalagi dengan dukungan pemerintah dan aset senilai Rp32,25 triliun,” ujar Kamil di Jakarta, dikutip Rabu (21/5/2025).
Namun realitasnya jauh dari harapan. Indofarma, salah satu anggota holding, justru terjebak dalam krisis keuangan, operasional, kepercayaan publik, bahkan krisis kemanusiaan.
Skandal korupsi di jajaran direksi sebelumnya memperparah kondisi. Pada Februari 2025, anak usaha Indofarma, PT IGM, resmi dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Masalah serupa juga terjadi di Kimia Farma, meski belum sepenuhnya terungkap ke publik. Kamil menilai transparansi yang dilakukan di Indofarma justru menjadi keunggulan dalam upaya perbaikan. Sementara di Kimia Farma, masalah cenderung tertutup.
“Pada RDP Komisi VI DPR tanggal 8 Mei lalu, laporan keuangan Holding Farmasi memperlihatkan kerugian besar dua tahun berturut-turut—Rp2,04 triliun pada 2023 dan Rp1,16 triliun di 2024. Penyumbang kerugian terbesar berasal dari Kimia Farma, disusul Indofarma,” ungkapnya.
Kamil menegaskan, tanpa perubahan mendasar, kerugian akan terus berulang. Indofarma telah melakukan efisiensi, namun kekurangan modal kerja menghambat operasional dan pembayaran hak-hak karyawan.
Sementara Kimia Farma dibebani utang yang besar, dan kondisi Bio Farma pun menurutnya belum tentu aman.
“Mungkin ini hanya puncak dari gunung es. Di bawahnya, bisa jadi ada bom waktu yang siap meledak kapan saja,” tegasnya.
Kamil menilai masa depan Holding BUMN Farmasi kini sepenuhnya bergantung pada pemerintah sebagai pemegang saham dan keputusan dalam penunjukan direksi.
Ia menyebut bahwa dibutuhkan direksi yang bukan hanya memiliki integritas dan rekam jejak kuat di industri farmasi, tetapi juga jaringan lembaga pendanaan yang mumpuni.
“Bukan seperti direksi sekarang atau sebelumnya. Di Holding saja ada delapan direksi dan puluhan konsultan yang katanya sudah menghabiskan Rp200 miliar, tapi tidak ada keputusan strategis yang lahir. Ini krisis kepemimpinan,” kritik Kamil tajam.
Ia pun mendorong Kementerian BUMN untuk serius mengevaluasi kepemimpinan Holding Farmasi agar tidak terjerumus lebih dalam ke jurang kehancuran.*Boelan
Berita tayang di Kabariku.com
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini

















Komentar 1