oleh :
Hasanuddin – Siaga 98
Sorot Merah Putih – Isu reshuffle Kabinet Merah Putih kembali mengemuka. Namun, kali ini sebenarnya tidak banyak yang perlu diperdebatkan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sudah memberikan penjelasan. Per 10 Agustus 2026, pemerintah belum memiliki rencana melakukan reshuffle kabinet.
Jika ada perubahan dalam waktu dekat, fokusnya lebih kepada mengisi sejumlah posisi wakil menteri yang masih kosong.
Karena itu, menurut saya, memperpanjang perdebatan mengenai reshuffle dalam pengertian mengganti atau menggeser sejumlah menteri bukanlah isu yang terlalu menarik untuk dibesar-besarkan.
Ada satu hal yang justru jauh lebih menarik untuk dibicarakan: bagaimana jika Sufmi Dasco Ahmad benar-benar masuk ke dalam Kabinet Merah Putih?
Saya sengaja mengatakan bagaimana jika, karena sampai saat ini tidak ada informasi resmi bahwa Dasco akan diangkat menjadi menteri. Sufmi Dasco Ahmad masih tercatat sebagai Wakil Ketua DPR RI dan merupakan Ketua Harian DPP Partai Gerindra.
Tetapi justru karena itulah, kemungkinan tersebut menarik secara politik.
Masuknya Dasco ke kabinet, jika benar-benar terjadi, tidak dapat dibaca sebagai reshuffle biasa. Itu akan menjadi sebuah peristiwa politik yang memiliki bobot jauh lebih besar daripada sekadar pergantian seorang menteri.
Bahkan melampaui perdebatan pergantian Kapolri.
Dasco bukan figur politik biasa. Ia adalah salah satu simpul penting dalam Partai Gerindra dan selama bertahun-tahun berada di jantung komunikasi politik antara parlemen dan kekuasaan eksekutif.
Karier politiknya di Gerindra sudah berlangsung sejak awal perkembangan partai tersebut, dan ia pernah menduduki posisi penting di DPR sebelum kembali dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR periode 2024–2029.
Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, posisi Dasco bahkan menjadi semakin menarik.
Ia memang bukan bagian dari struktur Kabinet Merah Putih. Namun, dalam sejumlah momentum strategis, Dasco terlihat memiliki akses komunikasi yang sangat dekat dengan Presiden.
Pada 2 Januari 2026, misalnya, Presiden Prabowo menerima Dasco bersama sejumlah menteri di kediaman dinasnya di Widya Chandra.
Pertemuan itu membahas antara lain pemulihan pascabencana di tiga provinsi di Sumatra serta sejumlah penugasan strategis.
Pada 4 Maret 2026, Dasco kembali diterima Presiden di Istana Merdeka. Saat itu ia menyampaikan aspirasi DPR terkait sejumlah persoalan strategis, mulai dari pangan, stimulus ekonomi, energi hingga perkembangan geopolitik.
Fakta-fakta tersebut tentu tidak otomatis berarti Dasco akan masuk kabinet. Tetapi fakta tersebut menunjukkan bahwa kanal komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo bukan kanal politik yang biasa-biasa saja.
Karena itu, kalau suatu hari Presiden Prabowo memutuskan menarik Dasco ke dalam kabinet, publik seharusnya tidak melihatnya semata-mata sebagai pergantian personel.
Saya justru melihatnya sebagai pergeseran arsitektur politik pemerintahan.
Selama ini Dasco mempunyai posisi strategis di dua ruang: ruang partai dan ruang parlemen. Ia berada di lingkaran pimpinan Gerindra sekaligus memegang posisi penting di DPR.
Jika kemudian ia masuk ke kabinet, maka salah satu figur utama yang selama ini berada di titik temu antara partai, parlemen dan pemerintahan berpindah langsung ke jantung eksekutif.
Di situlah letak luar biasanya.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Siapa Menteri yang diganti?”
Pertanyaannya menjadi, “Mengapa Presiden membutuhkan Dasco berada langsung di dalam kabinet?”
Jawabannya tentu bisa bermacam-macam.
Bisa berkaitan dengan kebutuhan memperkuat koordinasi politik pemerintah dengan DPR. Bisa pula berkaitan dengan konsolidasi internal pemerintahan. Bisa menyangkut kebutuhan mempercepat agenda legislasi dan kebijakan pemerintah.
Atau bahkan menjadi bagian dari desain politik jangka panjang Presiden Prabowo untuk memastikan komunikasi antara Istana, Gerindra dan parlemen berlangsung semakin efektif.
Semua itu masih berada dalam wilayah analisis, bukan fakta. Tetapi justru di situlah menariknya.
Sebab, jika hanya mengisi posisi wakil menteri yang kosong, itu adalah urusan administrasi dan kebutuhan organisasi pemerintahan.
Namun jika Sufmi Dasco Ahmad masuk Kabinet Merah Putih, maknanya jauh lebih dalam.
Itu akan menjadi sinyal bahwa Presiden Prabowo sedang melakukan sesuatu yang lebih besar: memperkuat langsung salah satu mata rantai paling penting dalam hubungan Presiden-Gerindra-DPR.
Dan bagi saya, itulah isu reshuffle yang layak dibicarakan. Bukan siapa yang keluar. Bukan siapa yang sekadar bergeser kursi.
Melainkan apakah Presiden Prabowo akan menarik salah satu orang paling strategis di lingkaran politiknya-Sufmi Dasco Ahmad-dari parlemen menuju kabinet.
Jika itu terjadi, reshuffle tersebut tidak lagi sekadar soal reshuffle kabinet.
Ia bisa menjadi reshuffle konfigurasi kekuasaan.
Dan itu jelas jauh lebih menarik untuk dicermati.*
Jakarta, 11 Agustus 2026
Artikel telah tayang di Kabariku.com
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini














