Sorot Merah Putih, Jakarta – Menjelang akhir Agustus 2025, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersiap meluncurkan terobosan strategis dalam pembiayaan nasional lewat instrumen Patriot Bond.
Surat utang negara berprinsip partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama ini menargetkan dana hingga Rp50 triliun atau sekitar US$3,1 miliar untuk menopang agenda pembangunan lintas generasi.
Melansir DataIndonsia.id, instrumen Patriot Bond akan diterbitkan dalam dua seri bertenor 5 tahun dan 7 tahun, masing-masing senilai Rp25 triliun dengan kupon 2%, jauh di bawah imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) konvensional yang berada di atas 6%. Meski demikian, minat investor terpantau tinggi bahkan sebelum penerbitan resmi dilakukan.
Dari Energi Bersih hingga Pembangunan Lintas Generasi
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa emisi perdana Patriot Bond akan difokuskan pada pembiayaan proyek waste-to-energy di dalam negeri. Proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi pembiayaan nasional sekaligus mendukung ekspansi investasi strategis di sektor lain.
“Prinsip dasarnya adalah partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama. Skema ini membuka ruang bagi kelompok usaha nasional untuk berkontribusi pada agenda pembangunan lintas generasi,” ujar Pandu, Jumat (3/10/2025).
Patriot Bond sendiri bukan konsep baru. Jepang dan Amerika Serikat telah lebih dulu menggunakan instrumen serupa sebagai bagian dari strategi pembiayaan pembangunan dan pemersatu kekuatan nasional.

Antusias Tinggi: Oversubscribed Sebelum Dirilis
Meski belum secara resmi ditawarkan ke publik, minat kalangan pengusaha papan atas Indonesia terhadap Patriot Bond sangat tinggi.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, sejumlah nama besar seperti Franky Widjaja (Sinar Mas), Anthoni Salim (Salim Group), Bachtiar Karim (Musim Mas), Tomy Winata (Artha Graha), hingga Robert Budi Hartono (Djarum Group) disebut telah menyatakan minat berpartisipasi.
Nama lain yang dikabarkan turut dalam daftar antara lain Sukanto Tanoto (RGE Group), Prijono Sugiarto (Astra-Jardine Mathesson), Hilmi Panigoro (Medco Agro), Lim Gunawan Hariyanto (Harita Group), hingga Putra Sampoerna (Sampoerna Agro).
Namun, Danantara menegaskan bahwa informasi tersebut belum bersifat resmi.
“Informasi yang beredar bukan informasi resmi. Patriot Bond sedang dipersiapkan melalui skema private placement dan tidak ditawarkan kepada publik. Partisipasi dalam instrumen ini bersifat sukarela,” jelas Mohamad Al-Arief, MD Global Relations and Governance Danantara.
Al-Arief menegaskan Danantara tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta tata kelola yang kuat dalam menjalankan mandat sebagai pengelola investasi negara.
Patriot Bond, katanya, diharapkan memperluas basis pembiayaan domestik dan memperkuat peran sektor swasta dalam pembangunan nasional.
Dari Liberty Bond ke Patriot Bond
Patriot Bond merupakan surat utang negara yang menjanjikan pembayaran pokok dan bunga pada waktu jatuh tempo, namun dirancang untuk tujuan lebih besar dari sekadar keuntungan finansial.
Contohnya, Liberty Bond yang diterbitkan Amerika Serikat pada masa Perang Dunia I menawarkan bunga hanya 3,5%, di bawah tingkat bunga pasar saat itu. Tujuannya adalah mengedepankan nilai patriotisme dibandingkan profit.
Istilah “Patriot Bond” kembali populer di AS pasca serangan 11 September 2001, ketika pemerintah merilis edisi khusus Series EE Savings Bonds bertuliskan Patriot Bond untuk mendanai program anti-terorisme sekaligus memupuk semangat persatuan nasional.
Peluncuran ini dilakukan pada 11 Desember 2001 oleh Menteri Keuangan Paul H. O’Neill dan U.S. Treasurer Rosario Marin.
Kupon Rendah, Kepercayaan Tinggi
Meskipun hanya menawarkan kupon 2%, Patriot Bond tetap menjadi incaran investor besar. Hingga 19 September 2025, sebanyak 46 pengusaha terkemuka disebut telah menyatakan komitmen dengan total nilai mencapai Rp51,175 triliun – angka yang bahkan melampaui target awal.
Fenomena ini menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi pelaku usaha terhadap arah transformasi ekonomi nasional yang tengah dijalankan pemerintah.
Lebih dari sekadar surat utang, Patriot Bond mencerminkan semangat kolaborasi antara negara dan sektor swasta dalam membangun masa depan.
Patriot Bond akan diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang, termasuk pengembangan energi bersih melalui proyek waste-to-energy, sekaligus memperkuat kemandirian pembiayaan nasional.
Patriot Bond menjadi tonggak baru strategi pembiayaan nasional Indonesia. Dengan semangat sukarela dan prinsip kebersamaan, instrumen ini melampaui fungsi utang negara biasa – Patriot Bond menjadi simbol kolaborasi antara negara dan pelaku usaha untuk pembangunan lintas generasi.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini
















