Sorot Merah Putih, Jakarta – Tragedi banjir bandang yang menenggelamkan wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini tak lagi dianggap sekadar bencana alam.
Dalam diskusi publik yang dihelat Poros Jakarta Raya di Kedai Tempo, Jakarta, para aktivis menyebut bencana itu sebagai “pesan keras” dari alam atas praktik ekonomi rakus yang mengabaikan kelestarian hutan dan kedaulatan negara.
Diskusi bertajuk “Darurat Kedaulatan dan Darurat Bencana Lingkungan di Indonesia” itu menghadirkan dua aktivis senior, Standarkia Latief dan Bob Rinaldi Randilawe, dengan moderator Teddy Wibisana.
Sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, dan aktivis turut bergabung menyuarakan keprihatinan yang sama.
Bencana Bukan Datang Tiba-Tiba: Ada Jejak Serakahnomic di Baliknya
Menurut Standarkia Latief, banjir besar yang menghancurkan rumah dan merenggut ratusan nyawa di Sumatera merupakan akibat dari kerusakan hutan yang berlangsung bertahun-tahun.
Standarkia menilai laju deforestasi semakin tak terkendali dalam satu dekade terakhir.
“Penggundulan hutan makin massif, bukan menurun. Ini puncak dari serakahnomic-ekonomi yang rakus tanpa perhitungan,” tegasnya. Jumat (5/12/2025).
Standarkia menilai kebijakan yang memberi ruang luas bagi korporasi, terutama melalui UU Omnibus Law, telah memudahkan eksploitasi sumber daya alam.
Ia menyebut hadirnya jutaan kubik kayu gelondongan yang hanyut ke pemukiman saat banjir sebagai bukti paling nyata kerusakan ekosistem.
Pemerintah pusat pun dinilai lamban dalam menetapkan status darurat bencana nasional karena terbentur masalah fiskal.
Di saat yang sama, BNPB melaporkan 865 korban meninggal, 463 orang hilang, dan lebih dari 836 ribu warga mengungsi.
“Ini tragedi yang meminta pertanggungjawaban politik, bukan sekadar empati,” ujar Standarkia.
IMIP Disorot: Kedaulatan Negara dalam Bahaya
Tidak hanya soal lingkungan, diskusi juga menyoroti dugaan pelanggaran kedaulatan negara di Bandara IMIP.
Standarkia menuding bandara itu beroperasi di luar akses imigrasi dan bea cukai, sehingga diduga menjadi pintu masuk tenaga kerja asing ilegal dan jalur penyelundupan nikel.
“Ini ancaman kedaulatan yang telanjang. Bandara tidak boleh menjadi tempat persembunyian penyelundup kekayaan alam kita,” desaknya.
Teddy Wibisana, sebagai pemrakarsa diskusi, menambahkan bahwa pertahanan bangsa tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada jaminan bahwa kekayaan alam tidak dirampok oleh pihak asing maupun oknum dalam negeri.
Bencana Ekologi yang Terstruktur: Kritik Tajam dari Bob Rinaldi
Aktivis lingkungan Bob Rinaldi Randilawe menyebut banjir bandang Sumatera sebagai bencana ekologi yang terstruktur akibat pola ekonomi rakus. Ia menyoroti pembalakan liar yang merambah hutan lindung dan daerah aliran sungai di sepanjang Bukit Barisan.
“Negara lain juga menebang hutan, tapi mereka melakukan pemulihan. Di sini, tebang satu, hilang seribu,” katanya.
Ia menilai berbagai relaksasi aturan dalam pemerintahan sebelumnya—termasuk pelonggaran proses Amdal—menjadi salah satu pemicu kerusakan lingkungan yang makin parah.
Bob menyerukan audit lingkungan nasional, penegakan hukum tanpa pandang bulu, serta moratorium pembalakan hutan di wilayah-wilayah kritis. Ia menekankan pentingnya melibatkan masyarakat sekitar hutan yang selama ini terpinggirkan.
Seruan Bersama: Akhiri Serakahnomic, Wujudkan Ekonomi Berkeadilan
Diskusi ditutup dengan pesan: Indonesia membutuhkan perubahan paradigma pembangunan. Para aktivis menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tak boleh lagi bertumpu pada eksploitasi alam tanpa batas.
“Menjaga hutan adalah menjaga masa depan bangsa,” ujar Teddy.
Para peserta mendorong pemerintah memperkuat tata kelola lingkungan, mengakhiri praktik serakahnomic, dan menegakkan kedaulatan negara atas sumber daya alam.
Banjir bandang di Sumatera, menurut mereka, bukan lagi sekadar musibah. Ia adalah tanda peringatan keras bahwa alam sedang menagih tanggung jawab manusia atas kerakusan yang telah berlangsung terlalu lama.***
Berita telah tayang di Kabariku.com
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp sorotmerahputih.com klik di sini















